GAYENG: Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Malang Dra Zubaidah MM berbaur dengan siswa pada grand final Green School Festival (GSF) di Graha Cakrawala Universitas Negeri Malang (UM), 25 November lalu.

2017, Tahunnya Go International

 

Siswa, guru, maupun sekolah-sekolah dari Kota Malang tak hanya diperhitungkan di tingkat nasional. Di level internasional, mereka juga tak bisa dipandang dengan sebelah mata. Tak terkecuali di tahun 2017 ini. Apa saja prestasinya?

***

Nama dua siswa kelas III SD Islam Sabilillah jadi perbincangan saat berhasil menyabet medali pada ajang Singapore International Mathematic Olympiad Challenge (SIMOC) Juli 2017 lalu. Daffa Atha Arkana meraih medali perak untuk kategori paper test, sementara Arsha Naufal meraih medali perunggu.

Bukan hal yang mudah meraih medali di ajang sekelas SIMOC. Sebab, Daffa dan Arsha harus bersaing dengan 900 peserta dari 18 negara. Di antaranya, Malaysia, Thailand, Tiongkok, Hongkong, hingga Taiwan.

Bagi Daffa dan Arsha, itu bukan kali pertama mereka meraih apresiasi di tingkat internasional. Sebelumnya, di bulan Mei, keduanya meraih medali pada ajang International Mathematics Wizard Challenge (IMWiC) di Xiamen Software Park Hotel, Tiongkok.

Sementara, bagi Kota Malang, bukan hanya Daffa dan Arsha yang meraih prestasi internasional. Tahun ini, ada nama Filardi Adiwidya, siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) Khadijah yang merengkuh prestasi pada ajang yang dihelat International Research Development for Human Beings (IRDH). Filardi mendapatkan apresiasi berkat penelitiannya tentang Regenerasi Energi Listrik.

Selain prestasi tingkat internasional, ada sejumlah siswa, guru, dan sekolah yang berjaya di ajang-ajang level nasional. Sebut saja, Lugas Firdinand Hamdi, siswa MTsN 1 peraih juara 1 Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang IPA, hingga Moh. Saiful Hafid MPd, guru SMAN 1 Malang yang mendapatkan juara 1 pada Program Satu Guru Satu Buku Kemendikbud.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Malang Dra Zubaidah MM menyatakan bangga atas prestasi yang diraih di tahun 2017. Dia berharap, apa yang tercapai di tahun ini bisa dilanjutkan pada tahun 2018 mendatang. Tapi, tentu saja, tahun depan tantangannya akan lebih besar. Sebab, sekolah-sekolah dari kota/kabupaten lain pasti berbenah guna menyambut 2018.

Zubaidah pun menekankan kepada guru-guru di Kota Malang agar tidak berhenti berinovasi. ”Tantangan pendidikan di abad 21 semakin besar. Di mana, guru juga harus bisa menguasai teknologi. Dunia pendidikan harus berbenah agar tidak monoton,” ujar mantan kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Malang ini ketika berbicara dalam sebuah forum beberapa waktu lalu.

Dia juga meminta guru-guru untuk melaksanakan tugasnya sesuai tugas pokok dan fungsinya (tupoksi). ”Insya Allah, kalau guru mau berusaha, pasti bisa. Baik untuk mewujudkan guru berprestasi maupun melaksanakan tanggung jawab sebagai guru. Serta, niatkanlah pekerjaan menjadi guru sebagai ibadah,” tutur perempuan yang juga ketua umum PGRI Kota Malang itu. (bin/c1/mf)