Usia tak menjadi penghalang bagi Hendung Tunggal Djati untuk terus berkarya di bidang seni lukis. Di tengah kesibukan mengajar, Hendung masih terus berkarya. Bahkan, dia pernah menghasilkan 33 karya lukis selama satu bulan.

 Hendung–panggilan akrab Hendung Tunggal Djati–usianya memang tak muda lagi. Warga Jalan Pattimura, Kelurahan Temas, Kota Batu, ini berusia 56 tahun. Meski begitu, dia tetap terlihat energik. Gaya bicaranya ceplas-ceplos penuh dengan guyonan.

Suasana itu terlihat saat Hendung berkumpul dengan anak-anak didiknya di SMPN 2 Kota Batu. Saat ditanya muridnya terkait keberadaan salah satu guru, dia menunjukkan keakraban dengan menjawabnya sambil bergurau. ”Yo dicari, Rek. Masak tak kesak (Ya dicari. Masak dimasukkan ke saku),” kata dia sembari tersenyum.

Hendung yang mengajar mata pelajaran seni rupa di SMPN 2 Kota Batu ini memang terlihat akrab dengan anak-anak didiknya meskipun belum lama mengajar di sekolah tersebut. Dia tercatat baru satu tahun menjadi tenaga pengajar di SMPN 2. ”Dulu sebelumnya saya ngajar di SMPN 3 Kota Batu,” kata dia.

Hendung yang mengajar seni rupa selama 34 tahun atau sejak 1983 ini dikenal menguasai dua jenis aliran lukisan. Yaitu, lukisan abstrak dan realis. ”Ya, bergantung lagi mau buat karya apa. Pokoknya harus merdeka,” beber pria kelahiran 22 Oktober 1960 ini.

Karena sudah puluhan tahun itulah, sudah ada ratusan karya yang dia hasilkan. Karyanya tak bisa terhitung lagi karena sebagian sudah dibeli. ”Ada yang dibeli Pak Wali Kota Batu (Eddy Rumpoko) hingga dikoleksi orang Belanda,” ungkap dia.

Media yang dipakai Hendung memang tidak melulu di kain kanvas. Dia dikenal sebagai pelukis segala media. Selain melukis di kain kanvas, Hendung juga biasa melukis di media kayu. Papan kayu yang sering dia pakai untuk melukis yaitu papan tripleks.

Hendung memang sudah lama mengajar di bidang seni lukis. Kegiatan itu dia lakoni sejak lulus Program Diploma Dua (D-2) dari Universitas Negeri Malang (UM) atau dulu disebut IKIP Malang. ”Dulu saya tidak pernah bercita-cita menjadi guru. Tapi, karena ada ikatan harus mengajar, akhirnya saya menjadi guru,” bebernya.

Meskipun memiliki kesibukan mengajar dalam keseharian, Hendung tetap menghidupkan jiwa seninya. Dia terus berkarya secara konsisten. Dalam satu bulan, setidaknya ada 1–2 karya yang dia hasilkan. Namun, bagi dia, membuat karya bukanlah kewajiban, bergantung dari kondisi jiwa. ”Karena kalau seniman mengejar untuk berkarya nanti bukan karya seni lagi jadinya, tapi lebih kepada mengejar materi,” tuturnya.

Nah, pernah suatu ketika dia ditantang memamerkan karya dalam bentuk pameran tunggal. ”Waktu itu ditantang sama pelukis senior di Kota Malang, Harry Budi (Yoyok),” kata bapak tiga anak ini.

Mendapat tawaran itu, Hendung sempat berpikir tujuannya untuk apa. Tapi, setelah dihitung-hitung tidak memerlukan biaya banyak, dia pun setuju.

Hendung pun menggelar pameran tunggal selama satu minggu pada Agustus 2017. Dari 33 lukisan yang dia hasilkan, 23 karya dipilih untuk pameran tunggal di Dewan Kesenian Malang (DKM) Kota Malang. Tema yang diangkat adalah No Limit The Solo Show of Hendung Tunggal Djati. ”Karya yang saya buat baru semua,” jelas suami dari Yuliani ini.

Semua karya itu, Hendung menambahkan, dibuat selama bulan puasa. Dia biasa melukis mulai dari berbuka puasa hingga waktu Sahur tiba. ”Hampir setiap hari melekan di rumah waktu itu (untuk melukis),” imbuhnya.

Pewarta : Bahrul Marzuki
Penyunting : Ahmad Yahya
Copy Editor : Dwi Lindawati
Fotografer : Darmono