KEPANJEN – Predikat wilayah rawan peredaran narkoba tampaknya tak mau hilang dari Kabupaten Malang. Hasil ungkap kasus dan jalannya persidangan narkoba pada awal tahun ini bisa jadi dasarnya. Dari data Satresnarkoba Polres Malang, mulai Januari hingga 7 Februari lalu peredaran sabu-sabu (SS) dan pil koplo tetap mendominasi. Untuk SS, tercatat ada 8 kasus yang sudah diungkap polisi. Barang bukti berupa 4,08 gram SS berhasil diamankan.

Wilayah pengungkapan kasus yang paling tinggi terletak di Kecamatan Lawang. Dari wilayah utara Kabupaten Malang tersebut polisi berhasil mengamankan 2,63 gram SS.

”Selain Kecamatan Lawang, Kecamatan Singosari dan Gondanglegi juga mendominasi sebagai daerah rawan peredaran narkoba,” terang Kasatresnarkoba Polres Malang AKP Moh. Safril.

Data lain yang juga ditunjukkan adalah pengungkapan kasus peredaran pil koplo. Total ada 7 kasus yang sudah diungkap dengan 3.253 butir pil koplo sebagai barang bukti bisa diamankan. Untuk peredaran jenis pil haram tersebut, Kecamatan Singosari jadi yang paling tinggi. Total ada 1.091 butir pil koplo yang diamankan dari sana.

Ketujuh kasus peredaran pil koplo yang berhasil diungkap itu sudah masuk meja hijau. 3 kasus diketahui sudah masuk agenda persidangan, sedangkan dua lainnya masih tahap proses melengkapi berkas.

”Jika nanti sudah sesuai dengan ketentuan, sidang dua kasus lainnya akan segera diagendakan,” sambung Humas Pengadilan Negeri (PN) Kepanjen Haga Sentosa Lase.

Terkait kasus peredaran SS, tercatat sudah 22 berkas yang masuk ke meja PN Kepanjen. Dari total itu, 20 kasus sudah masuk agenda persidangan. Jumlah tersebut lebih banyak dibandingkan pengungkapan polisi, lantaran PN Kepanjen juga memproses kasus-kasus yang telah diungkap tahun lalu.

”Hampir setiap tahun kasus narkoba yang kami tangani memang jumlahnya selalu tinggi,” sambung Haga, sapaan akrabnya.

Sebagai dasar, dia menunjukkan rekapitulasi tahun lalu. Kala itu, tercatat ada 78 kasus pil koplo yang disidangkan di PN Kepanjen. Sementara untuk kasus SS, ada 199 berkas yang masuk meja hijau. ”Jika dirata-rata, dalam sebulan ada 25 berkas narkoba yang masuk ke pengadilan,” katanya.

Melihat masih maraknya kasus peredaran narkoba, kriminolog dari UMM (Universitas Muhammadiyah Malang) Haris Thofly punya pandangan tersendiri. Menurutnya, hukuman pidana bagi para pengedar dan pengguna narkoba tidak terlalu menimbulkan efek jera. Sebab, banyak beberapa di antaranya yang menempuh jalur rehabilitasi. Tujuannya untuk menghindari hukuman penjara.

Haris mengusulkan agar tersangka yang tertangkap bisa ditahan di lapas khusus narkoba seperti yang ada di Madiun dan Pamekasan. ”Di sana (tahanan Madiun dan Pamekasan) mereka (terdakwa) mendapat pembinaan kemandirian dan kepribadian. Setelah bebas, mereka bisa hidup mandiri,” terang Haris.

Cara itu, menurutnya, efektif untuk menekan angka peredaran narkoba, karena tak sedikit tersangka narkoba yang sudah keluar dari penjara bakal mengulangi perbuatannya.

Pewarta : Ashaq Lupito
Penyunting : Bayu Mulya
Copy Editor : Arief Rohman
Foto: Darmono