Karima Sindhu Nanti belum bisa pulang ke Kota Batu karena bekerja di Tangerang, tepatnya di bengkel hanggar PT Garuda Maintenance Facility (GMF). Karena belum bisa mudik ke Kota Batu, wartawan koran ini melakukan wawancara secara intens melalui telepon dan pesan WhatsApp (WA) pada Senin lalu (15/5).

Sindhu bercerita kalau dirinya setiap hari harus bekerja keras untuk memperbaiki mesin pesawat terbang. Meski Sindhu adalah seorang perempuan, dia tak patah arang dan terus berusaha agar tidak kalah dengan teman-temannya sebagai mekanik pesawat.

Dia tak ingat berapa pesawat yang sudah diperbaiki. Tapi, yang jelas sudah banyak pesawat yang dia perbaiki selama tiga tahun bekerja di sana. Sebab, bengkel tersebut aktif 24 jam dalam satu minggu.
Di antara pesawat yang sudah diperbaiki oleh Sindhu, ada 53 pesawat Citilink dengan tipe Airbus 320 (A320) yang pernah dia tangani.

”Saya tidak menghitung jumlah pesawatnya, tapi tim saya harus mengecek 53 pesawat Airbus 320 milik Citilink, anak perusahaan dari PT Garuda Indonesia Tbk,” kata gadis kelahiran 20 Juni 1992 tersebut.

Putri dari Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Batu Nurbani Yusuf ini menjelaskan, dalam satu tim terdiri dari 15 orang. Dan Sindhu merupakan satu-satunya perempuan di tim tersebut. ”Kalau di maskapai Garuda Indonesia, persentase pekerja perempuan dan laki-laki yaitu 1:10,” kata alumnus SMPN 1 Kota Batu tersebut.

Anak pertama dari dua bersaudara ini mengaku awalnya agak kesulitan bekerja dengan mayoritas pekerja laki-laki. Namun, Sindhu tidak pernah menyerah. Dia menyatakan, sebenarnya seimbang dengan mekanik laki-laki soal ilmu.

”Saya berusaha keras dan tidak mau dikasihani sama cowok, hehe,” kata Sindhu, lantas tertawa.

Anak dari pasangan Nurbani Yusuf dan Nurul Wahidah itu terus bercerita, dia khusus memegang bagian elektrik atau kelistrikan pesawat (electrical avionic). Sindhu lebih banyak berkutat dengan pusat kendali pilot di kokpit seperti navigasi, radar, dan alat lainnya.

”Meski saya memiliki pos di elektrik, tapi kami kerja secara tim. Kalau diminta landing gear (menangani masalah ban pesawat), ya dikerjakan bareng-bareng,” kata gadis dari Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu tersebut.

Alumnus SMAN 1 Batu ini menceritakan, hampir semua mesin pesawat menjadi tanggung jawabnya bersama tim, kecuali kabin dan interior. Dia mengaku sering kesetrum. Namun, alumnus D-4 Teknik Elektronika Politeknik Negeri Malang (Polinema) itu mengaku masih beruntung karena arus listriknya kecil.

”Itu risiko bekerja di bidang elektrik. Kesetrum sih, tapi arusnya kecil jadi masih aman,” ujar Sindhu.

Dia menyatakan, dulu tak mengira bisa bekerja menjadi mekanik pesawat terbang. Dia juga mengaku harus belajar dari nol hingga memiliki lisensi C1 (elektrik), C2 (instrumen), dan C4 (electrical avionic).

”Setelah saya memiliki lisensi, saya boleh menjadi mekanik pesawat A320,” kata gadis yang hobi membaca buku ini.

Bagaimana Sindhu bisa lolos menjadi mekanik maskapai PT Garuda Indonesia Tbk? Dia menyatakan, awalnya mendaftar pada Oktober 2014 lalu saat PT Garuda Maintenance Facility (GMF) membuka pendaftaran di Polinema. Sindhu yang baru saja lulus langsung tertarik untuk mencari pengalaman kerja di dunia penerbangan dengan berbekal ilmu kelistrikan yang dia peroleh di bangku kuliah.

”Dulu saat mendaftar tidak kepikiran menjadi mekanik pesawat,” kata gadis yang juga hobi menulis di blog ini.

Saat tes wawancara, Sindhu ditawari sebagai planner atau mencatat perbaikan pesawat sehingga tidak berhubungan dengan mesin pesawat secara langsung. Sindhu menolak tawaran itu dan memilih menjadi mekanik pesawat.

”Saya tak suka kalau bekerja di depan komputer saja. Dengan rasa percaya diri, saya memilih menjadi mekanik saja,” kata Sindhu.

Kunci kesuksesannya bisa masuk di perusahaan pesawat terbesar di Indonesia ini karena lancar berbahasa Inggris. Banyak temannya yang gagal saat tes bahasa Inggris, sementara Sindhu melaju ke tes berikutnya dan diterima menjadi mekanik. Lalu dia menjalani pelatihan semimiliter untuk mendapatkan lisensi mekanik. ”Kalau saya tak memilih menjadi mekanik pesawat, tidak mungkin masuk pelatihan yang sangat sulit itu,” kata gadis berusia 24 tahun ini.

Menurut dia, pelatihan menjadi mekanik pesawat secara semimiliter berjalan hampir satu tahun. Awalnya, Sindhu mempelajari bagian-bagian dari pesawat hingga sistem kelistrikannya. Tidak hanya digembleng melalui kelas mekanik, Sindhu kemudian harus menjalani ujian akhir dari Direktorat Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKUPPU).

”Alhamdulillah, saya bisa lulus dari tes mekanik pesawat dan mendapatkan lisensi,” kata penyuka dunia fotografi ini.

Sindhu menambahkan, kesuksesannya saat ini tak lepas dari dukungan yang besar dari orang tuanya. Apalagi dirinya seorang perempuan, sehingga awalnya cenderung membuat orang tua khawatir. Namun, berkat usahanya tersebut, Sindhu berhasil mengembangkan skill-nya hingga menjadi mekanik pesawat.

”Dukungan orang tua sangat besar. Mereka sangat perhatian dan memberikan kepercayaan kepada saya,” ujarnya.

Dia berharap, semakin banyak mekanik pesawat dari kalangan kaum hawa. Sebab, pada dasarnya kaum hawa pun juga mampu menjadi seorang mekanik.

Dia mengungkapkan, pekerjaan sebagai mekanik pesawat memang harus meluangkan banyak waktu di pesawat. Bahkan, menjelang Lebaran, dia masih berkutat dengan mesin pesawat.

Pewarta: Aris Syaiful
Penyunting: Kholid Amrullah
Foto: Karima Sindhu