Suasana SDN 2 Ngabab, Pujon, Rabu (5/10) sekitar pukul 10.00 lalu tampak begitu tenang. Semua siswa terlihat sibuk di dalam ruang kelas. Mereka konsentrasi mengerjakan soal-soal ujian. Ketenangan itu makin lengkap karena lingkungan di sekolah itu berasa begitu asri. Lapangan tempat upacara dan olahraga tampak begitu bersih, nyaris tak ada sampah yang kececeran. Begitu pula pemandangan di teras depan ruang kelas.

Dari jauh, Umi Maghfiroh, sang kepala sekolah sedang ada di ruangannya. Saat mengetahui kedatangan wartawan koran ini, dia menyambutnya dengan ramah dan memberikan salam.

Setelah berbincang-bincang singkat tentang profil sekolah, Umi menceritakan bahwa apa yang tersaji di sekolah saat ini sangat berbeda jauh sebelumnya. ”Dua tahun lalu sebelum saya datang ke sini tidak seenak dipandang seperti sekarang. Kebersihan sekolah tidak terjaga,” ujarnya.

Selain itu, pakaian yang dikenakan siswa juga tidak rapi. Banyak anak-anak mengenakan pakaian lusuh dan kusut seperti belum diseterika. ”Saya pun mencoba mengubahnya, karena sangat tidak enak dipandang,” kata dia.

Sebagai langkah awal, Umi membuatkan seragam untuk siswa. Setelah dinilai bagus, para wali murid banyak yang meminta agar anaknya juga dibuatkan seragam. ”Saya pun berpesan agar orang tua siswa memerhatikan kerapian seragam anaknya,” ujarnya.

Langkah lain juga dirancangnya. Kali ini, Umi berupaya mengubah perilaku anak didik tentang pentingnya sopan santun. Karena ketika itu, dia merasa siswa-siswa di sekolah ini kurang memiliki rasa hormat kepada guru. Ketika masuk ke dalam kelas, langsung masuk begitu saja. ”Sekarang sudah mulai salaman dengan berbaris rapi di depan kelas,” paparnya.

Selain itu, perilaku siswa yang terbiasa berbicara kotor dan berkelahi juga tak lupt dari perhatiannya. Jika sampai melakukan pelanggaran tersebut, bakal diberi hukuman. ”Tapi bukan hukuman fisik, hanya pelatihan baris berbaris,” beber dia.

Dia juga membina mental rohani para siswa dengan membiasakan membaca surat pendek dan Asmaul Husna tiap hari Jumat. ”Alhamdulillah, kebiasaan-kebiasaan buruk siswa sudah mulai berkurang jauh, bahkan sekarang hampir tidak ada,” jelas ibu tiga anak tersebut.

Yang tak kalah penting lagi adalah, mengajari siswa disiplin dan jujur. Untuk mengontrol hal itu, pihaknya memberikan lembar daftar pembiasaanku hari ini. Di dalamnya, ada 30 daftar pelanggaran yang harus dihindari. ”Kalau mereka melakukan pelanggaran, maka harus menulisnya sendiri aturan nomor berapa yang tidak dipatuhi. Pengisian itu dilakukan sebelum pulang sekolah dengan dipandu guru,” paparnya.

Dari sini menurut dia, siswa sangat mengingat tentang pembiasaan apa yang harus dilakukan. Terutama agar tidak sampai melakukan pelanggaran.

Nah, pembiasaan yang ada di SDN 2 Ngabab itulah yang kemudian dirangkai menjadi karya ilmiah oleh Umi. Judulnya, Program Refleksi Pembiasaan Sebagai Strategi untuk Mewujudkan Sekolah Berkarakter di SDN 2 Ngabab. Karya ilmiah tersebut dia presentasikan dalam panggung pemilihan kepala sekolah berprestasi se-Kabupaten Malang yang digelar oleh dinas pendidikan (disdik). Hasilnya, Umi keluar menjadi yang terbaik. ”Lombanya 27 April lalu di SMPN 1 Wajak. Pengumumannya sudah disampaikan 2 April saat Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Tapi pialanya belum saya terima,” imbuhnya seraya tersenyum.

Namun baginya, piala bukan lagi menjadi hal penting. Karena kini tugasnya mempertahankan, serta meningkatkan capaian yang telah diperjuangkan dengan susah selama dua tahun lalu.

Pewarta: Bahrul Marzuki
Penyunting: Neny Fitrin
Foto: Bahrul Marzuki