Rika Wijayanti, atlet paralayang asal Kota Batu, ini berhasil mengharumkan nama Indonesia dalam event Paragliding Accuracy World Cup (PGAWC) 2017 di Pegunungan Vrsac, Serbia, Eropa, pada 21–23 September 2017.

Rika Wijayanti melambungkan nama Kota Batu di kancah internasional dengan menjadi juara dunia kategori wanita dalam kompetisi Paragliding Accuracy World Cup (PGAWC) 2017. Rika mengumpulkan poin maksimal dari empat seri yang digelar. Seri pertama digelar di Indonesia, dia mendapat 3 poin. Lalu, pada seri kedua di Vrsac, Serbia, Eropa, dia meraih nilai maksimal dan berhasil menjadi juara I (6 poin).

Lantas, pada seri ketiga di Sant-Mount Pierre, Kanada, dia juga berhasil meraih 3 poin. Dan pada seri keempat atau seri terakhir di Slovenia yang berlangsung akhir September 2017, Rika kembali meraih juara I (6 poin). Jadi, jika nilainya ditotal dari keempat seri tersebut, dia menjadi juara umumnya.

”Saya menjadi yang terbaik di PGAWC Slovenia dalam kategori atlet wanita. Tentu saya merasa sangat senang karena meraih gelar juara dunia 2017. Tahun depan, saya bakal ikut lagi,” katanya kepada wartawan koran ini di GOR Gajah Mada, Kota Batu, Jumat lalu (13/10).

Gadis kelahiran 8 September 1994 ini menyatakan, pada PGAWC, pesertanya adalah para atlet pilihan. Ada sekitar 100 atlet yang mewakili negara masing-masing. Para atlet tersebut semuanya bertalenta dan memiliki skill yang bagus dalam terbang dan pendaratan paralayang.

Saat tampil di Slovenia, Rika menemui tantangan berat saat merebutkan juara dunia untuk olahraga paralayang. Menurut alumnus SDN Songgokerto 2 Kota Batu itu, dia harus melawan dinginnya udara. Apalagi di negara tersebut terkenal dengan Gunung Triglav sebagai puncak tertinggi dengan hawa yang sangat dingin. Yaitu, bersuhu sekitar 7 derajat Celsius.

Bertarung dengan suhu mencapai 7 derajat Celcius, menurut dia, itu sangatlah berat. Beda dengan suhu di Asia yang tidak sedingin itu. Berlomba di kawasan Eropa Timur, Rika dan atlet Indonesia lainnya benar-benar mendapat ujian mental akibat kerap batal terbang disebabkan kecepatan angin mencapai 30 km/jam di lokasi takeoff (lepas landas).

Namun, saat bertanding di Slovenia, dia sangat yakin dan tetap fokus bisa menyelesaikan kompetisi itu dengan baik. ”Yang utama fokus, santai, dan berdoa,” kata remaja yang hobi makan bakso ini. Hasilnya memang tidak mengecewakan karena dia menjadi juara.

Dia mengakui hasil pembinaan mental dari sang kakak yang membuatnya bisa fokus sejak ronde awal bertanding di Serbia. ”Kami hanya memiliki kesempatan berlatih sehari sebelum kejuaraan, itu pun ketika pagi hari saja. Saya selalu menganggap setiap ronde adalah ronde terakhir,” ungkapnya.

Rika juga menambahkan, mengingat angin yang cenderung kencang di sore hari, dia berusaha mencapai nilai tertinggi di ronde awal. Strategi Rika itu terbukti jitu. Di saat ”pilot-pilot” lain yang sudah sangat akrab dengan pegunungan Vrsac belum merasa panas, Rika sudah memberikan efek kejut dengan meraih 3 poin. ”Nah, begitu ronde kedua tidak bisa dilanjutkan, nilainya tak terkejar oleh pilot-pilot unggulan lainnya,” papar dia.

Alhasil, hingga saat ini sudah ratusan medali dan piala dari turnamen paralayang yang dia koleksi. Beberapa kota pernah dia singgahi untuk bertanding dalam olahraga paralayang. Misalnya di Bogor, Jawa Barat; Kemuning, Jawa Tengah; Manado, Sulawesi Utara; Sumedang, Jawa Barat; Painan, Sumatera Barat; Lombok, Nusa Tenggara; dan Palu, Sulawesi Tengah. Rika juga telah menjajal lokasi paralayang terbaik di luar negeri. Seperti di Thailand, Malaysia, Albania, Serbia, Kanada, hingga Slovenia.

Meskipun menjuarai berbagai turnamen dan event bergengsi, Rika tidak berhenti belajar. Dia mengaku akan terus memacu semangatnya dan terbang tinggi guna meraih prestasi yang terbaik di udara untuk olahraga paralayang.

Rika menyatakan, dia bakal kembali beradu dengan para atlet internasional dari 18 negara dalam event Asian Game 2018. Venue-nya di Puncak Bogor, Jawa Barat. Rika menjadi wakil dari Indonesia dan juga kota kelahirannya, Kota Batu. ”Doakan saya menjadi yang terbaik dan bisa mengharumkan nama Kota Batu dan Indonesia di Asian Games 2018,” harap Rika.

Ditanya soal kecintaannya terhadap olahraga paralayang, alumnus SMP Muhammadiyah 8 Kota Batu ini lalu bercerita, dia jatuh hati pada dunia paralayang saat berusia 16 tahun. Waktu itu, dia masih duduk di bangku kelas 2 SMK 17 Agustus Kota Batu. Saat itu sepulang sekolah, dia melihat atlet maupun wisatawan tengah asyik terbang paralayang di langit Kota Batu.

Saat itu, dia melihat langsung dari atap rumahnya. Lokasi rumahnya tidak jauh dari Gunung Banyak sebagai titik takeoff paralayang. Rika pun penasaran dan ingin mencobanya. Lalu, dia mendatangi tempat tandem paralayang yang termasuk di Kelurahan Songgokerto, Kota Batu.

Kebetulan sang kakak, Joni Efendi, juga seorang atlet nasional paralayang. Remaja yang berzodiak virgo ini memberanikan diri mencoba permainan paralayang agar bisa mengobati rasa penasaran. Belajar paralayang bersama kakaknya membuat Rika jatuh hati pada olahraga ini. Cita-cita menjadi pegawai bank pun dia kubur. Sebab, dia ingin menggeluti dunia paralayang. Setelah itu, sang kakak dengan tekun mengajari dia groundlanding (menarik parasut saat pendaratan).

Selain itu, Rika diajari lari dengan membawa serta mengembangkan parasut. Juga mengontrol arah kanan kiri pada handel. Kemudian dia dikenalkan pada arah angin saat menggunakan canopy. ”Saat terbang, parasut melawan arah angin. Hal itu dilakukan agar anteng (stabil) parasutnya,” kata atlet yang juga termasuk atlet Timnas RI ini.

Namanya belajar, tentu Rika juga pernah mengalami kecelakaan. Dia pernah jatuh dari ketinggian delapan meter. Juga  pernah terjatuh karena saat terbang kebanyakan menahan canopy. Jadi, saat ada angin kencang membentur keras pada parasutnya, canopy-nya terlipat. Rika pun jatuh dan mengakibatkan dislokasi pada tulang tangan kirinya. ”Ngerem terlalu kencang, yo lugur (jatuh). Tangan dislokasi,” kenangnya.

Anak kedua dari dua bersaudara pasangan Dul Ali dan Bawon ini mengungkapkan, meski jatuh bangun, tidak membuatnya berhenti belajar olahraga ekstrem tersebut. Apalagi orang tuanya terus mendukung dan memberikan motivasi agar terus belajar lebih keras lagi. Teori demi teori dia praktikkan dengan sabar dan tekun. Dengan banyak latihan, dia semakin optimistis meraih banyak prestasi.

Pewarta : Dwiyan Setya
Penyunting : Kholid Amrullah
Copy Editor : Dwi Lindawati
Fotografer : Ike Ayu Wulandari for Radar Malang