Kepala sekolah (kasek) memiliki peran penting dalam menumbuhkan kreativitas di sekolah. Seperti yang dilakukan Arif Joko Suryadi, kepala SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen, yang getol mendorong siswanya berkarya. Hasilnya, penghargaan bidang multimedia tingkat nasional pun berhasil diraih.

RUANG guru yang terletak di dekat gerbang masuk SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen tampak sepi siang kemarin (12/9). Maklum saja, saat Jawa Pos Radar Kanjuruhan berkunjung, kegiatan belajar mengajar (KBM) sedang berlangsung. Tak lama berselang, kepala SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen Arif Joko Suryadi terlihat baru keluar dari ruang kelas. Sambil mempersilakan masuk, pria berkacamata itu menaruh tas jinjing di meja kerjanya. ”Sebentar Mas, ini tadi baru selesai mengajar. Silakan duduk dulu, sambil dilanjutkan mengobrolnya,” katanya.

Ya, sekolah yang dipimpin Arif baru saja mendapatkan penghargaan dari Indonesia Development Achievement Foundation (IDAF). Apresiasi level nasional dalam kategori Leading Creative Vocational School In The Best Multimedia Program of The Year 2017 itu diberikan akhir Agustus lalu di Surabaya. Menurut Arif, penghargaan didapatkan karena sekolahnya dianggap aktif membuat karya multimedia.

Mulai dari video klip, film dokumenter, hingga film pendek. Belum lagi beberapa film karya siswanya yang mampu menjuarai berbagai festival film. ”Kami juga tidak tahu kalau setiap karya kami ternyata dinilai. Sempat kaget juga ketika dihubungi untuk menerima penghargaan,” terangnya.

Memang selama ini pihaknya tidak pernah mendaftarkan diri atau mengikuti ajang penjurian. Namun, proses penjurian dilihat dari seberapa banyak karya sekolah yang dipublikasikan lewat internet dan aktivitas dalam festival. ”Memang setiap karya siswa selalu kami publish lewat YouTube. Ada juga yang diikutkan lomba dan dikonsumsi sendiri,” kata bapak dua anak tersebut.

Konsistensi membuahkan karya menjadi kunci keberhasilannya. Meskipun, itu bukan hal yang mudah karena setiap angkatan memiliki kemampuan yang berbeda. Apalagi sekolahnya tidak hanya fokus pada jurusan multimedia. Namun, ada juga jurusan lain yang perlu diperhatikan. ”Setiap tiga tahun, siswanya selalu ganti. Jadi, tidak mudah membinannya. Apalagi setiap anak punya potensi yang berbeda,” katanya.

Namun, kasek kelahiran 28 Oktober 1976 ini punya strategi agar lebih banyak siswa terlibat dalam pembuatan karya. Yakni, dengan melibatkan siswa antarjurusan agar bisa menghasilkan karya kolaborasi. Misalnya, untuk siswa jurusan broadcasting fokus pada hal teknis. Sementara jurusan lainnya bisa menjadi pemain atau kru produksi. Dengan begitu, mereka saling bahu-membahu untuk membuat karya. ”Setiap kali membuat karya, itu jadi karya bersama karena semua terlibat. Ini yang menjadi kelebihannya. Siswa juga makin semangat,” terangnya.

Menurut dia, capaian prestasi itu akan makin membuat siswa dan guru kian bersemangat berkarya. Bahkan, pihaknya sudah bersiap melakukan kerja sama dengan perusahaan kreatif di bidang perfilman. Tujuannya untuk meningkatkan peluang karya siswanya bisa diakses oleh banyak pihak. Sebab, industri multimedia saat ini sedang berkembang. ”Semuanya sudah serbadigital, konten multimedia sudah makin sering dinikmati. Ini bisa jadi peluang untuk berkarya,” tandasnya.

Pewarta : Hafis Iqbal
Penyunting : Ahmad Yani
Copy Editor : Indah Setyowati
Fotografer : Hafis Iqbal