Ribuan peserta The Malang Marathon 2018 berlari cepat dari garis start, Jalan Kertanegara, kemarin (29/7).

MALANG KOTA – Kemarin (29/7) menjadi hari bersejarah bagi dunia olahraga di Kota Malang. Sebanyak 2.050 pelari dari 12 negara beradu cepat dalam event The Malang Marathon (TMM) 2018. Event yang digelar Jawa Pos Radar Malang kerja bareng Komunitas Lari Malang Raya (Kolamara) tersebut start di Jalan Kertanegara, Kota Malang.

Pagi masih gelap, ribuan pelari sudah siaga di garis start, sambil menunggu aba-aba dari pejabat unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Malang. Sementara dari panggung, tampak beberapa pejabat penting memegang bendera untuk memberangkatkan peserta.

Di antaranya, Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Malang Sutiaji, Sekretaris Kota (Sekkota) Malang Wasto, Danrem 083/Baladhika Jaya Kolonel Inf Bagus Suryadi Tayo, Danlanal Malang Kolonel Laut (P) Nanang Hariono, Dandim 0833/Kota Malang Letkol Inf Nurul Yakin, dan Kapolres Malang Kota (Makota) AKBP Asfuri. Selain itu, juga hadir Kepala Cabang Bank Jatim Kota Malang Farid, Direktur Jawa Pos Radar Malang Kurniawan Muhammad, dan ketua panitia The Malang Marathon 2018 Paulus Oliver Yoesoef.

Selain beberapa tokoh tersebut, juga hadir Panglima Divisi Infanteri (Pangdivif) 2 Kostrad Mayjen TNI Marga Taufiq dan Danlanud Abd Saleh Marsma TNI Andi Wijaya. Namun, kedua perwira tinggi (Pati) TNI tersebut tidak naik ke panggung.

Saat bendera dikibarkan sebagai simbol pemberangkatan peserta, ribuan pelari dari berbagai suku dan negara itu langsung tancap gas. Mereka berlari cepat mengikuti rute yang sudah ditetapkan panitia, berdasarkan masing-masing kategori. Terdapat tiga kategori, yakni 5K (menempuh rute sepanjang 5 kilometer), 10K (10 kilometer), dan 21K (21 kilometer). Pada kategori 5K, Forkopimda Kota Malang dan Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemkot Malang turut memeriahkan gelaran The Malang Marathon 2018 hingga garis finis. Mereka mendapatkan medali kehormatan dari panitia.

Sementara itu, dalam sambutan sebelum memberangkatkan peserta, Plt Wali Kota Malang Sutiaji memotivasi peserta The Malang Marathon 2018. ”Salam satu jiwa… Arema. Salam satu jiwa… Indonesia,” teriak Sutiaji.

Wali kota terpilih itu juga memuji gelaran The Malang Marathon 2018. ”The Malang Marathon ini merupakan event lari yang luar biasa,” kata Sutiaji yang juga ikut lari dalam event tersebut.

Politikus Partai Demokrat itu menyambut antusias karena The Malang Marathon 2018 membawa semangat kebersamaan dan persatuan. Bukan hanya persatuan antarsuku di Indonesia. Tapi, juga persatuan pelari dari berbagai negara di dunia.

”Kita bisa berkumpul dengan pelari dari 12 negara, kita juga merupakan tuan rumah Asian Games. Karena itu, mari gelorakan semangat Merah Putih. Dari Malang untuk Indonesia, dari Malang untuk dunia,” teriak mantan anggota DPRD Kota Malang itu dengan penuh semangat.

Selanjutnya, Danrem 083/Baladhika Jaya Kolonel Inf Bagus Suryadi Tayo juga ikut menyemangati peserta.

”Selamat pagi, Runners. Sudah siap hadapi tantangan hari ini? Tetap sportif, mari kita lanjutkan lari bersama-sama,” kata perwira TNI dengan tiga melati di pundaknya itu.

Pantauan wartawan koran ini kemarin, gelaran The Malang Marathon 2018 berlangsung tertib. Meski ribuan peserta itu melintasi rute yang padat kendaraan, tapi tidak ada kemacetan. Sebab, pengaturan lalu lintas dilakukan secara profesional sehingga menegaskan bahwa event tersebut berkelas. Fasilitasnya juga tergolong mewah. Misalnya disediakan Water Station (WS) untuk rehidrasi (tidak kekurangan cairan) dari para peserta. Harapannya agar stamina tetap terjaga.

Sementara itu, semangat peserta ditunjukkan dengan berbagai kreasi. Misalnya, ada peserta yang mengenakan kostum unik. Di antaranya, kostum Spiderman, The Flash, dan pakaian Hanoman. Ada juga peserta yang mengenakan kostum tradisional. Seperti kebaya dan topi ala petani.

Di antara ribuan peserta tersebut, ada juga peserta tertua, yakni 79 tahun. ”Selama tiga puluh tahun terakhir ini, setiap hari saya rutin olahraga lari,” terang Tan Sungkono, peserta tertua asal Malang itu.

Meski usianya tidak muda lagi, tapi dia tetap tampak sehat. ”Dulunya, persendian dan bahu saya sempat sakit. Tapi setelah rajin lari, sudah tidak terasa sakit lagi,” terang pria kelahiran 17 Februari 1939 itu.

Pada rangkaian kegiatan marathon tersebut, pelari asal Kenya (Afrika Timur) begitu mendominasi untuk kategori 21 km atau half Marathon. Gilbert Ngenoh menjadi pelari tercepat untuk kategori 21K Open (pria) dengan catatan waktu 1 jam, 8 menit, 29 detik.

Pelari berusia 34 tahun itu juga menyambut positif diselenggarakannya event ini. ”Jika dibandingkan dengan marathon internasional yang pernah saya ikuti, acara ini diatur dengan baik. Mulai dari lalu lintas, water point, semuanya OK,” terangnya.

Dengan fasilitas dan sistem pengelolaannya, Gilbert menilai gelaran The Malang Marathon 2018 megah, mewah, dan berkelas. Event di tingkat kota, tapi berasa internasional.

Terpisah, ketua panitia The Malang Marathon 2018 Paulus Oliver Yoesoef menyatakan, pihaknya tidak menyangka acara ini berlangsung sukses. ”Dengan persiapan yang hanya lima bulan, kami bisa menghadirkan 2.050 peserta,” terangnya.

Karena banyaknya masyarakat yang berminat, pihaknya terpaksa membatasi jumlah pendaftar. ”Event ini mungkin baru pertama, tapi kami berencana akan menghadirkan event lari ini pada 2019,” tambahnya.

Dia mengungkapkan bahwa pada 2019, pihaknya akan mengadakan The Malang Marathon untuk kategori full marathon atau 42 kilometer. Paulus berharap, suksesnya gelaran event lari yang terukir tahun ini terulang lagi pada 2019.

”Untuk peserta tahun depan, kami target 3.000–3.500 orang,” imbuh pria kelahiran 20 Desember 1976 tersebut.

Pewarta: Gigih Mazda & Moh Badar
Penyunting: Mahmudan
Copy Editor: Dwi Lindawati
Foto: Rubianto