KABUPATEN – Ini mungkin menjadi modus penipuan baru di Malang Raya. Yakni, menawarkan program untuk menjadi agen elpiji 3 kilogram dengan harga sangat murah. Dari Pertamina diberi harga Rp 9.600, lalu agen bisa menjualnya Rp 15 ribu per tabung. Namun, ada syarat yang harus dipenuhi calon agen, yakni mengisi blangko berkop Pertamina dan membayar Rp 2,5 juta plus biaya administrasi Rp 100 ribu.

Modus itulah yang dilakukan Eko Selamet Riadi, 60, warga Desa Sitirejo, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang. Terdata dia telah menggaet sekitar 25 warga Wagir untuk menjadi calon agen.

Mereka rata-rata telah membeli beberapa blangko dengan setor uang, ada yang Rp 8 juta, Rp 13 juta, hingga Rp 15 juta. Mereka percaya Eko Selamet karena dia juga mengenalkan diri kepada warga sebagai mantan ajudan (alm) KH Hasyim Muzadi, mantan ketua PB NU. Jadi, warga yang mayoritas kader Nahdliyin di Wagir itu pun langsung percaya. Apalagi tawaran yang diberikan Eko Selamet itu cukup menggiurkan. Ditambah lagi, Eko mengaku jika istrinya merupakan karyawan Pertamina di Surabaya.

Tak hanya itu, kepada warga, Eko Selamet juga menyatakan dirinya sedang siap-siap jadi bakal calon legislatif (bacaleg) Kabupaten Malang pada 2018. Bahkan, dia berani berjanji kepada warga jika dirinya menjadi anggota dewan, semua gaji dan tunjangan akan diberikan kepada warga. Warga pun kian yakin.

Nah, modus penipuan ini terkuak setelah hampir tiga bulan (Juli–September), elpiji yang dijanjikan itu tak kunjung dikirim. Para calon agen itu pun mulai resah sehingga mereka mulai melacak kebenaran identitas Eko Selamet.

Ternyata, dia hanya mengontrak di Wagir. Sementara soal klaim dirinya pernah menjadi ajudan (alm) KH Hasyim Muzadi, itu tidaklah benar. Sebab, warga yang menjadi calon agen elipiji itu sudah kroscek ke keluarga pendiri Pesantren Mahasiswa Al Hikam tersebut. Bahkan, juga konfirmasi ke pengurus PC NU Kota Malang. Hasilnya, tidak ada nama Eko Selamet sebagai ajudan KH Hasyim Muzadi. Dia juga tidak punya istri yang kerja di Pertamina.

Untuk memastikan jika Eko punya istri bernama Delfi yang bekerja sebagai direktur keuangan di Pertamina Surabaya, perwakilan calon agen elpiji pun mendatangi rumah Delfi di Surabaya. Ternyata, Delfi bukanlah istri Eko, tapi anak kandungnya dan tidak bekerja di Pertamina.

Setelah sejumlah kejanggalan terkuak, para calon agen elpiji melabrak Eko Selamet di rumah kontrakannya. Ketika didesak soal kapan pengiriman elpijinya, Eko masih bisa berkelit. Dia minta agar warga bersabar.

Bahkan, dia meminta kepada warga yang sudah setor uang, kalau ingin elpijinya bisa cepat dikirim, harus ada tambahan uang Rp 50 juta. Agar jumlah elpiji yang dikirim bertambah banyak sehingga biaya akomodasi semakin ringan. Rupanya para calon agen elpiji sudah tidak sabar. Pada 2 September lalu, akhirnya mereka melaporkannya ke Polres Malang dengan tuduhan penipuan.

Subakir, 48, warga Desa Petungsewu, Wagir, salah satu korban, menyatakan, awalnya dia kenal dengan Eko saat bulan Ramadan lalu. Sepulang rapat Banser di Wagir, dia mencari makan sahur di warung kawasan Kacuk, Kecamatan Sukun.

Di situlah, dia bertemu dengan Eko yang waktu itu mengaku sebagai ketua LSM Semar. Dalam pertemuan singkat itu, Eko mengenalkan diri sebagai mantan ajudan (alm) KH Hasyim Muzadi. Dia juga sedang mencari agen-agen untuk distribusi elpiji. Singkat cerita, Subakir pun tergiur. Di beberapa hari berikutnya, Subakir mengumpulkan sejumlah warga untuk mendengarkan presentasi dari Eko.

”Dia kemudian sering menemui saya untuk menggaet massa,” kata pria yang juga komandan Banser Wagir ini.

Bakir menambahkan, saat berkumpul dengan warga, Eko banyak mengobral janji. Termasuk akan mendanai salah satu organisasi masyarakat jika dirinya berhasil menjadi anggota DPRD Kabupaten Malang. Bakir pun tergiur sehingga mengambil dua blangko Pertamina dengan membayar Rp 5 juta plus Rp 200 ribu untuk administrasi. Bahkan, saat Eko meminta tambahan uang agar elpiji cepat dikirim, dia bersama warga lain hampir setuju. Namun, setelah diketahui sedang kena tipu, mereka sepakat melaporkannya ke Polres Malang.

H.M. Nahruji, warga Gondanglegi, saksi sekaligus korban lainnya, menambahkan, dia curiga menjadi korban penipuan karena Eko selalu berbelit-belit saat ditanya soal pengiriman elpiji. Nahruji juga ikut ngecek ke rumah Delfi yang disebut sebagai anak dari Eko di Surabaya.

Dari situlah, akhirnya Nahruji sangat yakin jika aksi Eko itu merupakan modus penipuan. Dia meminta kepada Eko agar uangnya dikembalikan.

”Saya masih ingat hari Jumat, tepat Idul Adha, saya tagih ke rumahnya di Perum Suramadu, Wagir, saya minta uang Rp 5 juta agar dikembalikan,” terang pria yang juga pengusaha ini.

Saat itu, imbuh Nahruji, Eko tidak sanggup mengembalikannya. Dia hanya akan memberi uang ganti rugi sebesar Rp 2 juta. Bahkan, Eko juga mau menyerahkan satu unit mobil. Namun, ternyata mobil tersebut hasil sewa. Sehingga oleh Nahruji, ganti rugi itu ditolaknya hingga dilaporkan ke polres.

”Saya tidak terima karena dia membawa nama NU (mengaku pengurus NU dan ajudan almarhum KH Hasyim Muzadi),” ucapnya.

Pewarta: Fajrus Shiddiq & Ashaq Lupito
Penyunting: Abdul Muntholib
Copy Editor: Dwi Lindawati
Grafis: Yudho Asmoro