MALANG KOTA People fashion! Begitulah atmosfer yang terasa dalam ajang Malang Fashion Movement (MFM) 2018 yang digelar di Mal Olympic Garden (MOG) kemarin (16/4). Panggung fashion di mal itu menampilkan ratusan model dalam balutan buasana etnik, chick, atraktif, hingga yang terlihat spektakuler silih berganti.

Digelar dalam tiga sesi dengan durasi waktu sembilan jam, suguhan kreasi dari 30 desainer dan enam brand ini pantas menjadi barometer fashion nasional. Penampilan finalis Joko-Roro Kabupaten Malang dalam balutan busana kreasi tiga desainer Kota Malang berhasil menghidupkan pembukaan event ini.

Bupati Kabupaten Malang Drs H Rendra Kresna dengan senang hati membuka gelaran MFM 2018. Tampak pula Direktur Jawa Pos Radar Malang Kurniawan Muhammad bersama Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disbudpar) Kabupaten Malang Made Arya Wedanthara, Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Malang Nazarudin Hasan, Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Cipta Karya (DPKPCK) Wahyu Hidayat, dan Direktur Utama PDAM Kabupaten Malang Syamsul Hadi. Selain itu, hadir pula Kepala BPJS Kesehatan Cabang Malang Hendry Wahjuni.

Dalam sambutannya Rendra menyatakan, acara yang digelar Jawa Pos Radar Malang ini sudah menjadi barometer fashion yang tidak kalah dengan event serupa di Surabaya atau Jakarta. Karena itu, Rendra berharap gelaran fashion ini bisa diselenggarakan di Kabupaten Malang. ”Malang ini adalah barometer musik sampai fashion. Saya sangat mengapresiasi event ini karena menjadi ajang kreativitas desainer se-Malang Raya,” ujarnya.

Menurutnya, fashion show juga bisa diselenggarakan di banyak tempat eksotis di Kabupaten Malang. Catwalk-nya bisa di pantai, gunung, atau pematang sawah. ”Saya pikir acar ini akan sangat bagus, sehingga bisa memberi inspirasi sekaligus mengedukasi masyarakat,” imbuhnya.

Sementara itu, Direktur Jawa Pos Radar Malang Kurniawan Muhammad  menyampaikan, pagelaran MFM tahun ini telah memasuki tahun keempat. Agar lebih spesial, panitia sengaja mengemas event ini dengan nuansa berbeda, yakni digelar di mal. ”Tentu kami berharap MFM 2018 ini semakin menjadi barometer industri fashion. Kalau bisa hingga level nasional,” terangnya.

Usai pembukaan, gelaran MFM 2018 dilanjutkan dengan fashion show sesi 1 yang bertemakan Cultural Insight. Tema ini mengedepankan nuansa etnik dan pesona batik yang dihasilkan tiga desainer, yakni Farhan A. Daffa, Febby AntiQue, dan Batik Soendari. Anggota Paguyuban Joko Roro Kabupaten Malang tampak anggun dan memesona saat mengenakan rancangan tiga desainer muda ini.

Penanggung jawab sesi satu, Al Mawaman, menyatakan, pihaknya tak hanya menyuguhkan lenggak-lenggok model. Penonton juga terhibur dengan atraksi tarian di catwalk. ”Jadi, ada penari latar dan penyanyi juga yang sudah kami siapkan. Biar acaranya tidak monoton,” ujar Al.

Pada sesi fashion show dari Febby AntiQue misalnya, para finalis Joko Roro menghadirkan tarian rancak dengan backsound Dansa Yo Dansa. Begitu pula pada sesi fashion show Farhan A. Daffa, para model juga menyuguhkan tarian atraktif menyesuaikan dengan tema rancangan.

Pagi harinya, panggung MFM 2018 sudah dihangatkan 100 peserta yang mengikuti lomba fashion illustration. Padahal, sebelumnya panitia sempat membatasi hanya untuk 60 peserta. Koordinator lomba, Shelma Kirana, mengakui peningkatan jumlah peserta ini karena tingginya antusiasme peserta yang umumnya dari pelajar. Karena itu, panitia bersedia menambah kuota peserta. ”Kami putuskan menambah 40 peserta lagi,” ujar finalis Duta Hijab Radar Malang 2017 ini. (nr2/c1/nay)