Wali Kota Malang Moch. Anton saat menandatangani perjanjian kinerja tahun 2018 disaksikan Wakil Wali Kota Malang Sutiaji (kiri) dan Kepala BP2D Ir Ade Herawnto di Savana Hotel & Convention (15/1).

MALANG KOTA – Pendapatan dari pajak hiburan di Kota Malang selama ini dinilai kurang maksimal. Khususnya dari sektor karaoke. Nah, karena itulah ada wacana kalau pemandu lagu atau ladies companion (LC) akan dikenakan lagi oleh Badan Pelayanan Pajak Daerah (BP2D) Kota Malang.

Usai rapat paripurna DPRD Kota Malang tentang penyampaian jawaban wali kota atas pandangan umum fraksi kemarin (13/2), Kepala BP2D Kota Malang Ade Herawanto membenarkan wacana tersebut. ”Daerah lain ada itu (pajak LC). Tentunya akan menambah peningkatan sektor ekonomi,” kata pria yang juga pendiri d’Kross ini.

Dari sektor tersebut, Pemkot Malang diprediksi pemasukan bakal sedikit tambahan. Apalagi, menurut Ade, ada 21 tempat karaoke yang menjadi wajib pajak. Karena itulah pendapatan dari LC ini dinilai sangat membantu. ”Nanti kami susun aturannya,” imbuhnya.

Diberitakan www.jawapos.com, di Jakarta, LC juga dikenai pajak oleh Pemprov DKI Jakarta. Bahkan, LC hotel fenomenal seperti Alexis disebut-sebut dikenai pajak hingga 25 persen. Meski begitu, Pemkot Malang, kata dia, tidak akan berlaku ”kejam” terhadap LC. ”Nanti kemungkinan 15 persen pajaknya,” ujarnya.

Untuk diketahui, selama ini keberadaan LC di Kota Malang memang tidak terkena pajak. Di tempat hiburan, yang dikenai pajak hanyalah makanan dan minuman. Sementara, pemasukan yang didapatkan dari LC tidak ada yang dilaporkan sebagai pajak.

Di lain pihak, terkait wacana itu, sejumlah tempat hiburan malam melakukan penolakan. Assisten Direktur My Place Mohamad Nasik mengatakan, dana LC dan operasionalnya saat ini sudah pas-pasan. Dia menegaskan kalau pengusaha tidak banyak ambil untung dari LC-nya. ”Kalau dihitung-hitung, kami tidak ambil keuntungan dari mereka,” ujarnya.

Menurut dia, LC hanya sebagai pembantu penjualan makanan dan minuman. LC hanyalah stimulus agar pengunjung betah dan bisa menambah makanan dan minumannya. Untuk sharing fee-nya, yang didapatkan cukup besar, yakni 75 persen. ”25 persennya untuk transportasi, penginapan, dan makannya,” tuturnya.

Dia mencontohkan, dari Rp 450 ribu pemasukan per 3 jam, Rp 350 ribu masuk ke kantong LC. Sementara sisanya untuk maintenance costumer. ”Mereka bukan yang primer di tempat hiburan. Hanya untuk menaikkan daya jual,” tandasnya.

Pewarta : Fajrus Shiddiq
Penyunting : Irham Thoriq
Copy Editor : Arief Rohman