Hope 313 oleh Kurniawan Muhammad.

Di sekitar kita, mungkin akan mudah dijumpai bangunan fasilitas umum yang mangkrak. Mulai dari bangunan yang belum jadi, atau setengah jadi yang mangkrak. Karena tidak dilanjutkan proses pembangunannya. Atau bangunan itu sebenarnya sudah jadi, tapi juga mangkrak, karena tidak dipergunakan secara semestinya.

Terminal Hamid Rusdi di Kota Malang, adalah salah satu contoh bangunan yang sudah jadi, tapi tetap mangkrak. Tersebab tidak difungsikan secara semestinya. Terminal ini sebenarnya sudah diresmikan operasionalnya sejak 2010. Tapi, pada saat itu berfungsi secara semestinya hanya sepekan. Setelah itu, angkutan kota, dan bus tidak ada yang mau masuk ke terminal itu lagi. Sampai sekarang.

Mangkraknya Terminal Hamid Rusdi adalah contoh dari implementasi sebuah kebijakan publik yang peruntukannya tidak sesuai dengan harapan. Mengapa hal ini bisa terjadi? Secara teori, untuk menjawab pertanyaan ini, bisa diurai dari aspek formulasi kebijakan.

Menurut Sidney, dalam Handbook of Public Policy Analysis: Theory, Politics, and Methods: Formulasi kebijakan adalah langkah awal yang penting. Sebab, memberikan informasi kepada para analis kebijakan dan decision-makers mengenai: Apa rencana yang akan dibuat untuk mengatasi suatu fenomena atau masalah publik? Di sini, kata kuncinya adalah: masalah publik.

Lalu, apa tujuan dan prioritas yang hendak dituju dari formulasi kebijakan? Di sini, kata kuncinya adalah: Tujuan dan prioritas.

Apakah tersedia alternatif-alternatif kebijakan? Di sini, berarti harus ada berbagai alternatif atau pilihan skenario dari kebijakan yang akan dibuat. Selanjutnya, apa kelebihan dan kekurangan dari masing-masing alternatif kebijakan yang tersedia tersebut? Di sini, berarti setiap alternatif yang dibuat, harus bisa diurai kelebihan dan kekurangannya. Nah, setelah itu, barulah dipilih alternatif yang terbaik. Yang paling sedikit nilai minusnya.

Pada kasus pembangunan Terminal Hamid Rusdi, dalam konteks formulasi kebijakan, apakah Pemkot Malang sudah menyiapkan berbagai alternatif sebelum mereka melaksanakan kebijakannya?

Biasanya, pada proyek-proyek pemerintahan, sebelum pembangunan dilaksanakan, lebih dulu dilakukan studi kelayakan. Dalam konteks kebijakan publik, ini termasuk dalam tahapan formulasi kebijakan. Jika hasilnya Terminal Hamid Rusdi tidak berjalan secara semestinya setelah dioperasikan, bisa jadi, ada yang salah dalam proses formulasi kebijakan.

Bisa saja, kesalahan itu karena pihak elite yang berkuasa terlalu memaksakan keinginannya untuk membuat sebuah kebijakan. Artinya, Terminal Hamid Rusdi dibangun sebagai sebuah keinginan elite penguasa (model elite). Jadi, bukan merupakan kebijakan yang dibuat dari resultante (hasil) interaksi dengan lingkungan sekitar (model sistem David Easton).

Pada model sistem David Easton, menyebutkan bahwa sebuah formulasi kebijakan harus berangkat dari output suatu lingkungan atau sistem yang tengah berlangsung. Artinya, dalam merumuskan sebuah formulasi kebijakan sebelum membangun Terminal Hamid Rusdi, pihak elite penguasa bisa jadi telah mengabaikan kepentingan para stakeholder yang akan berinteraksi dengan terminal tersebut. Sehingga, begitu Terminal Hamid Rusdi dinyatakan resmi beroperasi, tidak mendapatkan respons yang semestinya dari para stakeholder. Dan inilah yang menyebabkan mangkrak sampai sekarang.

Sebenarnya, tidaklah sulit untuk merumuskan sebuah formulasi kebijakan yang jitu dan komprehensif. Bukankah Kota Malang adalah gudangnya para ahli kebijakan publik? Pemkot bisa melibatkan para ahli kebijakan publik yang ada di Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Universitas Brawijaya (UB). Ada banyak profesor dan doktor di sana. Saya dengar, para ahli kebijakan publik di FIA UB malah kerap menjadi tim ahli atau konsultan untuk daerah-daerah lain di luar Malang. Sungguh sebuah kondisi yang paradoks. Semoga Terminal Hamid Rusdi adalah proyek mangkrak yang terakhir. Kasihan nama Hamid Rusdi. Beliau adalah seorang pahlawan. Jika namanya diabadikan untuk sebuah proyek mangkrak, sekali lagi, kasihan nama Hamid Rusdi. (kritik dan saran: ibnuisrofam@gmail.com/IG: kum_jp)

Oleh: Kurniawan Muhammad