Jika kita mencari alamat maupun tempat-tempat penting menggunakan aplikasi Google Maps, di aplikasi itu akan ditunjukkan dengan mudah. Itu semua berkat jasa local guide. Nah, di Malang, salah satu local guide yang aktif memasukkan data ke Google Maps tersebut adalah Mutiah Abdat. Karena keaktifannya, dia dipilih perusahaan Google untuk belajar secara gratis ke Amerika Serikat.

Mutiah Abdat menunjukkan levelnya sebagai local guide (pemandu lokal) di aplikasi Google Maps kepada koran ini kemarin (12/9). Dia menyatakan, levelnya sudah 7 dari level tertinggi 10. Lalu, apa itu local guide?

Dia menjelaskan, local guide adalah orang yang aktif memberikan informasi mengenai suatu lokasi di aplikasi Maps (peta) yang ada di Google. Informasi yang diberikan adalah bisa berupa ulasan, rating, foto, informasi nomor telepon, dan lain-lainnya. ”Di Malang, saya merupakan satu-satunya yang terpilih bertemu local guide dari seluruh dunia di Amerika Serikat,” ujar gadis kelahiran Malang, 29 September 1994 itu.

Dia menceritakan, pada 2015 lalu, dia mulai aktif sebagai local guide. ”Waktu itu belum ketahuan siapa saja local guide yang ada di Malang. Saya akhirnya nyari satu per satu di Maps dan saya hubungi langsung,” ujar anak bungsu dari empat bersaudara ini.

Setelah berhasil terhubung dengan local guide lainnya, dia lalu menginisiasi komunitas Malang Local Guides pada 2015. Sekarang anggotanya sudah mencapai sekitar 150-an orang. Saat ini, dia juga aktif berkegiatan bersama Local Guide Connect, forum bentukan perusahaan Google yang menghubungkan semua local guide di Indonesia.

Sejak saat itulah, dia mengaku semakin aktif menyediakan informasi melalui aplikasi Maps. Jadi, oleh perusahaan Google, orang-orang tersebut dinamakan local guide yang berperan sebagai kontributor resmi untuk Google Maps. ”Siapa saja bisa menjadi local guide. Namun, tidak semua orang bisa mencapai level tinggi, bergantung keaktifannya,” jelas Mutiah.

Mutiah menyatakan, dia adalah local guide asal Malang yang sudah dua tahun belakangan ini aktif memberikan informasi terbaru dari tempat-tempat yang sudah dia kunjungi. Saking rajinnya, dia lolos seleksi untuk mengikuti pertemuan para pemandu lokal sedunia di kantor Google di San Francisco, California, Amerika Serikat, Oktober 2017.

Dia berhasil menyisihkan sekitar 200.000 pendaftar dari Indonesia untuk berpartisipasi di ajang yang bertajuk Local Guides Summit 2017 tersebut. Menurut Mutiah, sebenarnya cara mendaftarnya cukup mudah. Hanya dengan membuat sebuah video yang berisi perkenalan serta alasan mengapa ingin ikut di pertemuan tersebut. Meskipun begitu, perusahaan Google pusat hanya memilih orang-orang tertentu yang sudah terbukti kiprahnya sebagai local guide. ”Saya nggak nyangka bisa lolos karena awal-awal menjadi local guide itu cuma iseng,” ungkapnya.

Menurut dia, aktivitas pertamanya sebagai local guide pada 2015. Waktu itu dia iseng memberikan ulasan di aplikasi Maps tentang gerai es krim Confetti yang baru dia kunjungi. Setelah itu, ternyata dia mendapat e-mail dari Google yang berisi tawaran, apakah dia mau menjadi local guide? ”Setelah mendapat e-mail, ya saya coba. Pada waktu itu masih awal-awal ada local guide di aplikasi Maps, jadi belum banyak yang tahu,” kata gadis berusia 22 tahun ini.

Setelah mengiyakan ikut bergabung, dia semakin rajin memberikan kontribusi di Maps. ”Saya harus aktif mengecek. Kalau ada tempat yang pindah misalnya, kita harus langsung memberi catatan di aplikasi itu,” ujarnya.

Dalam Maps, setiap kontribusi seperti berupa foto, rating, maupun ulasan akan mendapatkan poin. Poin-poin itu menentukan level seseorang sebagai local guide. Misalnya, sekali kita mengunggah foto di suatu lokasi, nilainya 5 poin. Sekarang, poin Mutiah sudah mencapai 6.596 poin dan berada di level 7 dari rentang level 1–10. Inilah yang membuat dia dianggap layak menjadi salah satu dari lima perwakilan dari Indonesia yang berangkat ke Amerika Serikat.

Saat menerima pengumuman diterima belajar di Amerika Serikat pada 11 Mei lalu, tanpa berpikir panjang Mutiah langsung menyiapkan keberangkatannya. Namun, prosesnya tidak semulus yang dia bayangkan. ”Orang tua saya sempat nggak memberikan izin, khawatir karena jauh sekali perginya. Satu minggu saya nunggu keputusan, boleh berangkat apa nggak ya?” katanya.

Karena kalau tidak mendapat izin, kesempatan belajar langsung secara gratis di kantor Google itu pun hilang. Pada akhirnya, dia diizinkan pergi belajar ke AS, tapi dengan syarat kakak pertamanya harus ikut menemaninya. Setelah mengantongi izin, dia langsung mengurus visa Amerika.

”Untung semua prosesnya lancar. Karena kalau nggak di-approve visanya, sia-sia mendaftar dengan biaya Rp 2,1 juta,” ujar alumnus SMAN 4 Bogor ini.

Meski akomodasi dan tiket pesawat pergi pulang (pp) sudah ditanggung semua oleh Google, Mutiah tetap aktif mencari dukungan dari mana saja. Salah satunya dari Dinas Pariwisata Kota Malang. ”Semuanya sangat mendukung, kemarin dari dinas pariwisata dikasih suvenir patung penari topeng Malangan untuk dibawa ke sana. Sekalian untuk mengenalkan ciri khas Malang,” ujarnya.

Pewarta : Tabita Makitan
Penyunting : Kholid Amrullah
Copy Editor : Dwi Lindawati
Fotografer : Mutiah