Meraih nilai 100 pada mata pelajaran Bahasa Indonesia saat UNBK serasa mimpi bagi Avida Imatus Solikhah. Warga Jalan Wukir Gang VII Blok A, Kelurahan Temas, Kota Batu, ini sama sekali tidak menyangka bakal mendapatkan nilai sempurna. Dia mengaku tidak pernah mematok target harus mendapat nilai sempurna pada mata pelajaran tersebut.
Avida hanya khawatir nilai UNBK-nya bakal jeblok. Karena itu, dia benar-benar tidak menyangka salah satu mata pelajarannya mendapatkan nilai 100. ”Benar-benar tidak menyangka. Sebenarnya, saat melihat nilai itu, saya fokus ke nilai Fisika, karena takut nilainya jelek,” ungkap perempuan 17 tahun itu saat ditemui di situs sejarah Makam Dinger di Desa Tulungrejo kemarin (13/5).
Rupanya, ketika mengamati nilai, siswi Jurusan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) ini mendapati salah satu mata pelajarannya mendapatkan nilai 100. Yakni, mata pelajaran yang tidak begitu disukainya, Bahasa Indonesia. Meski tidak menyangkanya, dia tetap senang.
Mata pelajaran Bahasa Indonesia memang bukan pelajaran favorit Avida. Karena itu, dia mempelajari mata pelajaran tersebut sama rata dengan mata pelajaran lainnya. Hanya saja, dia memang senang membaca novel. Menurutnya, karena kegemarannya membaca novel itu membuatnya secara tak sengaja mempelajari banyak kosakata baru, dan hal itu justru membantunya menguasai materi Bahasa Indonesia.
Avida memang tergolong remaja yang gemar membaca novel. Kemana pun dia pergi, di dalam tasnya pasti terdapat sebuah novel. Saat ini pun dia sedang berusaha merampungkan novel berjudul Hyponic Killer karya Eko Hartono.
Selain suka baca novel, Avida juga tergolong rajin belajar. Dia tak pernah melewatkan tugas dari sekolah. Baik ulangan harian atau pekerjaan rumah (PR). Hanya saja, untuk kegiatan membaca, intensitasnya lebih banyak tertuju pada novel. ”Malahan, baca novelnya yang sering, karena penasaran dengan ceritanya,” ungkap dia.
Saat ini Avida sudah menamatkan puluhan novel. Dia mulai gemar membaca novel sejak masih duduk di bangku SMP. Novel-novel yang dibacanya pun beragam. Di antaranya, karya-karya Ilana Tan, Tere Liye, dan karya Eko Hartono. ”Sebagian besar, novel itu saya pinjam di perpustakaan sekolah,” ungkap dia.
Meskipun demikian, sebenarnya Avida sudah membiasakan diri mempelajari lebih dulu materi-materi di buku pelajaran. Bahkan, soal-soal di buku paket itu dia kerjakan hingga tuntas. Dengan strategi inilah pelajaran mudah dia kuasai.
Ketika ditanya tentang dunia kepenulisan, Avida mengaku tak berniat menjadi penulis meskipun mendapatkan nilai bagus dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Dia justru mengungkapkan ingin menjadi seorang insinyur. ”Saya ingin bekerja di bidang teknik industri,” tegas anak dari Imam Harfendi dan Suparti ini.
Untuk mewujudkan impiannya itu, dia berharap bisa bisa diterima di Universitas Brawijaya (UB) dan Politeknik Negeri Malang (Polinema). Untuk pilihan di UB, dia mengambil jurusan Teknik Industri, Teknologi Bioproses dan Teknik Pangan. Sedangkan, di Polinema, ada 3 jurusan yang menjadi pertimbangannya, yakni Jurusan Teknologi Kimia Energi, Teknik Informatika, dan Teknik Kimia. (*/c1/yak)