Jika Markonah, 32, menerapkan falsafah ”makan nggak makan asal kumpul”, mungkin warga Kecamatan Sukun itu tidak akan kehilangan suaminya. Anak semata wayang hasil pernikahannya dengan Markucel, 33, warga Kecamatan Kedungkandang, ini bakal tetap mempunyai ayah.

Tapi, nasib berkata lain. Berawal dari kerelaan Markonah ditinggal merantau suaminya, kini Markucel menjadi Bang Toyib. Sejak berangkat merantau pada 2014 lalu, hingga kini Markucel tidak pernah kembali. Selama empat kali puasa dan empat kali Lebaran, Markucel tidak pernah memberi kabar. Juga tidak pernah mengirimkan uang untuk kebutuhan sehari-hari untuk Markonah dan anaknya.

Selama ditinggal Markucel, Markonah haus segala-galanya. Haus materi karena tidak mendapatkan jatah belanja, juga haus belaian lelaki. Saat pasangan suami istri (pasutri) lain bisa menikmati malam Jumat dengan ber-hohohihe, Markonah yang jablai (jarang dibelai) hanya bisa haaaa (menangis).

Untuk mengendalikan nafsu birahinya, dia mengisi dengan beragam kesibukan. Misalnya mengantarkan anaknya ke sekolah, kumpul dengan ibu-ibu tetangga, hingga ngobrol ngalor-ngidul tidak jelas. Namun, usaha itu tidak selalu berhasil. Apalagi saat ada tetangganya yang iseng dengan menceritakan kejantanan suaminya masing-masing, Markonah tambah tidak kuat.

Meski sudah memiliki satu anak, sebenarnya Markonah bisa saja berselingkuh dengan pria lain. Maklum, Markonah termasuk mama muda yang seksi. Banyak duren (duda keren) yang menggodanya, tapi dia tidak menanggapinya. Markonah takut dosa.

Tak ingin terus-terusan menjablai, Markonah mengajukan gugatan cerai kepada Markucel. Gugatan itu dilayangkan di Pengadilan Agama (PA) Kota Malang pertengahan Januari 2018. ”Daripada terus-terusan tanpa suami, mending cerai saja,” kata Markonah saat ditemui di kantor PA Kota Malang beberapa waktu lalu. Setelah diputus cerai oleh pengadilan, Markonah akan bebas menjalani hubungan dengan siapa saja, termasuk dengan duren yang sering menggodanya. (nr1/c2/dan)