Hope 313 oleh Kurniawan Muhammad.

Saya termasuk salah satu peziarah yang sering datang ke makam Ki Ageng Gribig di Madyopuro, Kedungkandang, Kota Malang. Selain karena lokasinya berdekatan dengan rumah, mendatangi makam Ki Ageng Gribig menjadi semacam ”wisata batin”.

Mengapa ”wisata batin”? Dalam hidup dan kehidupan ini, ujung-ujungnya dari urusan dunia, sering kali adalah ”ke-hiruk-pikuk-an”. Ketika manusia terlalu dibuai dengan ”ke-hiruk-pikuk-an” urusan dunia, maka bisa saja dia akan lupa dengan dirinya, lupa dengan tugas-tugasnya sebagai manusia, dan pada akhirnya bisa lupa terhadap Tuhannya. Di sinilah, pentingnya ”wisata batin”. Salah satunya, untuk menetralkan batin, agar tidak terlalu terseret dengan urusan ”ke-hiruk-pikuk-an” dunia.

KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), termasuk salah seorang ulama yang sering berziarah ke makam. Termasuk ke makam-makam ulama besar. Kebiasaan ini bahkan masih dia laksanakan ketika menjadi presiden RI.

Suatu ketika, Gus Dur ditanya, ”Mengapa kok sering datang ke kuburan?” Saking seringnya ke kuburan, Gus Dur sempat dijuluki ”Sarjana Kuburan”. Gus Dur menjawab pertanyaan itu dengan gayanya yang khas, ”Di kuburan itu penghuninya baik-baik. Di sana nggak ada fitnah. Nggak ada saling mencela. Dan, penghuni kuburan itu selalu mengingatkan kita pada akhirat.”

Mendatangi makam, tidak ada salahnya. Apalagi niatnya untuk berwisata batin, seraya mengingat kematian dan kehidupan akhirat. Bukankah mukmin yang cerdas, adalah mukmin yang selalu mengingat kematian? Dengan selalu mengingat pada kematian, maka dia termasuk yang paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah mati. (HR Ibnu Majah No 4259, dihasankan Asy Syaikh Al Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah No 1384).

Areal pemakaman Ki Ageng Gribig di Kota Malang, sebenarnya sudah cukup lama menjadi destinasi wisata batin atau wisata religi. Para peziarah yang datang ke sana tidak hanya berasal dari wilayah Malang Raya saja. Pada hari-hari tertentu, misalnya pada malam Jumat Legi, para peziarah yang datang lebih padat dari hari-hari biasa. Juga pada malam As Syuro. Para peziarah yang datang lebih banyak lagi. Saya pernah bertemu dengan peziarah dari Banten. Mereka saat itu datang berombongan. Saya juga pernah bertemu para peziarah dari Palembang. Jadi, dari sisi ”daya tarik”, makam Ki Ageng Gribig sebenarnya cukup punya magnet.

Sayangnya, pengelolaannya masih terkesan ”apa adanya”. Fasilitas untuk para peziarah juga masih sangat minim. Padahal, jika tidak salah, Pemkot Malang, dalam hal ini dinas kebudayaan dan pariwisata, sudah menetapkan areal pemakaman Ki Ageng Gribig sebagai salah satu destinasi wisata religi di Kota Malang.

Setidaknya ada dua alasan, yang menurut saya bisa menjadi kekuatan makam Ki Ageng Gribig sebagai wisata religi. Pertama, dari sisi sejarah, kisah tentang sosok Ki Ageng Gribig menarik untuk diulas. Salah satunya, karena terdapat beberapa versi tentang sosok Ki Ageng Gribig. Ada versi yang menyebut, bahwa Ki Ageng Gribig adalah cucu dari Sunan Giri. Tapi ada juga versi yang menyebutkan bahwa Ki Ageng Gribig adalah salah satu murid kesayangan dari Sunan Kalijaga yang ditugaskan berdakwah di wilayah Malang. Bahkan, konon, versi lain menyebutkan, bahwa nama ”Malang” diambil dari petilasan Ki Ageng Gribig yang ada di dekat Gunung Buring.

Saya yakin, di luar sana, akan ada versi-versi lainnya. Mana versi yang paling mendekati kebenaran? Sejarah memang tidak bisa terlepas dari masalah ”versi” atau ”sudut pandang”. Di sinilah perlunya kesepakatan para sejarawan, di mana kesepakatan itu harus berlandaskan pada bukti-bukti dan penjelasan se-ilmiah mungkin.

Kalau saja di lokasi pemakaman Ki Ageng Gribig ada narasi yang lengkap dan detail (bisa dari satu versi atau gabungan dari versi lain) tentang sejarah Ki Ageng Gribig, maka itu akan sangat bagus. Sehingga, areal pemakaman Ki Ageng Gribig tidak hanya menjadi destinasi wisata religi, tapi juga menjadi destinasi wisata sejarah.

Kedua, di lokasi pemakaman Ki Ageng Gribig, terdapat makam para bupati yang memerintah pada abad ke- 17 dan 18. Salah satunya, makam Bupati I Malang yang merupakan murid dari Ki Ageng Gribig. Juga ada makam Bupati ke-3 Malang. Ada juga makam bupati dari daerah lain.

Saya pernah melihat-lihat dari dekat satu per satu makam dari para bupati itu. Saya tertarik dengan aneka macam pusara atau nisan dari makam para bupati itu. Bentuknya bermacam-macam. Umumnya berbentuk seperti kubus yang memanjang. Ada yang dari kayu jati berukir. Dan ada yang terbuat dari full marmer. Dan marmernya selain artistik, juga berkelas.

Ada juga pusara yang terdapat tulisan Jawa kuno (honocoroko) yang diukir indah di marmer. Dan menurut juru kunci makam, dan dibenarkan oleh sesepuh warga setempat, pusara itu merupakan asli sejak awal. Yakni sejak sang bupati dimakamkan. Saya berpikir, pasti di balik bentuk pusara/nisan yang bermacam-macam itu, ada makna filosofinya. Sayangnya, ”makna filosofi” di balik pusara yang bermacam-macam itu belum tergali.

Di areal makam Ki Ageng Gribig juga terdapat satu makam ”misterius”. Disebut misterius, karena sampai saat ini tidak ada yang memastikan makam siapa itu. Tapi, beberapa warga setempat meyakini makam itu adalah milik Untung Surapati. Benarkah? Perlu ada studi dan penelitian lapangan lebih lanjut untuk memastikannya. Keberadaan makam Untung Surapati memang sempat menjadi perdebatan di kalangan sejarawan.
So, jika areal pemakaman Ki Ageng Gribig benar-benar akan dijadikan destinasi wisata religi, maka butuh effort ekstra.

Saya melihat warga setempat sangat antusias jika areal pemakaman Ki Ageng Gribig dijadikan destinasi wisata religi. Antusiasme itu pernah disampaikan kepada saya oleh beberapa aktivis dari pokdarwis (kelompok sadar wisata) setempat. Mereka bahkan sudah aktif membuat brosur dan narasi tentang keistimewaan areal pemakaman Ki Ageng Gribig melalui selebaran maupun media sosial. Semoga, antusiasme warga yang tergabung dalam pokdarwis itu bisa menyatu dengan pihak lain, termasuk pemerintah kota. (kritik dan saran: ibnuisrofam@gmail.com/IG: kum_jp)

Oleh: Kurniawan Muhammad