Dua lelaki bersenjata rotan seolah bertarung adu kesaktian di Desa Ngadas kemarin (13/9).

KABUPATEN – Inilah salah satu tradisi orisinal yang tersisa di Kabupaten Malang. Yakni, Hari Raya Karo. Ini merupakan puncak dari perayaan hari raya yang sudah turun-temurun digelar di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Kemarin (13/9), semua warga di desa yang memiliki ketinggian hampir 2.000 mdpl ini ikut merayakannya. Acara tersebut dipusatkan di lahan kosong dekat pemakaman umum. Terlihat ribuan warga, termasuk para wisatawan, tumplek blek menyaksikan rangkaian acara Hari Raya Karo. Hadir pula maestro tari Indonesia, yaitu Didik Nini Towok.

Kepala Desa Ngadas Mujianto menjelaskan, rangkaian Hari Raya Karo ini lumayan panjang, 15 hari. Diawali dengan acara Ping Pitu, yakni tradisi mengundang para arwah leluhur. Tradisi ini dilakukan oleh semua warga desa. Caranya, seorang dukun yang dipercaya oleh warga dengan mantra-mantra tertentu mengundang leluhur untuk ”pulang” ke rumah keluarganya. Karena itu, setiap rumah terpasang semacam dupa. Selama hampir dua minggu, warga Ngadas meyakini, arwah leluhur itu ”menginap” di sanak keluarganya.

Acara berikutnya disusul dengan prepekan. Itu merupakan tradisi makan bersama oleh seluruh warga di satu tempat lapang. Saat prepekan, dibuatkan tumpeng raksasa untuk dibagi ke semua warga yang hadir di lapangan. Ini bentuk simbol saling bersedekah ke para tetangga.

Menjelang acara puncak Hari Raya Karo, warga mengadakan acara yang disebut Sadrana. Yakni, upacara mengembalikan arwah leluhur ke alamnya kembali. Setelah dua minggu tinggal di rumah sanak keluarga, arwah itu harus dikembalikan lagi ke alam yang berbeda.

”Ini sudah menjadi keyakinan kami dan leluhur kami. Jadi, kalau ada warga yang menolak dengan adat kami, lebih baik keluar saja dari Ngadas ini,” terang Mujianto.

Nah, pada acara puncak Hari Raya Karo kemarin, ada satu acara yang cukup menyedot perhatian warga. Namanya Uujung-Ujung. Ini adalah tradisi semacam adu kesaktian para lelaki. Dua lelaki seolah sedang bertarung dengan menggunakan senjata rotan. Tradisi ini menjadi simbol sportivitas warga. Sebab, adat Ngadas melarang terjadinya perkelahian. Karena itu, ketika ada warga yang akan berkelahi, lebih baik dilakukan di panggung dengan disaksikan semua warga.

”Makanya di sini tidak pernah ada warga yang berkelahi,” tandas Mujianto.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Malang Made Arya Wedhantara menegaskan, banyak potensi adat dan budaya di Ngadas yang layak menjadi objek wisata. Selain rangkaian Hari Raya Karo, juga ada tradisi petekan (tes keperawanan) yang dilakukan setiap tiga bulan sekali.

”Jadi, banyak yang bisa kita jual untuk wisata di Ngadas ini,” puji Made di Ngadas kemarin.

Yang membuatnya bangga, warga Ngadas sudah cukup ramah wisata. Artinya, mereka begitu menghormati setiap tamu yang datang. Desanya juga cukup bersih, tertib, dan aman.

”Sehingga orang yang masuk ke Ngadas, saat pulang selalu membawa kesan. Inilah desa wisata yang benar itu,” tandas pria asal Bali ini.

Pewarta: Feni Yusnia
Penyunting: Abdul Muntholib
Copy Editor: Indah Setyowati
Foto: Falahi Mubarok