KOTA BATU – Petani bunga mawar di Kota Batu menuai berkah bulan ini. Pendapatan mereka meningkat dibandingkan sebelumnya. Ini karena banyaknya pernikahan. Warna-warni bunga mawar yang harum itu banyak dicari untuk dekorasi.

Ni’ayah, salah satu petani bunga mawar Dusun Kandangan, Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, mengatakan, memang ada peningkatan permintaan bunga pada bulan ini. ”Bulan lalu sepi, karena kan bulan Suro (bulan Muharram). Di Jawa, tidak ada yang menikah di bulan itu. Jadi, permintaan turun,” katanya kemarin (12/11).

Memasuki bulan November, permintaan bunga mawar kembali meningkat. ”Sekarang ini permintaan untuk ke Jakarta dan Bali yang cukup banyak,” kata dia.

Jika sebelumnya permintaan bunga mawar hanya 2.500 batang sekali kirim, kini bisa mencapai 10.000 batang. ”Kalau harganya berberbeda-beda, tergantung panjang dan pendek tangkainya,” jelas dia.

Untuk tangkai pendek, harganya Rp 1.500 per bunga. Untuk tangkai panjang bisa Rp 2.000 per bunga. ”Kualitas bunga juga dilihat. Kalau bagus dan tidak rusak, bisa lebih mahal lagi,” kata dia.

Sudah puluhan tahun Ni’ayah menjadi petani bunga mawar. Dia menanam beberapa jenis mawar. Seperti , berwarna putih tisu, putih apala, fanta, dan merah. Menurutnya, bertani bunga mawar cukup menguntungkan. Seperempat hektare lahan yang menjadi tempatnya menanam bunga mawar bisa menghasilkan 10 ribu tangkai dalam sekali panen.

Dari situ, dia bisa mendapatkan penghasilan kurang lebih Rp 3 juta. Bisanya, waktu panen bisa dua hari sekali. ”Namun, ya tidak sekali panen bisa dapat banyak seperti itu (10 ribu tangkai). Ya, yang penting masih untung saja,” tandasnya. (adk/c1/riq)