Paulus Yoesoep sukses menjadi ketua panitia The Malang Marathon yang pertama.

Kota Malang membuat sejarah kemarin (29/7). Event The Malang Marathon 2018 sukses digelar untuk kali pertama. Di balik suksesnya acara ini, ada andil yang luar biasa dari ketua panitia, yakni Paulus Oliver Yoesoef. Butuh waktu lima bulan untuk mempersiapkan acara ini. Seperti apa perjuangannya?

Siang belum beranjak pergi kemarin (29/7). Suasana riuh masih tersisa dari gelaran lari bertaraf internasional The Malang Marathon (TMM) 2018 di depan Balai Kota Malang. Para peserta memang telah bubar, tapi ketua panitia TMM 2018 Paulus Oliver Yoesoef masih terlihat sibuk berkoordinasi dengan sejumlah panitia.

Terlihat rasa lega dari wajah pria yang selalu tenang, tapi energik ini. Ya, perjuangannya selama lima bulan itu terbalas lunas. Kesuksesan The Malang Marathon membuat dia bungah bukan kepalang. Meskipun sebenarnya dia harus merogoh kocek pribadi dari gelaran yang diikuti sekitar 2.050 peserta ini. Tapi, sebagaimana kata orang bijak, kebahagiaan tidak bisa diukur dengan uang.

”Sebenarnya saya tidak terlalu mempersoalkannya karena tujuannya memang bukan itu (masalah uang),” imbuh pria berusia 41 tahun ini. Dia menjelaskan bahwa tujuan utamanya adalah untuk rasa senang dan puas telah menyukseskan acara tersebut.

Awalnya dia mengaku ”sungkan” untuk berbicara berapa jumlah nominal yang telah dikeluarkan, tapi akhirnya dia buka kartu.

”Sebenarnya tidak enak, tapi mungkin biaya yang dikeluarkan mendekati angka satu miliar rupiah,” imbuh pria yang juga pemilik tiga hotel di Malang ini, yakni De’Corner Suite Guest House, De’Boutique Style Hotel, dan De’Lobby Suite Hotel tersebut.

Dia menjelaskan bahwa uang yang berhasil terkumpul dari peserta dan sponsor belum bisa meng-cover acara tersebut. ”Kalaupun semua ditotal, jumlahnya masih minus,” ujarnya sembari tertawa.

Namun, dia mengaku puas dengan suksesnya acara tersebut. ”Meski keluar banyak dana, tapi telah terbayar dengan suksesnya acara tersebut,” tambah bapak dua anak itu.

Menyukseskan acara tersebut memang membutuhkan pengorbanan dan melalui berbagai macam tantangan. Bahkan, pekerjaan-pekerjaan hariannya juga terbengkalai.

”Bahkan, saya harus meninggalkan pekerjaan sebagai notaris,” imbuh ketua Komunitas Lari Malang Raya (Kolamara) ini.

Selain harus cuti sementara sebagai notaris, dia juga menyerahkan kepengurusan hotel untuk sementara kepada istrinya. ”Itu karena saya juga harus menemui banyak instansi dan juga mengadakan banyak rapat,” imbuh ketua Komunitas Pete Sport Community ini.

Selain itu, waktu untuk keluarga juga banyak tersita. Bagaimana tidak, hampir setiap hari dia baru sampai di rumah pukul 21.00, atau bahkan pukul 22.00.

”Kemudian saya olahraga pukul 05.00, sedangkan pukul 8.00 sudah masuk kerja. Waktu berkumpul dengan keluarga menjadi sedikit,” tambahnya.

Paulus menuturkan bahwa waktu yang dia persiapkan cukup singkat untuk menggelar acara tersebut. ”Kami hanya memiliki waktu 5 bulan, tapi kami berhasil mendatangkan 2.050 peserta,” terangnya.

Dia menjelaskan bahwa waktu ideal untuk mempersiapkan perlombaan di tingkat internasional tersebut kurang lebih 10 bulan.

Tak hanya itu, event ini juga hanya dilakukan belasan orang. ”Kami panitia juga hanya sedikit, mungkin sekitar 15 orang,” terangnya.

Paulus menjelaskan, untuk menjamin mulusnya acara tersebut, dia menyewa race management dan event organizer (EO) yang memang sudah berkompeten menyelenggarakan acara tersebut.

Dia menuturkan bahwa hal paling sulit untuk menggelar acara tersebut adalah pada proses koordinasi antarinstansi, seperti dari Pemkot Malang, kepolisian, dinas perhubungan, satpol PP, dan Jawa Pos Radar Malang sebagai media partner.

”Kalau izinnya sudah dapat, tapi koordinasinya agar menjadi satu itu yang sulit,” imbuh alumnus magister dari Universitas Airlangga ini.

Dia menjelaskan bahwa susahnya adalah pada proses pengaturan lalu lintas. ”Karena harus menutup jalan dan penentuan rute yang sering menjadi kendala,” terangnya.

Bahkan, dia juga sempat ketir-ketir ketika ada acara yang saling menumpuk, di mana rute telah difinalisasi.

”Ternyata di Universitas Negeri Malang (UM) mengadakan wisuda. Tapi, untung kami masih bisa berkoordinasi lagi,” imbuhnya.

Selain itu, sehari sebelumnya, di Jalan Simpang Balapan juga mengadakan acara Festival Dawai Nusantara yang harus menutup jalan.

”Saya sempat khawatir, tapi beruntung semuanya sudah terlewati dengan baik,” imbuh alumnus S-1 Fakultas Hukum Universitas Surabaya (Ubaya) tersebut.

Dia juga menuturkan bahwa event ini juga banyak belajar dari berbagai event marathon serupa di luar negeri. ”Saya banyak ikut event di luar negeri, jadi saya ingin terapkan itu di sini (Malang),” tambahnya.

Meski sudah mengeluarkan banyak uang dan tenaga, dia mengaku masih belum kapok. ”Harapannya, tahun depan kami juga akan mengadakan full marathon (42 km),” tambah pria berusia 41 tahun itu.

Dia beranggapan bahwa yang paling penting adalah kepuasan terhadap acara itu. ”Sebab, saya menilai bahwa Kota Malang memiliki banyak potensi,” ucap pria yang akrab disapa Ko Poy ini.

Menurut dia, dengan adanya event bertaraf internasional ini, bisa menambah kunjungan wisatawan yang otomatis bakal mendongkrak perekonomian masyarakat di Malang Raya.

Selama ini, Ko Poy memang seorang penggemar olahraga lari. Sejumlah event sudah dia ikuti. Kali pertama dia ikut event yaitu 2,5 tahun lalu, yakni Cleo Run 10K. Setelah itu, dia ketagihan ikut event lagi. Event-event di dalam negeri dan luar negeri sudah dia ikuti. Di antaranya, event di Lombok, Surabaya, Jakarta, Bali, Jogjakarta, Singapura, dan Hongkong. Dalam waktu dekat, dia berencana mengikuti Jepang Marathon dan Berlin Marathon yang tersohor itu.

Dari pengalamannya mengikuti marathon itu, rupanya Ko Poy ingin menyelenggarakan hal serupa di Kota Malang. Mimpi itu akhirnya sukses diwujudkan. Bahkan, event-event ini disebut-sebut sudah menyamai Tokyo Marathon. Selamat, Ko Poy.

Pewarta: Gigih Mazda
Penyunting: Irham Thoriq
Copy Editor: Dwi Lindawati
Foto: Darmono