Seorang warga binaan jadi model dadakan dengan busana unik berbahan daun kelapa.

MALANG KOTA – Berada di dalam tahanan tak membuat sejumlah warga binaan di Lapas Wanita Kelas II A Sukun ini ”mati gaya”. Sebaliknya, mereka justru merasa ”merdeka” karena bisa berekspresi dengan bergaya ala model profesional. Lihat saja, mereka berlenggak-lenggok di catwalk di dalam lorong lapas. Yang menarik, busana yang mereka pakai juga bukan bahan biasa. Tapi berbahan daun.

Ya, inilah keunikan dalam acara gala show untuk memperingati Hari Pemasyarakatan yang jatuh pada 27 April. Para model dadakan itu memakai busana dari bahan beragam daun.

Ada dari daun pisang, daun jagung, daun markisa, dan daun kelapa. Meski berbahan daun, tapi tetap kelihatan anggun. Busana tersebut dirajut bareng-bareng oleh para warga binaan antar blok tahanan selama belasan hari. Total ada lima blok yang berkompetisi membuat busana daun tersebut. Setelah jadi, masing-masing busana diperagakan sesama warga binaan dan disaksikan sekitar 600 rekannya.

Seolah model profesional, sembilan warga binaan memperagakan gaun itu di catwalk. Tak sedikit temannya yang menyoraki dan memberikan tepuk tangan. ”Lurus.. Lurus…,” teriak rekan tim yang menyoraki modelnya saat berjalan di karpet merah itu.

Kalapas Wanita Kelas II A Malang Anis Joeliati menyatakan, gaun tersebut merupakan hasil karya semua penghuni lapas, termasuk petugas. Masing-masing blok diminta untuk merangkai busana yang disiapkan untuk fashion show.

”Mereka sejak dulu senang dengan kegiatan seperti ini. Dan, kegiatan ini memang rangkaian dari Hari Pemasyarakatan 27 April,” ucapnya.

Mantan kepala Balai Pemasyarakatan Kelas 1 Jakarta Barat itu menyatakan, rancangan busana indah ini menjadi bukti pihaknya bisa membina warganya dengan baik. Kreasi dan inovasi para perempuan itu, imbuh dia, memberikan anggapan berbeda pada kehidupan di dalam tahanan.

”Sangat membanggakan, dan itu juga menjadi bukti mereka sudah menjadi lebih baik serta bisa diterima masyarakat saat pulang nanti,” imbuhnya.

Kegiatan-kegiatan seperti ini, Anis menyatakan, dapat menjadi bekal warga binaan saat kembali kepada masyarakat nantinya. Jika di tempat yang terbatas saja mereka bisa berkreasi, Anis yakin perempuan-perempuan itu juga bisa menunjukkan kreasinya dalam kehidupan bermasyarakat.

”Ini kan jadi sarana pendidikan dan pelatihan. Harapan kami mereka bisa sepenuhnya sadar atas kesalahan (yang mengakibatkan dipenjara, Red) dan tidak mengulang lagi di kemudian hari,” harapnya.

Anis juga mengungkapkan, untuk merancang gaun tersebut, warga dari 5 blok di lapas menghabiskan waktu sekitar 2 minggu. Lantaran, jahitan daun itu menurutnya tidak gampang. Jika ada yang sobek harus diganti dengan daun baru.

”Kalau bahannya kami carikan dari luar. Terpenting, mereka bisa menyalurkan kreasinya,” pungkas dia.

Pewarta: Fajrus Shiddiq
Penyunting: Abdul Muntholib
Copy Editor: Dwi Lindawati
Foto: Darmono