Peserta pelatihan membatik menjemur kain buatannya di pelataran Hotel Mirabell Kepanjen kemarin (13/11).

KEPANJEN – Di tangan 30 perajin batik, biji binahong yang umumnya digunakan untuk bahan baku jamu disulap menjadi sesuatu yang bernilai tinggi. Bahan, dipakai untuk pewarna kain batik. Untuk mempopulerkan cara tersebut, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Malang kemarin (13/11) memberi pelatihan di Hotel Mirabell, Kepanjen.

Selain biji binahong, bahan pewarna alami lain seperti daun sirih, daun jambu, dan kulit kayu mahoni juga digunakan. Warna yang dihasilkan bahan-bahan alami itu tak kalah dengan bahan pewarna sintetis.

”Kalau dari segi warna memang sedikit gelap. Tapi, hasilnya lebih bagus. Terlihat lebih soft dan enak dipandang mata,” terang Kepala Disperindag Kabupaten Malang Nurcahyo.

Menurutnya, batik dengan pewarnaan alami masih punya peluang besar di pasaran. Khususnya untuk pasar luar negeri. Alasannya sederhana, karena di luar negeri jarang sekali menggunakan pewarnaan alami.

”Batik cetak kan semua bisa sekarang. Tapi kalau pakai pewarna alami, hanya Indonesia yang punya. Terutama di Kabupaten Malang yang memiliki sumber daya alam melimpah,” tambahnya.

Dia mengakui bila tidak semua perajin bisa meracik pewarna alami. Karena itulah pelatihan diberikan. Dari beberapa eksperimen yang dilakukan dalam pelatihan, perajin batik bisa melihat komposisi pewarna alami yang menarik.

”Ini kan juga masih tahap mencari komposisinya. Sebab, warna alami ini butuh perlakuan khusus,” tambah mantan kepala Dispora Kabupaten Malang itu.

Dia berharap pelatihan itu bisa memberi manfaat. Karena selain punya pangsa pasar tersendiri, pewarnaan alami juga minim efek samping. Sisa rebusan air dari celupan kain dipastikan tidak mencemari lingkungan.

”Manfaat ini yang harusnya jadi perhatian. Jadi, batik dengan warna alami lebih diminati,” tutupnya.

Pewarta: Hafis Iqbal
Penyunting: Bayu Mulya
Copy Editor: Arief Rohman
Foto: Radar Malang