Mau Pulang, Gunung Agung Erupsi Lagi, Pengungsi pun Galau

Ida Ayu Parmi, warga Untalan, ketika diwawancarai Bali Express (Jawa Pos Group) di GOR Kompyang Sujana, Denpasar, Jumat (12/1 mengaku masih mengungsi karena kasihan dengan anaknya yang masih kecil. Sehingga Dayu Parmi sebelumnya memilih tetap tinggal di pengungsian meski KRB telah dipersempit. Selain itu ia juga mengaku suaminya sudah bekerja di Denpasar.

“Saya kasihan dengan anak-anak, kalau di kampung jika ada awan hitam keluar saja sedikit sudah waswas. Sehingga harus berlarian karena hampir semua warga panik. Selain itu suami saya mupung sudah dapat kerja di sini makanya saya akan pulang ketika sudah stabil,” terang Dayu Parmi. 



Sebelumnya, dia sempat pulang, Kamis lalu (11/1). Saat itu dia melihat langsung Gunung Agung kembali mengeluarkan asap. Sejumlah warga juga sudah merasa bimbang untuk kembali mengungsi atau tidak. Karena tidak berlanjut, sehingga menurut Dayu Parmi warga di desanya yang ada di Untalan membatalkan niatnya untuk mengungsi kembali. 

“Pas saya pulang kampung untuk mengurus surat rekomendasi dari desa, gunung keluar asap kembali. Karena sebelum mendapat rekomendasi dari kepala desa belum dikasi izin pulang. Makanya kemarin pas saya pulang kebetulan saya melihat kepanikan itu terjadi,” imbuhnya. 

Pada tempat yang sama, pengungsi dari Bhuana Giri, Karangasem, I Made Sudana mengaku belum pernah sama sekali pulang kampung. Ia mengaku masih belum berani untuk tinggal di rumahnya. Selain sangat berdekatan dengan kawah Gunung Agung, ia juga menjelaskan ketika sudah aman baru akan pulang.

“Ada rencana untuk pulang, tetapi kalau sudah aman baru saya akan mengurus administrasinya,” paparnya. 

Sudana juga mengaku selama mengungsi ia sempat bekerja sebagai kuli banguanan di seputaran proyek yang ada di Denpasar. Selain untuk menambah uang bekal, dirinya bekerja agar ada uang bensin untuk pulang nanti. Sedangkan untuk makan Sudana sudah dapat di pengungsian. “Baru seminggu yang lalu saya bekerja jadi buruh bangunan, tetapi dari dua hari yang lalu saya tidak bekerja karena cuaca hujan terus,” terang kakek dua cucu tersebut. 

Salah satu relawan dari Tagana, I Nyoman Swagina memperlihatkan data pengungsi yang masih ada di sana. Dalam data tersebut tercantum berjumlah 20 jiwa masih menempati di GOR Kompiang Sujana. Ia juga memaparkan terdiri atas 10 orang perempuan dan 10 orang laki-laki.

“Mereka mulai pulang sejak dipersempit radius berbahaya dampak erupsi Gunung Agung beberapa waktu lalu. Mengakibatkan sampai saat ini masih 5 kepala keluarga saja yang masih bertahan di sini,” terangnya. 

Ia juga mengungkapkan dari lima kepala keluarga tersebut, dua di antaranya akan mengurus surat rekomendasi untuk pulang kembali ke kampung halaman mereka. “Mereka sedang galau, mau pulang ternyata ada letusan kembali. Tapi ada dua keluarga juga yang sedang mengurus rekomendasi agar diberikan izin pulang,” imbuhnya.

Sedangkan data dihimpun dari BPBD Kota Denpasar, pengungsi sebelumnya mencapai 914 jiwa. Namun sampai kemarin (12/1) masih tersisa 225 jiwa saja. Dikonfirmasi Kepala BPBD Kota Denpasar Ida Bagus Joni Ariwibawa mengungkapkan mereka memilih pulang karena ada edaran dari pemerintah.

“Mereka memilih pulang karena surat edaran dari pemerintah yang menyatakan zona bahaya Gunung Agung menjadi 6 kilometer. Karena wilayah meraka sudah dikatakan aman, mereka memilih untuk kembali. Ada juga yang masih bertahan karena merasa wilayahnya masih terkena abu vulkanik setiap kali terjadi erupsi,” paparnya. 

(bx/ade/bay/yes/JPR)