PONCOKUSUMO – Ujung-ujungan, istilah untuk ritual penutup Hari Raya Karo. Dimana ada dua orang yang digambarkan saling bermusuhan berkelahi dengan cara saling sabet menggunakan rotan.

Acara ini berlangsung selama satu hingga dua jam. Dengan peraturan tidak ada yang menang ataupun kalah, melainkan permainan akan berakhir saat salah satu atau keduanya merasa sudah cukup. Siapapun juga diperbolehkan untuk ikut.

Uniknya, karena alat yang digunakan adalah rotan, meskipun meninggalkan bekas memerah dipunggung selama bertahun-tahun, keduanya tidak menyimpan dendam.

Menurut salah satu panitia acara, Sampetono, tradisi ini bukan untuk saling mengkambinghitamkan, melainkan untuk mempererat tali persaudaraan agar terus hidup rukun. Disisi lain, juga sebagai hiburan warga sekitar dan para tamu.

“Adat ya, di Ngadas emang tidak ada orang berkelahi. Jadi kalau misalkan ingin berkelahi dipersilahkan di pentas. Mulai dari peralatan dan segala macem sudah disediakan panitia. Ada gamelan dan rotan juga,” ujar Sampetono

Hal ini juga diperjelas dengan tanggapan Kepala Desa Ngadas Mujianto. Menengok, sejarah ujung-ujungan yang diambil dari legenda “Aji Saka”. Menggambarkan kedua anak buahnya saling berebut untuk mengambil dan mengamankan senjata tuannya.

“Filosofinya, agar masyarakat itu rukun, kalau berkelahi itu ya pepatah mengatakan Kalah Jadi Arang, Menang Jadi Abu, sama-sama kebakar kan gitu, kayak anak buahnya Aji Saka. Pokoknya tidak ada orang berkelahi, disini semua hidup rukun,” jelas Mujianto.

Pewarta : Feni Yusnia
Penyunting: Lizya Oktavia
Foto : Feni Yusnia