Selain Estetika Visual, Arsitek Juga Harus Pikirkan Lingkungan

Sebagai seorang arsitek, bukan hanya estetika visual saja yang menjadi bahan pertimbangan ketika akan mendesain sebuah bangunan, tetapi juga kaitannya dengan lingkungan sekitar. Terutama yang berhubungan dengan saluran air serta pembuangan. Karena itu menjadi salah satu masalah yang krusial.

Tidak hanya untuk pembangunan sebuah hunian, tetapi juga ketika membangun kawasan tata kelola perkotaan untuk menciptakan peradaban lebih baik. Hal itu pun juga tidak terlepas dari campur tangan pemerintah itu sendiri. Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Cabang Malang Sahirwan mengatakan, ada beberapa syarat pemangku kepentingan (pemerintah) dalam mewujudkan kota yang tinggi peradabannya. Antara lain kompeten, komitmen, konsisten, kooperatif, dan keberanian bertindak benar.

Salah satunya bertujuan untuk menciptakan kota yang teratur. Dia menyampaikan, semrawutnya transportasi di kota tidak terlepas dari ruwetnya pembangunan kota. “Tidak jarang trotoar dijadikan tempat parkir. Itu kan mengganggu pengguna jalan,” ujarnya ketika mengisi materi di seminar arsitektur pada acara Bangun Indah Graha Exhibition, kemarin (30/5).

Pada acara yang digelar di lantai 1 Malang Town Square (Matos) itu, Sahirwan mengungkapkan, seorang arsitek juga ikut bertanggung jawab atas tata kelola sebuah kota. “Sebagai arsitek harus membuat pola-pola serta perencanaan yang matang. Harus tau secara detail data dari kawasan yang ingin dibangun,” ujar alumnus Universitas Brawijaya (UB) itu di depan puluhan mahasiswa dari beberapa universitas di Kota Malang.

Dia mengatakan, beberapa taman di Kota Malang ini sudah cukup bagus. “Bisa mewadahi kebutuhan para pejalan kaki. Namun desain serta penempatannya juga perlu pertimbangan. Jangan sampai justru menimbulkan permasalahan lingkungan, misalnya banjir,” kata dia.

 

Kupas Arsitek : Arsitek Nino Haris Wibisono (tengah) dan Pemred Radar Malang Abdul Muntholib (kanan) dalam seminar di Matos kemarin (30/5)

 

Sementara itu Ketua Kehormatan IAI Cabang Malang Nino Haris Wibisono menambahkan, arsitek tidak hanya berbicara tentang bangunan tunggal, tetapi juga lingkungan. “Kalau buat desain harus ramah lingkungan. Tentunya dengan tidak mengurangi estetika dan melupakan tingkat kesehatan penghuninya,” papar alumnus Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang itu.

Laki-laki yang juga arsitek dari Gedung Veteran di Batu itu menyampaikan, berdirinya sebuah bangunan seharusnya tidak mengganggu ekosistem. “Membangun yang baik, tidak merusak alam. Salah satunya dengan mempunyai resapan air,” kata dia. Tidak hanya untuk hunian, tetapi juga dalam lingkup tata kelola kota. Karena bisa menyebabkan banjir.

Dia mengatakan, sebuah taman setidaknya harus mempunyai penampung air hujan (rain garden). “Taman-taman di Malang rata-rata sudah mempunyai itu. Jadi ada pipa yang ditanam di bawah tanah, fungsinya untuk meresap air hujan,” terangnya. Dia menambahkan, dari sisi letak harus

Sementara untuk hunian, yang harus diperhatikan yakni saluran pembuangan. “Penempatan septic tank juga harus diperhatikan,” sambungnya. Pasalnya, di beberapa perumahan, terkadang septic tank ditempatkan berdekatan dengan tendon air. Hal itu bisa merugikan antar penghuni.

Dia menyampaikan, arsitek juga harus bisa mendesain utilitas kawasan perumahan yang berkonsep green (ramah lingkungan). “Jadi, sebelum mengerjakan, arsitek harus tahu data kawasan yang akan dibangun. Sehingga mengerti titik mana saja yang mungkin bisa berpengaruh terhadap lingkungan,” kata dia.

594 views