Tol Malang–Pandaan benar-benar menjadi kebanggaan warga Malang Raya. Tol tersebut adalah tol pertama yang ada di daerah ini. Bahkan, meski belum dibuka secara resmi, suasana di tol ini cukup ramai orang yang hilir mudik. Lalu, berapa tarifnya jika sudah resmi beroperasi?

Senja begitu indah terlihat di tol Malang–Pandaan. Saat tim jelajah Jawa Pos Radar Malang melintasi jalan tol Minggu lalu (3/6), ada beberapa pesepeda pancal yang melintas perlahan. Mereka terlihat begitu menikmati pemandangan matahari yang hendak terbenam.

Selain sejumlah pesepeda pancal, memang sudah banyak warga yang hilir mudik di tol yang akan beroperasi saat momen Lebaran ini. Hanya, mayoritas masih warga sekitar daerah tersebut yang melintas.

Saat wartawan koran ini berada di tol yang sudah jadi, ada seorang petugas keamanan yang terlihat mengawasi. ”Iya, setiap saat memang harus diawasi, biasanya ada balapan liar,” kata Lutfianto, salah seorang petugas keamanan.

Dia menjelaskan, beberapa waktu lalu memang ada sejumlah anak muda yang hendak menggeber sepedanya. Untungnya, sebelum balapan liar digelar, sudah ada satpam yang menghentikan.

”Sangat berbahaya, apalagi masih banyak kendaraan proyek yang besar-besar melintas,” imbuhnya.

Sementara itu, memang ada sejumlah peringatan tentang larangan balap liar di area proyek tol Malang–Pandaan. ”Sayangi nyawa Anda demi keluarga di rumah,” tulis pengumuman tersebut.

Diberitakan sebelumnya, pada momen mudik Lebaran ini, tol Mapan akan beroperasi separo. Yakni, dari Pandaan menuju Malang. Sementara ini exit tol terakhirnya di simpang tiga Karanglo. Sementara pengendara dari Malang menuju Pandaan belum bisa melintasi tol Mapan.

Dari Pandaan, tol beroperasi hingga daerah Sukorejo (Kabupaten Pasuruan). Setelah itu, pengendara melintasi jalan biasanya, lalu masuk tol lagi di daerah Sumber Wuni, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang. Setelah masuk tol, baru keluar lagi di pertigaan Karanglo. Panjang tol Sumber Wuni–Karanglo sekitar 8–12,5 kilometer.

Sedangkan untuk di jalan dari Sumber Wuni ke utara, yakni ke daerah Pasuruan masih belum difungsikan. Selain ada jembatan yang belum terhubung, ada tebing yang belum terbongkar. Tebing ini tingginya sekitar 20 meter. Tebing itu berada di dekat pabrik Pocari Sweat dan Molindo di Sumber Waras, Lawang.

Saat wartawan koran ini melintas, ada sekitar lima alat berat yang mengeruk tebing tersebut. Pembongkaran tebing ini terbilang cukup lama.

”Saya kerja di sini sudah enam bulan, sebelumnya sudah ada pengerjaan. Mungkin sudah sepuluh bulan tebing ini dibongkar,” kata Ahmadi, salah seorang pekerja.

Karena saat ini pengurukan tinggal 13 meter lagi, dia memperkirakan 3–5 bulan lagi pengerjaan tebing tersebut akan tuntas. ”Jadi, jika ditotal lebih setahun pengurukan untuk tebing ini saja,” pungkasnya.

Sementara itu, jika nanti tol Malang–Pandaan resmi beroperasi, maka nantinya akan dikenakan tarif. Untuk diketahui, tol dari Karanglo, Singosari–Sumber Wuni, Lawang yang beroperasi saat Lebaran adalah tol sementara dan digratiskan.

Lalu, jika sudah resmi beroperasi, berapa tarifnya? Dirut PT Jasa Marga Pandaan–Malang Agus Purnomo menjelaskan perkiraannya. Sesuai tarif tol pada umumnya, yakni Rp 800–Rp 900 dalam satu kilometer.

”Kalau dari Sawojajar ke Pandaan, panjangnya 38,5 kilometer,” katanya.

Dengan demikian, tarif perkiraan jika beroperasi Rp 34 ribu. Ini untuk kendaraan golongan 1 atau kendaraan pribadi. ”Untuk kendaraan besar seperti golongan dua dan tiga, lebih mahal tapi pastinya tidak tahu karena ada rumusnya,” pungkasnya.

Pewarta: Irham Thoriq
Penyunting: Irham Thoriq
Copy Editor: Dwi Lindawati