Hope 313 oleh Kurniawan Muhammad

Seorang teman bertanya kepada saya: ”Apa bedanya negative campaign (kampanye negatif) dan black campaign (kampanye hitam)”.

”Mengapa nggak tanya ke Mbah Google aja?” Saya balik bertanya kepada dia.

Tapi saya menyangka, teman saya ini sedang ”menguji” saya. Saya menyangka, teman saya ini secara tersirat ingin mengingatkan saya, bahwa media tempat saya berada harus jeli dan berhati-hati, dalam menyikapi kampanye negatif dan kampanye hitam. Apalagi di saat Kota Malang sedang punya hajatan politik: Pemilihan Wali Kota Malang 2018.

Menurut Agung Suprio, pengamat politik dari Universitas Indonesia, beda antara kampanye hitam dan kampanye negatif adalah terletak pada fakta. Kampanye negatif berbasis pada fakta. Yakni, pengungkapan fakta kekurangan atau kelemahan dari seorang calon atau kandidat. Sedangkan kampanye hitam tidak berdasarkan fakta. Sering berdasarkan asumsi. Sering berupa sebuah tuduhan yang merupakan fitnah atau hoax.

Jadi, jelaslah bahwa hoax itu adalah kampanye hitam. Sedangkan kampanye negatif bukanlah kampanye hitam. Tapi, dua-duanya sama-sama berdampak bisa menjatuhkan calon atau kandidat.

Di era yang serbadigital ini, kampanye hitam dan kampanye negatif marak terjadi di dunia maya. Dunia mayalah untuk saat ini, tempat paling ”basah” untuk terjadinya kampanye hitam dan kampanye negatif.

Apakah kampanye hitam dan kampanye negatif bisa menjatuhkan seorang calon? Bisa atau tidaknya, menurut saya, sangat bergantung dari masyarakatnya. Selain itu, juga sangat bergantung dari seberapa isu yang diangkat sebagai bahan untuk kampanye negatif maupun kampanye hitam. Seberapa isu itu berdeviasi terhadap fakta. Dan, seberapa isu itu dipercaya masyarakat.

Untuk kasus kampanye hitam dan kampanye negatif ini kita bisa melihat contoh kasus di London, Inggris. Yakni, terpilihnya Sadiq Khan sebagai Wali Kota London, periode 2016–2020. Dilihat dari namanya saja, sudah langsung bisa dibayangkan, bahwa dia seorang muslim dan dia bukan warga asli London. Tapi seorang keturunan Pakistan bermarga Khan.
London adalah kota terbesar di Inggris. Bahkan kota ini merupakan salah satu kota terbesar di dunia. London adalah pusat seni dan budaya di dunia. Di sini ada klub-klub besar dunia: Chelsea, Arsenal, dan Tottenham. Muslim di London termasuk minoritas, hanya sekitar 12 persen. Tapi, Khan yang berasal dari golongan minoritas dan agama minoritas di London (Islam), berhasil terpilih menjadi wali kota. Sungguh, sebuah capaian yang luar biasa. Apalagi, saat itu Khan yang berasal dari Labour Party (Partai Buruh) berhasil mengalahkan Zac Goldsmith yang diusung oleh Conservative Party (Partai Konservatif), yang jelas-jelas didukung oleh Perdana Menteri David Cameron.

Selama proses mencalonkan diri, dan selama proses kampanye, Khan sering menjadi sasaran kampanye hitam dan kampanye negatif dari lawan-lawan politiknya.

Di Inggris berbeda dengan di Indonesia dalam konteks kampanye hitam atau kampanye negatif. Di Indonesia, biasanya kampanye hitam dilakukan secara sembunyi-sembunyi melalui tim sukses, dan lain-lain. Dan biasanya kalimat yang digunakan kasar. Tapi kalau di London, kampanye hitam dilakukan secara terang-terangan oleh calon lain maupun pendukung calon, dan sifatnya biasanya lebih halus.

Adanya kampanye hitam terhadap Sadiq Khan dalam proses politik pemilihan wali kota di London diungkap oleh Anita Vasisht, seorang lawyer keturunan British-Indian. Ketika itu, Anita menulis, pada 15 Maret 2016, dia menerima sebuah surat print out dari PM Inggris David Cameron. Di surat tersebut ada beberapa kalimat yang menurut Anita aneh dan mengundang kontroversi. Di antara tulisan Anita adalah: ”…Cameron described the policies of Jeremy Corbyn’s candidate Sadiq Khan as “dangerous”. If Khan won, Cameron said, “Londoners will become lab rats in a giant political experiment”

Inti dari surat itu adalah, Cameron (PM Inggris) memberikan penjelasan sekaligus me-warning, betapa bahayanya London jika dipimpin oleh Sadiq Khan. Kata dia, jika Khan menang, maka warga London akan dijadikan tikus percobaan oleh Jeremy Corbyn (Ketua Partai Buruh) dalam sebuah eksperimen politik yang besar.

Surat Cameron ini sempat menyebar luas ke warga London. Ini jelas kampanye hitam. Karena isu yang diangkat hanya berdasarkan asumsi dan interpretasi. Bukan dari fakta yang sebenarnya.

Tak cukup hanya itu, surat Cameron yang lain yang menyudutkan Khan tertulis bahwa Khan jika menang, tidak akan bisa membuat London aman dari serangan teroris. Ini jelas-jelas menyerang Khan yang beragama Islam. Di mana di dunia barat, khususnya di Inggris, teroris memang sering diidentikkan dengan Islam. Bayangkan, sekelas perdana menteri pun di Inggris, berani terang-terangan melontarkan isu yang jelas-jelas adalah kampanye hitam. Isu dilontarkan hanya berdasarkan asumsi. Bukan fakta.

Kampanye hitam untuk Khan saat itu juga gencar dilakukan di media sosial melalui video di YouTube. Sejumlah orang meng-upload dan menjadikannya sebuah hastag: London has Fallen (London telah Jatuh). Ini jelas-jelas menyerang Khan. Seakan-akan kalau Khan terpilih, maka London akan jatuh. Ada juga yang meng-upload semacam testimoni yang menyebut: Sadiq Khan is an extremist (berhaluan garis keras).

Meski mendapat serangan kampanye hitam yang bertubi-tubi, termasuk dari perdana menteri, toh akhirnya Khan tetap terpilih menjadi wali kota London. Ini membuktikan satu hal, bahwa kampanye hitam tidak bisa serta merta menjatuhkan calon. Saya menduga, di era saat ini, di mana masyarakat semakin dipusingkan dengan berita-berita hoax, masyarakat sudah cukup cerdas untuk melihat dan menyikapi sebuah kampanye hitam. Apalagi kampanye hitam itu menyerang keyakinan ataupun ras/suku.

Melalui tulisan ini, saya berharap, tidak ada kampanye hitam maupun kampanye negatif dalam pemilihan wali kota (pilwali) Malang tahun ini. Anda yang tetap ingin menyerang calon dengan kampanye hitam, setidaknya berpikirlah tiga hal ini. Pertama, melakukan kampanye hitam adalah bentuk kegiatan yang berdosa besar. Karena kampanye hitam sama dengan fitnah. Dan fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. Kedua, masyarakat di era sekarang ini, apalagi masyarakat di perkotaan yang kebanyakan adalah masyarakat well educated, tidak akan mudah termakan isu-isu kampanye hitam. Mereka sudah cukup jeli dan cukup cerdas, mana yang kampanye hitam dan mana yang tidak. Ketiga, pelaku kampanye hitam bisa dijebloskan ke penjara. Ini berdasarkan Undang-Undang (UU) ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik).

Menurut UU tersebut, kasus kampanye hitam bisa diseret ke ranah hukum. Pelakunya bisa dijerat karena pelanggaran terhadap Pasal 27 Ayat (3) mengenai Pencemaran Nama Baik dengan ancaman 6 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar. Pelanggaran terkait dengan SARA juga bisa dijerat dengan Pasal 20 Ayat (2) tentang Penyebaran Kebencian dan Kerusuhan SARA.

Nah…berhentilah menebar kampanye hitam. Untuk para kandidat pasangan wali kota-wakil wali kota, ayo bersainglah secara sehat dan fair. Tonjolkan apa yang menjadi visi-misimu, pamerkan apa yang menjadi kelebihanmu, dan jangan mencari sisi-sisi kelemahan atau kejelekan lawanmu. Apalagi sampai melakukan fitnah. (kritik dan saran: ibnuisrofam@gmail.com/follow instagram: kum_jp)