Ironi Pendidikan di Lingkungan Kemenag, MTs Zikir Pikir Memprihatinkan

Madrasah yang dibangun atas tanah wakaf itu nyaris tidak mendapatkan perhatian yang layak dari pemerintah. Separuh gedungnya terbuat dari papan dan semen, sedangkan plafonnya rusak di beberapa bagian.

Madrasah yang dibangun karena keprihatinan masyarakat terhadap kondisi pendidikan ini memanfaatkan gedung pinjaman dari pemerintahan desa. Dalam kesehariannya, saat ini madrasah itu mendidik 38 siswa. Semuanya dididik oleh 8 tenaga pengajar. Mirisnya, sang pengajar hanya diberikan honorarium mengajar sebesar Rp 30 ribu per bulan.

Kondisi itu baru diketahui oleh pihak Kementerian Agama (Kemenag) dan membuat mereka terperangah. Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Kemenag, Suyitno mengaku, saat ini masih ada sejumlah madrasah yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat. Kondisinya sangat memprihatinkan, salah satunya MTs Zikir Pikir

Untuk Madrasah ini, Suyitno mengaku jajarannya akan segera menindaklanjuti untuk segera memberikan solusi. Timnya akan segera meninjau ke lokasi untuk memastikan pendataan gurunya agar dapat dialokaskan dalam anggaran tunjangan insentif dari Kemenag.

“Insyaallah, Senin ada tim dari bidang madrasah Provinsi Bengkulu yang ke lokasi. Kami akan mencoba menghitung dana BOS yang mereka terima. Berapa persen yang dialokasikan untuk honor, dan operasional kebutuhan madrasahnya,” ujarnya, Sabtu (13/01).

Sedangkan terkait sarana prasarana, pihaknya telah berkoordinasi dengan Kabid Pendidikan Madrasah Bengkulu untuk segera mengusulkan beberapa kebutuhan yang dinilai urgen kepada Direktorat KSKK.

“Berkaitan dengan bantuan ruang kelas baru (RKB), akan segera kami usulkan. Tapi sebelumnya akan kami pastikan kalau mereka sudah mempunyai lokasi lain. Sebab, lokasi yang saat ini ditempati tidak memungkinkan untuk dibangun,” sambungnya.

“Semoga tahun ini kami bisa segera hadir di sana untuk memberikan bantuan,” harap Suyitno.

Sependapat dengan Suyitno, Direktur KSKK Madrasah Uma menegaskan, pihaknya memiliki komitmen untuk terus berupaya mencarikan solusi bagi madrasah yang dalam kondisi memprihatinkan. “Saya sudah berkoordinasi dengan pihak perbankan juga. Mereka komit untuk memberikan bantuan melalui dana CSR. Semoga ini bisa segera terrealisasi,” ujarnya.

Terpisah, seperti yang dilansir RMOL Bengkulu (Jawa Pos Group), Kepala Kantor Kementerian Agama (Kakan Kemenag) Kabupaten Lebong, Junni Muslimin menyebut, saat ini MTs Zikir Pikir saat ini hanya mendapatkan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang dianggarkan dari Kemenag. Jumlahnya sebesar Rp 32 juta per tahun.

Dana bos itu dicairkan sekali triwulan, yakni Januari-Maret, April-Juni, Juli-September dan Oktober-Desember.

Pengelolaan dana BOS itu ke pihak sekolah. Kalau itu madrasah swasta, maka tergantung kebijakan dari yayasannya. “Kalau swasta statusnya kan yayasan dan dikelola langsung oleh masyarakat. Artinya, kebijakan diserahkan kepada masing-masing yayasan. Baik itu untuk gaji guru di sekolah itu sendiri,” sebut Junni.

Selain MTz Zikir Pikir, ada tujh madrasah lainnya yang mendapat perhatian dan pembinaan dari Kemenag Kabupaten Lebong. Jadi totalnya ada 9 sembilan madrasah. Tiga di antaranya berstatus swasta dan enam negeri.


(jpg/rgm/JPC)