MALANG KOTA – Sudah hampir empat pekan lamanya umat Islam melaksanakan ibadah puasa di bulan suci Ramadan tahun ini. Namun, mungkin tak semuanya paham bahwa selain dimensi ibadah, puasa juga punya manfaat untuk tubuh dan pikiran.

Dokter Rumah Sakit Islam Universitas Islam Malang (RSI Unisma) dr V H Pratomo menyatakan bahwa ketika berpuasa, pola konsumsi seseorang cenderung teratur. Tidak ugal-ugalan.

Kondisinya berbeda ketika sedang tidak menjalankan ibadah puasa. ”Ada yang kurang dari sejam (makan, Red), sudah makan berat lagi,” ujar Pratomo.

Dia menjelaskan, proses penyerapan nutrisi makanan sebenarnya cukup panjang. Makanan yang diserap tubuh masuk ke liver dan dicacah oleh enzim dalam tubuh.

”Makan secukupnya, biar liver mudah memproses makanan. Kalau banyak, kerja liver menjadi berat,” tambah pria berusia 69 tahun ini. Kerja liver bertambah berat ketika makanan yang mengandung zat-zat yang kurang baik untuk tubuh.

Pratomo mengibaratkan liver seperti mesin pabrik gula. Seperti diketahui, pabrik gula tidak terus menerus menggiling tebu. ”Pabrik gula itu menggiling tebu selama enam bulan, lalu berhenti dulu untuk dirawat mesinnya,” tambah ayah tiga anak ini.

Liver dan anggota tubuh lainnya pun sama dengan pabrik gula. Sama-sama butuh istirahat. Puasa menjadi salah satu cara untuk mengistirahatkan organ tubuh.

”Di dalam perut, ada beberapa sumber penyakit yang berbahaya, harus di-detox,” tambah pria yang pernah menjabat sebagai direktur RSI ini.

Lebih lanjut, Pratomo menyatakan, puasa memiliki beberapa tahap stadium. Pertama, fase berat berlangsung pada lima hari pertama puasa. Tanda-tandanya adalah tekanan darah dan gula darah turun.

Kondisi itu membuat seseorang yang menjalankan ibadah puasa merasa lemas. ”Kalau puasa di awal fase jangan mengurangi aktivitas, tetap saja dipertahankan,” ujar Pratomo. Sebab, ketika aktivitas dikurangi, rasa lemas itu semakin tinggi.

Stadium kedua, tubuh sudah terbiasa dengan pola puasa. Di sini, usus dan sel pencernaan bisa istirahat dan mulai meregenerasi.

”Istilahnya, tubuh memperbaiki sel-sel dan mengeluarkan racun dalam tubuh,” tambahnya. Ini terjadi antara hari keenam puasa hingga hari kesepuluh puasa.

Pada stadium ketiga, detoksifikasi tidak lagi dilakukan tubuh. Namun, pikiran akan terdetoksifikasi dengan puasa.

”Daya konsentrasi, memori meningkat, sementara detoksifikasi berjalan, perasaan bahagia bisa muncul sendirinya,” tambah pria yang tinggal di daerah Tlogomas ini.

Kemudian, 10 hari terakhir puasa, menjadi momen terpenting bagi tubuh untuk meregenerasi sel. Sel-sel dalam tubuh sudah diremajakan dengan sempurna.

”Ketika tuntas puasa 30 hari, wajah jadi berseri-seri karena sel tubuh dan pikiran sudah diregenerasi dengan sempurna,” ujarnya.

Selain itu, selama puasa masyarakat disibukkan dengan peningkatan ibadah. ”Ibadah itu bisa membuat jiwa lebih tenang, lebih segar,” tambah Pratomo.

Pewarta: Sandra Desi
Penyunting: Indra Mufarendra
Copy Editor: Arief Rohman
Foto: Darmono