Dibutuhkan ketelitian untuk mampu menghasilkan senapan angin berkualitas tinggi. Sebagai salah satu perajin, Joko Wahyudi terbilang andal. Usahanya yang mulai dirintis 2013 lalu itu pun kini banjir pesanan.

Saat ditemui Jawa Pos Radar Kanjuruhan Sabtu lalu (7/10), rutinitas Joko Wahyudi tak berbeda jauh dengan hari-hari biasanya. Dia masih sibuk merakit senapan angin di sebuah ruangan khusus berukuran 3×5 meter. Tepatnya, di Desa Senggreng, Kecamatan Sumberpucung.

Di ruangan yang dia istilahkan dengan ruang produksi itulah puluhan variasi senapan angin tersaji. ”Biasanya yang pesan para petani, digunakan untuk membasmi hama. Ada juga pesanan dari para pemburu yang biasanya sering ikut lomba menembak,” jelas pria kelahiran 1983 ini. Joko, sapaan akrabnya, menghasilkan dua jenis senapan angin. Senapan angin jenis gejluk dan uklik.

Secara umum, tidak ada perbedaan signifikan dari dua jenis senapan karyanya itu. Keduanya sama-sama berkaliber 4,5 milimeter (mm). ”Senapan angin dengan kaliber ini masih tergolong aman untuk diproduksi maupun dipasarkan,” imbuhnya. Spesifikasi dari senapanlah yang membuat kedua jenis ini berbeda.

Pengguna senapan angin jenis uklik harus lebih telaten dalam memompa angin. Untuk melepaskan satu peluru dengan jarak 20 hingga 35 meter, pengguna harus memompa 5–6 kali. Sementara spesifikasi yang lebih tinggi tersaji untuk senapan angin jenis gejluk. Untuk melontarkan peluru sebanyak 15–20 kali, hanya cukup sekali pompa.

Jarak akurasi tembakannya juga lebih bagus. Berkisar antara 40–60 meter. Bahkan, bisa mencapai jarak 100 meter. Itu bergantung jenis peluru yang digunakan. Dalam membuat senapan angin, Joko sangat memperhatikan kualitas.  Bahan baku yang menjadi pilihannya ialah besi kuningan. Sebab, bahan baku itu bisa menampung tekanan maksimal sebesar 2.000 psi (pound per square inch). Jumlah tekanan itu mampu menambah daya dorong perluru. Sebab, kekuatan pompa angin hanya mampu menampung tekanan maksimal 1.300 psi.

”Saya membuat senapan sendiri, tanpa dibantu karyawan. Jadi, saya bisa mengontrol langsung kualitas senapan saya,” tambahnya. Selama ini, Joko hanya memasarkan produknya dari mulut ke mulut. Meski begitu, senapan angin produknya bisa laku keras. Ada beberapa konsumennya yang merasa terkesan sehingga mem-posting ke media sosial (medsos). Hal ini membuat senapan angin buatannya makin dikenal.

”Malang Raya, luar kota, maupun luar provinsi sering memesan kepada saya,” terang pria yang saat ini genap berusia 34 tahun ini. Harga yang dibanderolnya relatif lebih terjangkau. Untuk senapan jenis uklik, dibanderol antara Rp 800 ribu hingga Rp 1,25 juta. Sementara untuk senapan jenis gejluk dibanderol antara Rp 1,25 juta  hingga Rp 2,5 juta. Bergantung pada kualitas setiap senapan.

Kecintaan Joko terhadap senapan angin sudah dimulai ketika dia duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar. Kala itu, dia sudah sering ikut berburu bersama tetangganya. Ketika duduk di bangku SMP, dia mulai belajar menggunakan senapan angin. Merasa penasaran, dia mulai membongkar senapan angin miliknya. Dia mempelajari setiap inci dari bagian senapan angin.

Hasilnya, dia mulai bisa merakit senapan miliknya dengan menggunakan timah. ”Selama ini saya tidak ada yang membimbing, jadi ya belajar otodidak cara merakit senapan angin yang berkualitas,” kata Joko lantas tertawa. Bakatnya itu pun membuat dia sering ditawari pekerjaan oleh perusahaan senapan angin. Namun, dia lebih memilih merintis usahanya sendiri yang mulai dijalankan sejak 2013 itu.

Setahun setelah membuka usahanya, pemasaran produknya baru dilakukan di tahun 2014. Hasilnya, dalam sebulan, dia bisa meraup keuntungan bersih sekitar Rp 3 juta. Angka itu terbilang tinggi. Karena untuk modal awal, Joko sudah menghabiskan modal sekitar Rp 1,6 juta. ”Dalam sebulan, hanya bisa memproduksi sekitar empat produk senapan angin,” pungkasnya.

Pewarta : Ashaq Lupito
Penyunting : Bayu Mulya
Copy Editor : Indah Setyowati
Fotografer : Falahi Mubarok