Bupati Malang Rendra Kresna.

KABUPATEN MALANG – Satu lagi desa di Kabupaten Malang bakal tumbuh menjadi desa wisata. Yaitu, Desa Kucur, Kecamatan Dau. Embrio itu Rabu (11/7) ditandai dengan peresmian Gunung Sumber Sari sebagai salah satu destinasi wisata alam oleh Bupati Malang Rendra Kresna.

Peresmian yang ditandai dengan peletakan batu pertama tersebut merupakan rangkaian hari kedua Bina Desa yang dimulai sejak Selasa (10/7) siang.

”Di sini, di lereng Gunung Sari, sebuah bukit di Desa Kucur, bisa dikembangkan dan dijual sebagai destinasi wisata,” ucap Rendra kepada para awak media.


Secara fisik, lanjut dia, lereng Gunung Sumbersari berupa pohon-pohon berumur puluhan tahun dilengkapi dengan potensi sumber alami. Bukan hanya sekadar sumber air, bahkan kandungan mineralnya menjadikan orang mandi di sina terasa segar.

”Sebagai sumber waras, bisa membuat awet muda, tentu menjadi keunggulan tersendiri,” terangnya. ”Pariwisata itu tentang mitos, kepercayaan. Dan itu bisa dijual,” tambah dia.

Dengan sokongan agro buah dan sayur, dia berharap Kucur makin berkembang. Sehingga, kesejahteraan masyarakat pun terus meningkat.

”Soal infrastruktur misalnya, masyarakat tidak ada yang tidak berpartisipasi. Kegotongroyongan benar-benar nampak di Desa Kucur,” beber Rendra. ”Dengan kendali pimpinan, kades yang berpikiran maju, Kucur akan berkembang tumbuh demikian pesatnya,” sambungnya.

Bahkan, masih kata Rendra, Kucur, desa dengan komponen pemuda-pemudanya, tidak akan kalah dengan desa-desa wisata lainnya di Kabupaten Malang. Tentu, Pemkab (pemerintah kabupaten), lewat Disparbud (Dinas Pariwisata dan Budaya) akan mengasistensi desa ini. Bagaimana kemudian menjadi desa yang potensial, tangguh wisatanya dan masyarakat mampu menumbuhkan ekonomi kreatif.

Dalam kesempatan itu, Rendra juga memberikan apresiasi kepada kades Kucur karena memiliki local wisdom (kearifan lokal). Yakni, melarang warga desa tersebut memperjual belikan tanah untuk perumahan. ”Di sini tetap dibasiskan pada pertanian dan perkebunan. Bukan tidak boleh ada bangunan, tetap boleh. Tapi, bukan seperti investor yang membeli lahan ratusan hectare. Itu yang sangat dilarang,” tukas dia.

”Di sini, yang tumbuh berkembang adalah agronya, agro buah serta sayur. Sehingga menjadi desa yang berpijak pada kedaulatan pangan,” tandas Rendra.

Pewarta: Neni Fitrin
Penyunting: Kholid Amrullah
Fotografer: Neni Fitrin