Sama seperti kawasan lain di Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, mayoritas penduduk Dusun Sumbergayam memeluk agama Nasrani. Meski begitu, toleransi terjaga di desa ini. Keberadaan Masjid Abi Bakar As-Siddiq menjadi salah satu buktinya.

Masjid Abi Bakar As-Siddiq berada di lokasi terpencil di selatan Desa Sitiarjo. Tepatnya di Dusun Sumbergayam, RT 50, RW 12.
Akses menuju ke dusun ini, salah satunya bisa melewati jalan di timur lapangan Desa Sitiarjo. Dari titik di timur lapangan itu, Dusun Sumbergayam berjarak sekitar 1,4 kilometer.

Sebagian jalan menuju ke dusun itu berupa rabat beton. Bahkan, 200 meter mendekati Masjid Abi Bakar As-Siddiq, jalannya masih berupa makadam batu kapur. Masjid Abi Bakar As-Siddiq menjadi bangunan terakhir di ujung selatan Dusun Sumbergayam.

Sebab, kawasan selatan dari dusun itu masih berupa hutan yang dikelola Perhutani. Meski berada di daerah terpencil, Masjid Abi Bakar As-Siddiq punya desain yang indah.

Masjid yang memiliki ukuran luas sekitar 12×20 meter itu mengadopsi desain Masjid Nabawi di Madinah. Di antaranya, bisa dilihat dari bentuk teras masjid serta kubahnya.

Keunikan lain dari masjid ini adalah keberadaan prasasti di atas salah satu pintunya. Prasasti itu memuat huruf-huruf Arab gundul. Salah satunya berbunyi ”Abi Bakar As-Siddiq”.

Mulawi, ketua takmir Masjid Abi Bakar As-Siddiq, menjelaskan, masjid itu dibangun pada 2004 silam. Tapi, inisiasi pembangunannya sudah dimulai jauh sebelum itu. Yakni, tahun 1996.

Kala itu, dengan bantuan pendanaan dari donatur, Mulawi membeli tanah dari seorang warga Nasrani di Dusun Sumbergayam. ”Waktu itu, harganya masih Rp 800 ribu untuk ukuran 12,5×20 meter,” katanya.

Setelah tanah itu terbeli, proses selanjutnya adalah meminta izin dari warga sekitar. ”Sebelum diajukan ke kepala desa, kami harus punya tanda tangan dari warga Dusun Sumbergayam,” ujar dia.

Kala itu, ada sekitar 40 kepala keluarga (KK), seluruhnya nonmuslim yang dimintai tanda tangan. ”Saya harus mendatangi rumah warga satu per satu,” kata dia.

Mulawi menyatakan, saat meminta persetujuan dari warga, dia tak menghadapi kendala apa pun. Sebab, warga Dusun Sumbergayam setuju ada masjid yang dibangun di wilayahnya.

Bahkan, ketika Mulawi menyebutkan bahwa masjid itu nantinya memiliki pengeras suara untuk azan lima waktu, warga nonmuslim tidak keberatan. ”Malah mereka senang misalnya ada azan Subuh. Sebab, itu membuat mereka bisa bangun pagi dan bersiap melakukan aktivitas,” ujar dia.

Meski sudah mengantongi izin dari warga, masjid itu tidak bisa langsung dibangun. Sebab, warga tak punya dana cukup untuk membangun masjid.

Sampai akhirnya, pada 2004 silam, berkat bantuan dari Kantor Urusan Agama (KUA) Sumbermanjing Wetan, Mulawi dihubungkan dengan Ustad Rohmat Arifin, seorang ulama asal Wajak. ”Beliau ini punya koneksi dengan donatur dari Arab Saudi,” ujar dia. Kebetulan, donatur itu punya rencana membangun 100 masjid di daerah-daerah terpencil di Indonesia.

Sebelum sepakat membangun masjid, survei lebih dulu dilakukan. ”Ustad Rohmat ingin memastikan apakah sudah tepat pembangunan masjid itu dilakukan,” kata dia.

Saat survei itu dilakukan, di Desa Sumbergayam sudah ada 20 KK warga muslim. ”Selain itu, tanahnya juga sudah tersedia. Tidak ada masalah. Makanya, prosesnya cepat. Jadi, Jumat pertama itu survei, Jumat kedua penentuan kiblat, Jumat ketiganya baru mulai membangun,” ungkapnya. Total, pembangunan Masjid Abi Bakar As-Siddiq menghabiskan dana Rp 130 juta.

Setelah masjid itu terbangun, warga tidak perlu jauh-jauh ke dusun tetangga untuk melaksanakan salat berjamaah, terutama salat Jumat. Pun demikian, aktivitas pengajian untuk anak-anak yang sebelumnya digelar di rumah Mulawi bisa pindah ke masjid.
Mulawi menyatakan, saat ini ada sekitar 20 anak yang belajar ngaji di Masjid Abi Bakar As-Siddiq. ”Tapi yang aktif sekitar 15 anak. Jam ngajinya setelah salat Magrib hingga menjelang Isya,” pungkasnya.

Pewarta: Mufarendra
Editor: Dwi Lindawati
Fotografer: Mufarendra