Romadhon Abdul Muntholib belajar tanpa teman di kelasnya bersama sang guru Miseri, kemarin (29/11)

MALANG KOTA – Rencana insentif untuk guru bukan pegawai negeri sipil (PNS) di lingkup Kementerian Agama (Kemenag) menjadi kabar gembira bagi para guru. Meski tak semuanya bakal menerima, insentif sebesar Rp 250.000 per bulan itu diangggap sangat berarti. Hanya, hingga kemarin (13/2) kabar gembira tersebut masih belum akan terwujud dalam waktu dekat.

Rencana insentif yang tertuang dalam Keputusan Menteri Agama Nomor 1 Tahun 2018  tersebut disebutkan sebesar Rp 250.000 setiap bulan dan berlaku mulai tahun ini. Kepala Kantor Kemenag Kota Malang Dr H Mohammad Zaini MM MBA mengaku sudah mengetahui terbitnya keputusan Kemenag tersebut. Pihaknya masih menunggu juknis (petunjuk teknis) serta berapa anggaran yang diploting untuk guru non-PNS Kemenag Kota Malang.

”Kami masih menunggu kabar dari pusat. Kalau belum, apa yang mau dibagi? Kriteria penerimanya bagaimana juga belum jelas,” terang Zaini.

Saat ini Kemenag pusat tengah melakukan proses buka blokir sekaligus realokasi anggaran dari Direktorat GTK (Guru dan Tenaga Kependidikan) untuk didistribusikan ke Kemenag kabupaten/kota. Untuk itu, para guru diharapkan bersabar. ”Kita tunggu juknis dan juga uangnya,” katanya.

Menurut Zaini, masa menunggu ini tidak bisa diprediksi. Sebab, pada tahun lalu, bantuan yang menjadi hak guru malah keluar sekitar bulan Agustus. Namun yang pasti, Zaini berharap intensif ini tidak seperti program inpassing. Lantaran, SK program tersebut keluar tahun 2015, namun realisasinya baru dilakukan tahun 2017.

Zaini juga menegaskan, guru yang berhak menerima insentif juga harus memenuhi kriteria. Yakni, guru yang belum menerima bantuan insentif serupa dari manapun. ”Kalau yang sudah dapat bantuan dari diknas atau dari pemkot, ya tidak dapat,” ujarnya.

Mengenai jumlah penerima, Zainy menyatakan belum tahu. ”Kalau Malang, jumlah berapa belum tahu. Nunggu, karena harus by name. Tidak akan luput. Langsung ke rekening masing-masing,” ujarnya.

Namun, para guru non-PNS sudah mengharap bisa masuk dalam daftar penerima insentif. ”Mudah-mudahan dengan adanya insentif tersebut bisa lebih menumbuhkan semangat bagi GTT dalam menjalankan tugasnya di madrasah,” ujar Hilyatul Aulia, guru dari MTsN 2 Kota Malang.

Salah satu guru di MI Miftahul Ulum Ciptomulyo, Eriska Puspita Santi, berharap bahwa hal ini benar-benar terealisasi, khususnya untuk guru non-PNS yang membutuhkan.

”Karena mungkin ada sekolah yang guru-gurunya lebih butuh dibandingkan dengan di sekolah saya. Misal, seperti yang sudah berumah tangga, kan juga butuh pemasukan besar,” katanya.

Pewarta : Imarotul Izzah
Penyunting : Ahmad Yani
Copy Editor : Arief Rohman
Foto: Darmono