Pianto Sutanto, Bertahan dengan Membuat Kerajinan Pahat Lain

MENYUSURI lorong gang-gang di kawasan Pecinan Semarang, Anda akan menemui pemandangan berbagai bangunan tua yang dihuni oleh warga keturunan Tionghoa. Hampir setiap aktivitas di kawasan tersebut memiliki kisah panjang, dan seperti tak ada habisnya untuk dikupas. 

Salah satunya jika singgah di sebuah bangunan tua di Jalan Gambiran Nomor 25, Kelurahan Kranggan, Semarang Tengah. Hingga sekarang, saat berkunjung pada jam kerja, akan tampak aktivitas sejumlah pemahat batu alam.  Namanya Hok Tjoan Hoo. Satu-satunya usaha kerajinan pahat batu alam yang khusus mengerjakan Bongpay atau batu nisan ukir. Belum ada catatan resmi yang menjelaskan sejak kapan Hok Tjoan Hoo berdiri. Bahkan generasi pewarisnya tidak mengetahui persis usaha tersebut berdiri sejak kapan. Namun diperkirakan Hok Tjoan Hoo telah berdiri ratusan tahun. 

“Usaha ini turun-temurun, sudah ratusan tahun. Saya generasi kelima. Ini kebudayaan nenek moyang Tionghoa. Saya berusaha menjaga seni pahat batu nisan jangan sampai hilang,” kata penerus Hok Tjoan Hoo, Pianto Sutanto atau Tan Hay Ping saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang, belum lama ini.

Dikatakan Pianto, seni pahat batu nisan atau Bongpay juga menjadi bagian tradisi masyarakat Tionghoa yang nyaris punah. Sebab, generasi muda sekarang jarang ada yang tertarik mendalaminya. Padahal, menurut dia, seni pahat Bongpay ini menyimpan filosofi kehidupan yang layak dilestarikan.  “Saat ini, jenazah orang Tionghoa kan ada yang diperabukan. Kalau semua diperabukan lalu dilarung di laut, selesai. Otomatis kebudayaan itu telah hilang,” tandasnya. 

Menyemayamkan jenazah dan diberikan tanda batu nisan termasuk menjaga tradisi kebudayaan masyarakat Tionghoa. “Ada tradisi menjenguk almarhum orang tua atau leluhur, istilahnya Cheng Beng,” terangnya. 

Pianto menjelaskan, Cheng Beng adalah tradisi ziarah kubur leluhur China dengan sembahyang sesuai dengan ajaran Khonghucu. “Kebudayaan itu jangan sampai hilang. Batu nisan itu memang digunakan sebagai tempat untuk menuliskan silsilah. Orang tua, anak, cucu, buyut dan seterusnya. Generasi penerusnya kalau ingin melihat silsilah bisa melihat batu nisan,” katanya.

Perkembangan penggunaan batu nisan Bongpay, lanjut dia, sayangnya sekarang ini ada kesan terjadi monopoli oleh pihak tertentu. “Jadi, ada pihak tertentu yang memborong untuk penyediaan batu nisan. Makanya agar bisa bertahan untuk menggaji pekerja, saya berinovasi untuk membuat kerajinan pahat lain. Misalnya, cowek dari batu, patung singa, patung malaikat, dan hiasan pahat lainnya,” ujarnya. 

Diceritakan, usaha kerajinan pahat batu nisan tersebut dirintis oleh kakek buyutnya bernama Tan Hian Gik. “Kalau saya melihat prasasti di Kelenteng Gang Lombok, pada 1911 tercatat telah memberikan bantuan di sana. Jadi, saya rasa usianya lebih tua dari tahun itu. Kalau dihitung dari tahun itu saja, sekarang usianya sudah 107 tahun,” bebernya. 

Generasi kedua adalah Tan Gie Sing, dilanjut Hartono Sutanto. Kerajinan pahat batu tersebut merupakan warisan turun-temurun yang berkembang secara alami. Sebab, tidak ada pelatihan khusus ataupun proses regenerasi.  “Dulu saya hanya sering melihat ayah saya memahat batu, lambat laun saya bisa sendiri. Bahkan generasi setelah saya saja belum tentu ada yang melanjutkan. Saya tidak bisa memaksa anak saya. Belajar pahat batu nisan ini harus kesadaran dan kemauan anak itu sendiri. Kalau dipaksa pasti gagal,” katanya. 

Bongpay, dalam tradisi budaya Tionghoa bertujuan sebagai ‘tetenger’ atau tanda supaya makam tidak keliru. Bongpay terdapat dua simbol, yakni Liong (Laki-laki) dan Hong (perempuan). Di sisi samping Bongpay memuat simbol yang menceritakan anak berbakti 24 kebaikan kepada orang tua. “Kalau di sini, digambarkan yang satu membawakan beras, yang satu membawakan ikan. Walaupun orang tua sudah meninggal, namanya anak harus tetap mengingat kebaikan,” jelasnya. 

Saat ini, ia dibantu tiga pekerja untuk mengerjakan Bongpay pesanan dan membuat produk kerajinan batu. Bahan batu alam yang digunakan berasal dari hasil penambangan di daerah Getasan Salatiga, Makassar, Purwakarta, Godean Jogja, dan Majalengka Jabar. “Kalau tetap terjadi monopoli, mau nggak mau bisnis kerajinan pahat batu nisan akan mati. Khusus batu alam, ini satu-satunya di Kota Semarang,” klaimnya. 

(sm/amu/ida/JPR)