Hope 313 oleh Kurniawan Muhammad

Istilah ”kuda hitam” (The Dark Horse), sering kali digunakan dalam perlombaan, untuk menyatakan seseorang yang memiliki kemampuan, rencana, dan perasaan tersembunyi, sehingga sulit untuk diprediksi dalam suatu pertandingan. Namun memiliki potensi untuk bisa mengalahkan pemain terhebat. Penggunaan istilah ”The Dark Horse” biasanya digunakan untuk pemain yang mengejutkan.

Dalam kontestasi politik, apakah itu pemilu, pilpres (pemilihan presiden), ataukah pilkada (pemilihan kepala daerah), istilah ”kuda hitam” kerap dipergunakan untuk menjuluki calon, atau partai yang tiba-tiba di akhir kontestasi, prestasinya atau perolehan suaranya mengejutkan.

Pada Pemilu 2004, Partai Demokrat tampil sebagai ”kuda hitam” dengan perolehan suara yang mengesankan. Pemilu selanjutnya, pada 2009, giliran Gerindra dan Hanura yang menjadi ”kuda hitam”-nya. Sedangkan pada Pemilu 2014, Partai Nasdem menjadi ”kuda hitam” selanjutnya. Kita akan lihat, pada Pemilu 2019 nanti, partai mana yang akan jadi kuda hitamnya? Apakah Perindo, PSI, atau partai-partai lainnya?

Dalam kontestasi politik di Amerika Serikat, khususnya untuk pilpres, istilah ”kuda hitam” juga sering digunakan. Ini biasanya untuk menggambarkan kandidat yang awalnya sedikit dukungan, tapi tiba-tiba populer. Menurut data yang dihimpun VoA (Voice of America), kandidat ”kuda hitam” pertama yang akhirnya menjadi presiden Amerika adalah James Polk. Dia adalah presiden ke-11 Amerika, dan menjabat mulai 1844.

Selanjutnya, kandidat ”kuda hitam” yang juga berhasil menjadi presiden adalah Jimmy Carter. Dia menjadi presiden ke-39 Amerika, dan menjabat mulai 1976.

Jimmy Carter sempat disebut-sebut sebagai kandidat ”kuda hitam” terakhir yang berhasil menjadi presiden. Karena setelah itu, tidak ada lagi kandidat ”kuda hitam” yang berhasil menang. Yang sering, kandidat ”kuda hitam” hanya bisa menjadi pemenang di tingkat konvensi partai politik, tapi mereka biasanya tidak berhasil mencapai garis akhir (finis).

Ini diperkuat dengan hasil penelitian Pew Center (lembaga riset di Amerika Serikat) antara 1868–1984, yang menyatakan bahwa 61 persen calon presiden (capres) Amerika yang lolos putaran kedua pemilihan konvensi partai, tidak sampai ke Gedung Putih.

Tapi, fenomena kandidat ”kuda hitam” kembali muncul di Pilpres Amerika 2016. Pada saat itu, ada 17 bakal capres di Partai Republik yang berebut suara di pemilihan pendahuluan untuk mendapatkan nominasi partai saat itu. Dan pada saat itu, Donald Trump dianggap sebagai ”kuda hitam”.

Dari Partai Demokrat, kandidat yang dianggap sebagai ”kuda hitam” adalah Senator Bernie Sanders. Tapi, akhirnya, yang berhasil menduduki Gedung Putih adalah Trump.

Karena itu, tampilnya Trump sebagai presiden Amerika dianggap sebagai pemecah rekor dalam konteks ”kuda hitam”. Karena sejak Jimmy Carter, baru Trump-lah kandidat ”kuda hitam” yang akhirnya bisa memenangi pilpres.

Nah, pada kontestasi Pemilihan Wali Kota (Pilwali) Malang tahun ini, siapa kira-kira kandidat ”kuda hitam”-nya? Yang jelas, bukan pasangan incumbent. Abah Anton (Wali Kota Moch. Anton) dan Sutiaji (Wakil Wali Kota), keduanya bisa disebut sebagai incumbent dan setengah incumbent. Berarti, pasangan ”kuda hitam”-nya adalah Ya’qud Ananda Gudban dan Wanedi. Munculnya Nanda (panggilan akrab Ya’qud Ananda Gudban) dan Wanedi, bisa jadi memang termasuk mengejutkan. Nanda bukan kader PDIP, tapi akhirnya bisa mendapatkan tiket dari PDIP untuk maju menjadi calon wali kota.

Pada Pilwali Malang sebelumnya (2013), pasangan Abah Anton dan Sutiaji saat itu disebut-sebut juga sebagai kandidat ”kuda hitam”. Tapi, akhirnya bisa menjadi pemenang.

Pertanyaannya adalah, mampukah Nanda dan Wanedi mengulang kesuksesan kandidat ”kuda hitam” di Pilwali 2013? Dari banyak kasus, salah satu yang membuat kandidat ”kuda hitam” sukses adalah karena faktor situasi dan kondisi politik mutakhir. Jadi, kandidat ”kuda hitam” bisa diuntungkan dengan keadaan, atau situasi yang terjadi pada saat itu.

Anton dan Sutiaji berhasil menang dalam Pilwali 2013, salah satunya, karena pada saat itu, peta kekuatan PDIP terbelah. Setelah dipecatnya Peni Suparto (saat itu wali kota Malang dan ketua DPC PDIP) dari keanggotaan PDIP, karena melawan garis partai. Dia saat itu bersikukuh mendukung istrinya, Heri Pudji Utami yang maju dalam pilwali, meski tidak didukung oleh PDIP.

Dalam kondisi peta kekuatan PDIP yang seperti itu, sedikit banyak berpengaruh terhadap kesolidan kader di bawah. Sehingga, ini bisa jadi adalah faktor situasi dan kondisi yang menguntungkan bagi pasangan Anton-Sutiaji.

Nah, bagaimanakah situasi dan kondisi perpolitikan di Kota Malang saat ini? Silakan Anda menilai dengan bebas. Ketiga pasangan disebut-sebut sebagai kader NU. Apakah suara NU akan terbelah dan terpecah-pecah?

Pertanyaan selanjutnya, apakah nanti yang akan menjadi pemenang itu kandidat incumbent, kandidat setengah incumbent, ataukah kandidat ”kuda hitam”? Mari kita lihat pada 27 Juni nanti… (kritik dan saran: ibnuisrofam@gmail.com/IG: kum_jp).

Oleh: Kurniawan Muhammad