Hope 313 oleh Kurniawan Muhammad.

Beberapa calon yang berkontestasi di Pemilihan Wali Kota Malang (Pilwali Malang) 2018 pernah curhat kepada saya soal adanya kampanye negatif yang menyerang mereka. Ada calon yang diserang dengan isu Wahabi dan Hizbut Tahrir. Ada juga calon yang namanya dicatut, dikait-kaitkan dengan kasus korupsi. Ada calon lainnya yang diserang dengan isu pribadi.

”Kami berharap media Anda bijak dalam menyikapi berbagai macam isu yang menyerang kami,” selalu seperti ini permintaan dari para calon yang curhat kepada saya. ”Insya Allah,” jawab saya.

Pada tulisan sebelumnya, saya pernah menjelaskan tentang perbedaan dari kampanye negatif dan kampanye hitam (baca Jawa Pos Radar Malang edisi 27 Januari 2018).

Ada baiknya jika pada tulisan ini saya ulas lagi tentang perbedaan antara kampanye negatif dan kampanye hitam, dengan sedikit penambahan.

Kampanye hitam merupakan model kampanye dengan cara membuat suatu isu atau gosip yang ditujukan kepada pihak lawan, tanpa didukung fakta atau bukti yang jelas (fitnah). Sedangkan kampanye negatif merupakan model kampanye yang lebih menonjolkan dari sisi kekurangan lawan politik, di mana yang ditonjolkan itu berangkat dari adanya fakta atau bukti di lapangan.

Dalam praktiknya, masyarakat terkadang sulit membedakan, apakah isu yang dilempar itu kampanye negatif ataukah kampanye hitam. Meskipun sebenarnya sangat gampang untuk membedakan kampanye negatif atau kampanye hitam. Kata kuncinya adalah pada ”fakta”.

Saya ambil contoh di Amerika Serikat. Mengapa Amerika Serikat? Selain karena menjadi model ideal bagi pelaksanaan kontestasi politik yang demokratis, alasan lainnya karena sedikit banyak saya pernah mendapatkan penjelasan dan review tentang bagaimana kontestasi politik di Amerika, ketika mengikuti IVP (International Visitor Program) 2008 lalu.

Pada kontestasi politik di Amerika Serikat, apakah itu pada perhelatan pemilihan anggota kongres, pemilihan anggota senat maupun pemilihan presiden, isu kampanye negatif dan kampanye hitam selalu saja bersliweran. Tapi, yang banyak terjadi di sana adalah serang-menyerang kandidat. Dan ini cenderung mengarah kepada kampanye negatif.

Seperti yang dilakukan dua partai besar di Amerika: Partai Republik dan Partai Demokrat. Ketika akan menyerang kandidat yang menjadi lawan politiknya, tim sukses kedua partai itu sama-sama melakukan riset panjang, penelusuran dan bahkan investigasi terhadap kehidupan pribadi kandidat tersebut. Dari fakta-fakta itu, dicarilah isu-isu yang jika diangkat bisa memalukan si kandidat, atau setidak-tidaknya bisa membuat penilaian yang buruk terhadap figur si kandidat.

Kampanye negatif yang dilakukan di Amerika dilakukan dengan sangat serius. Berbasis pada riset yang panjang, dan pada tahapan tertentu dilakukan pengujian terhadap keakuratan dari fakta yang didapat. Mereka menguras banyak sumber daya dan uang untuk itu.

Mengapa sampai begitu seriusnya melakukan penelusuran atau investigasi terhadap kandidat, demi untuk sebuah kampanye negatif? Itu semua dilakukan untuk menunjukkan kepada publik tentang semua hal mengenai kandidat tersebut. Harapannya, jika keburukan kandidat terungkap, maka pemilih suka atau tidak suka, memilih kandidat yang lain. Dan hal seperti ini, sesungguhnya sah-sah saja terjadi di negara demokratis.

Nah, persoalannya di Indonesia, antara kampanye negatif dan kampanye hitam bercampur aduk. Partai-partai yang membentuk tim sukses menjelang pemilu atau pilkada (pemilihan kepala daerah), cenderung lebih mudah menyerang dengan kampanye hitam ketimbang dengan kampanye negatif. Isu yang digunakan sebagai bahan untuk menyerang, tidak selalu berdasarkan fakta. Tapi, berdasarkan dugaan-dugaan, asumsi-asumsi, atau interpretasi yang minim data.

Misalnya, hanya karena seorang kandidat mendatangi sebuah komunitas. Dan komunitas itu diasumsikan menganut aliran tertentu. Lalu si kandidat difoto, kemudian fotonya disebar-luaskan. Dan pada foto itu dibuatlah sebuah narasi yang menyebut si kandidat adalah pengikut aliran tertentu itu. Penyebutan si kandidat dengan aliran tertentu, bisa berdampak kurang bagus bagi pencitraannya. Apakah ini kampanye hitam atau kampanye negatif? Jelaslah jika seperti ini modusnya, maka ini adalah kampanye hitam.

Di Amerika, sangatlah tegas bedanya, antara kampanye hitam dan kampanye negatif. Di Amerika, yang melakukan kampanye hitam dianggap tidak menggunakan etika dalam berpolitik. Tapi, di sana, kampanye negatif justru diperlukan untuk melihat track record kandidat secara utuh. Agar masyarakat tidak salah pilih.

Di sinilah pers harus berhati-hati. Sebuah kampanye negatif atau kampanye hitam, butuh media sebagai penyebar isu yang diembuskan.

Sekilas, saya melihat di hampir semua media massa di Malang, mulai media cetak, elektronik, hingga online, dalam memberitakan aktivitas para calon di Pilwali Malang 2018, relatif masih proporsional dan cenderung berhati-hati. Memang, ada satu-dua saja yang sangat kelihatan ”gaya menyerangnya”. Tapi, dalam pandangan saya, masih bisa dianggap ”proporsional”. Semoga ke depan akan selalu seperti itu, hingga hari H pencoblosan. (kritik dan saran: ibnuisrofam@gmail.com/IG: kum_jp)

Oleh: Kurniawan Muhammad – Penulis adalah Magister Ilmu Politik FISIP Unair