Virus olahraga lari telah menjalar total di keluarga besar Wirjoto. Karena hampir semua anggota keluarganya, mulai ayah, ibu, anak, kakek, dan cucu, selalu ikut serta berlaga di event lari. Yang terbaru adalah keikutsertaannya dalam event The Malang Marathon, Minggu (29/7). Apa motivasinya?

Beberapa orang yang membawa banner ukuran 1×4 meter itu tampak menjadi pusat perhatian dalam event The Malang Marathon 2018, Minggu lalu (29/7). Bahkan, beberapa peserta lain juga meminta selfie bersama mereka sambil membawa banner bertuliskan ”kakek-bapak-nenek-anak-cucu, lari-finish-selfie-makan” itu.

Namun, jangan salah, mereka bukan-artis ibukota yang didatangkan untuk memeriahkan event yang diikuti 2.050 peserta dari berbagai negera itu. Melainkan mereka adalah satu keluarga yang selalu kompak menekuni olahraga yang sama: lari. Bahkan, mereka juga sering ikut lomba marathon bersama keluarga besarnya.

Mereka adalah keluarga besar Wirjoto, peserta The Malang Marathon dari Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Pria kelahiran 2 Maret 1947 ini mengaku jatuh cinta pada olahraga lari karena sang istri, Endah Dwi Rahayu, yang berusia 10 tahun lebih muda ketimbang Wirjoto.

Karena istrinya saat itu adalah seorang atlet voli dan juga penghobi lari. Sehingga, olahraga lari merupakan alat baginya untuk pendekatan kepada bakal calon istrinya, Endah. Karena sang istri dahulunya menjadi primadona, banyak yang naksir agar diterima menjadi kekasihnya. ”Olahraga itu seperti merawat cinta saya pada istri. Saya katut istri,” kata Wirjoto kepada Jawa Pos Radar Malang sambil tersenyum.

Singkat cerita, olahraga tersebut tidak berhenti saat sudah ”menyegel” hati sang istri. Namun, hobi tersebut berlangsung hingga sekarang. Bahkan, kebiasaan pola hidup sehat tersebut juga dengan sendirinya mengalir ke tiga anak dan cucunya. ”Nggak ada paksaan. Mungkin karena melihat saya dan istri juga hobi lari, mereka pun ikutan,” tutur pria tiga anak ini.

Soal olahraga lari, semasa muda, pria 71 tahun ini juga penghobi berat lari. Bahkan dia pernah mengukir prestasi di lomba lari yang diselenggarakan Kabupaten Malang. Tepatnya event yang diselenggarakan di Kecamatan Bululawang pada tahun 1976 silam. ”Waktu itu saya juara pertama. Tapi saya lupa, bupatinya pas siapa waktu itu,” ujarnya.

Tentang jarak tempuh, Wirjoto mengaku tidak pernah memaksakan jarak tempuh kepada anak maupun cucunya dan dibebaskan untuk memilih sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Misalnya pada acara The Malang Marathon 2018, dia memilih jarak 10K, sementara anak dan cucunya ikut di jarak 21K dan 5K. ”Nggak boleh dipaksakan, harus disesuaikan dengan kemampuannya. Tujuan utamanya untuk kesehatan, bukan cari juara,” terang pria tiga cucu tersebut.

Wirjoto ingin menekankan pada keluarganya bahwa olahraga itu sangat penting guna menjaga kondisi tubuh tetap sehat. Soal pilihan ragam olahraga pun, kepada anak dan cucunya, tidak mesti lari tetapi juga bisa cabang olahraga lain sesuai dengan pilihannya masing-masing.

”Kesehatan itu penting, salah satu cara biar tetap sehat ya olahraga, apa pun macam pilihan olahraganya. Kebetulan saja kami suka lari,” ungkapnya.

Ardi Santoso, anak pertama Wirjoto, mengaku tidak pernah dipaksa ayahnya untuk menekuni olahraga lari. Karena awalnya dia menekuni olahraga sepak bola, namun dalam tiga tahun terakhir ini beralih ke olahraga lari. ’Mungkin kebawa ayah dan ibu. Seru saja kalau olahraga bareng dan pastinya ada kebersamaan bareng anggota keluarga,” imbuh Ardi. Kebiasaan olahraga lari rutin mereka lakukan di daerahnya ketika akhir pekan dengan jarak tempuh 5-10K. ”Lari ibaratkan hiburan kami sekeluarga di akhir pekan,” ungkapnya.

Dia mengaku, ada cerita yang sulit dilupakan saat mengikuti event lomba lari di daerahnya. Tepatnya saat sang ayah tersesat. Karena larinya melintasi hutan Kaliandra, Pasuruan, dan petunjuk arahnya hanya dengan kertas. Kemungkinan petunjuk arah hilang saat sang ayah melintas. ”Saya sampai minta diumumkan di speaker, tapi akhirnya tiba di lokasi juga,” kenang anak pertama dari tiga bersaudara ini.

Sang ibu juga punya peran penting dalam menyukseskan olahraga lari di keluarganya. Karena saat mengikuti event ke luar kota, sang ibulah yang menyiapkan masakan. Menunya olahan ayam. Namun sayang, sang ibu tidak diizinkan dokter, saat event The Malang Marathon 2018 tersebut, karena kondisi kesehatannya tidak memungkinkan.

”Ibu nggak diizinkan ikut sama dokter waktu di Malang kemarin,” imbuhnya.
Ke depan, kebiasaan tersebut akan terus dilestarikan kepada anak dan cucunya. Karena lari merupakan olahraga yang murah dan mudah. ”Harus dilestarikan, karena olahraga paling gampang dan murah. Butuhnya cuma niat saja,” harap dia.

Pewarta: Imam Nasrodin
Editor: Amalia
Penyunting: Mardi Sampurno