Ternyata Begini Alur Pembuatan Vaksi Difteri

Dirut PT Bio Farma Juliman menjelaskam vaksin yang diproduksi Bio Farma diakui dunia oleh organisasi kesehatan WHO. Juliman mengungkapkan rahasia produksi vaksin difteri dimulai dari bibit bakteri yang dikembangkan. Lalu saat sudah matang maka menghasilkan toksin.

“Nanti kami panen, racunnya kami matikan lalu diubah supaya tak membahayakan, proses itu disebut toksoid. Ini yang diberikan kepada manusia,” jelasnya dalam diskusi di Gedung Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jumat (12/1).

Toksoid kemudian harus dimurnikan untuk mengurangi risiko efek sampingnya. Serangkaian pengujian dilakukan untuk menjamin kualitas keamanan dan kemanjuran vaksin.

“Vaksin komponennya diisi kemudian diformulasikan sehingga prosesnya lumayan panjang 8 bulan. Tetapi jika ada permintaan stok banyak seperti kemarin, kami hanya tinggal mengembangkan saja,” kata Juliman.

Vaksin tersebut sudah digunakan di berbagai negara di dunia bahkan 50 di antaranya negara muslim. Dalam mendistribusikan, Bio Farma harus mengantongi izin Kementerian Kesehatan dan Badan POM. Karena kebutuhan vaksin di dalam negeri sedang dibutuhkan, maka ekspor vaksin pun ditunda.

“Kami tak mendahulukan ekspor. Kami menunda supply. Apalagi di dalam negeri sedang dibutuhkan mereka (luar negeri) memahami,” tandasnya.

Akhir tahun 2017, pemerintah melaksanakan ORI di tiga provinsi yakni Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat. Sedikitnya ada 20 provinsi yang ditetapkan dengan status KLB. Sejumlah pasien juga meninggal dunia karena kuman mematikan itu.


(ika/JPC)