Hope 313 oleh Kurniawan Muhammad.

Di tengah-tengah ngobrol gayeng dengan Alim Mustofa terkait dengan pelaksanaan Pemilihan Wali Kota Malang (Pilwali) 2018, tiba-tiba Alim yang juga ketua Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kota Malang itu menghentikan pembicaraannya. Itu setelah secara tidak sengaja dia mengatakan, bahwa ngobrol dengan beberapa awak redaksi Radar Malang sangat asik. Begitu dia mengucapkan kata ”asik” dia langsung menghentikan obrolannya. Lalu buru-buru dia meralat. ”Maaf, saya keceplosan. Harusnya saya nggak boleh pakai kata asik,” katanya.

Kami yang semula tidak paham apa maksudnya, pada saat itu juga langsung paham. Karena kata ”asik” saat ini sangat kental dengan nuansa politik. Penyebabnya, kata ”Asik” dipakai sebagai slogannya pasangan calon (paslon) No 2: Mochamad Anton-Syamsul Mahmud. Asik merupakan singkatan dari: Anton-Syamsul, Inovatif dan Kreatif. Karena alasan inilah, ketika Alim secara tidak sengaja menggunakan kata ”asik” pada saat ngobrol dengan kami, dia langsung meralatnya. Dan menegaskan, bahwa dia tidak sengaja menggunakan kata ”asik”. Kami pun menyadari mengapa Alim harus menetralisasi dan mengklarifikasi soal dia menggunakan kata ”asik”. Maklum, Alim adalah salah satu anggota Panwaslu yang dituntut harus netral. Tidak boleh berpihak kepada salah satu paslon.

Dalam konteks Pilwali Malang, tidak hanya kata ”asik” saja yang harus dihindari untuk tidak diucapkan oleh Alim dan kawan-kawannya di Panwaslu. Kata ”menawan” dan ”sae” juga harus dihindari oleh Alim dan kawan-kawannya, untuk sementara waktu. Setidaknya sampai perhelatan Pilwali Malang selesai. Slogan ”Menawan” adalah milik paslon nomor urut 1: Ya’qud Ananda Gudban- Ahmad Wanedi. ”Menawan” merupakan singkatan dari: MEnangkan NAnda dan WANedi. Sedangkan slogan ”Sae” adalah milik paslon nomor urut 3: Sutiaji-Sofyan Edi Jarwoko…. Merupakan singkatan dari nama SutiAji dan Sofyan Edy Jarwoko.

Penggunaan slogan dan tagline dalam kampanye sah-sah saja. Salah satu tujuannya adalah menanamkan image atau membangun brand kepada publik dengan kesan yang positif, dan mudah diingat. Agar mudah diingat, biasanya slogan maupun tagline itu dibuat sangat singkat. Terdiri dari 1–3 kata.

Penggunaan slogan dan tagline dalam perhelatan politik merupakan adaptasi dari penggunaan slogan dan tagline di dunia industri. Tujuannya sama: Yakni sama-sama ingin menanamkan brand secara tepat dan mengena, dan mudah diingat. Dan kalau kita lihat, brand-brand yang sangat terkenal dalam dunia industri, rata-rata memang sangat mengena, berkesan, dan mudah diingat. Contohnya, slogan milik Telkomsel: ”Begitu Dekat, Begitu Nyata”. Rinso: ”Membersihkan Paling Bersih”. A Mild: ”Bukan Basa Basi”. Djarum 76: ”Yang Penting Hepi”. Honda: ”The Power of Dreams”. Toyota: ”Moving Forward”. Daihatsu: ”Innovation For Tomorrow”. Yamaha: ”Semakin di Depan”. Dan lain-lain, dan lain-lain.

Jika kita amati satu per satu slogan di atas, maka setidaknya ada tiga catatan. Pertama, slogan harus bisa menjadi identitas dari produk yang ditawarkan. Selanjutnya, identitas itulah yang akan melekat pada brand. Tujuannya, begitu publik melihat dan membaca slogan itu, maka mereka akan langsung bisa menangkap pesan yang disampaikan melalui brand dan identitas produk.

Kedua, slogan-slogan itu kebanyakan diambil atau diadopsi dari bahasa sehari-hari. Bukan bahasa yang tergolong sulit. Kalaupun menggunakan bahasa Inggris, sengaja dipilih kata-kata yang gampang, dan diasumsikan sangat mudah dimengerti artinya. Ini bertujuan, agar slogan itu menyatu dengan keseharian masyarakat. Begitu sudah menyatu dengan keseharian masyarakat, maka diharapkan ”pesan” yang disampaikan brand akan sangat mudah diterima oleh masyarakat, atau konsumen. Ketiga, slogan dibikin tidak ada yang panjang. Maksimal empat kata. Ini bertujuan agar slogan itu mudah diingat.

Nah, marilah kita lihat slogan dari para paslon. Mulai dari ”Menawan”, ”Asik”, dan ”Sae”. Apakah slogan-slogan itu sudah mencerminkan identitas dari ketiga paslon itu? Adakah slogan yang ”terkesan” dipaksakan? Dan yang paling akhir, slogan yang mana yang kelak terbanyak menarik perhatian masyarakat pemilih di Kota Malang? Silakan Anda berpendapat. Pendapat bisa dikirim ke e-mail yang tertulis di tulisan ini. Pendapat terbaik akan diberikan hadiah berupa smartphone. Monggo berpartisipasi!!! (kritik dan saran: ibnuisrofam@gmail.com/IG: kum_jp)

Oleh: Kurniawan Muhammad – Magister Ilmu Politik FISIP Unair