Meski baru dua tahun belajar bahasa Jerman, prestasi yang diraih Idi Pangesti membanggakan. Namanya masuk empat besar dalam Olimpiade Bahasa Jerman pada akhir Januari 2018. Bersama enam siswa yang berasal dari penjuru Indonesia, siswi kelas XI SMA Negeri 1 Lawang ini dapat hadiah terbang ke Jerman.

Memiliki sifat pemalu yang menjadi karakter Idi bukan alasan baginya untuk tidak berprestasi. Berawal dari iseng mengikuti program bahasa Jerman di ajang Olimpiade Bahasa Jerman yang digelar Goethe Institut pada 29 Januari lalu, Idi berhasil menempati peringkat keempat. Kompetisi ini diikuti 70 peserta terbaik yang berasal dari penjuru Indonesia. Sesuai dengan komitmen penyelenggara, selama sebulan 6 siswa yang meraih nilai tertinggi dalam kompetisi tersebut akan diberangkatkan ke Jerman untuk mengikuti studi kebahasaan Juli mendatang.

Ditemui di sekolahnya kemarin (13/2), Idi didampingi dua guru pembimbing dan satu rekannya yang juga mengikuti kompetisi yang sama, yakni Sherinkeshia Usagi. Sebelum diumumkan lolos menjadi juara, Idi dan Sherin sama-sama lolos mewakili Malang Raya untuk maju pada kompetisi di tingkat Jawa Timur.

Mereka berdua tampil cemerlang menyisihkan perwakilan dari Jawa Timur hingga maju ke tingkat nasional.
Kompetisi ini diselenggarakan Goethe Institut, salah satu lembaga belajar bahasa Jerman di Indonesia, bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kedutaan Besar Jerman untuk Indonesia di Jakarta.

Sebelum ikut kompetisi, baik Idi maupun Sherin mengaku berlatih dan belajar secara intensif didampingi pihak sekolah. ”Satu bulan sebelum olimpiade, kami fokus hanya belajar bahasa Jerman,” kata Idi.

Keduanya mendapat perlakuan khusus dari pihak sekolah, yakni hanya mempelajari bahasa Jerman mulai pukul 07.00–16.00. Bahkan, mereka juga belajar hingga pukul 17.00 selama 6 hari dalam seminggu.

Kebijakan sekolah tersebut benar-benar dimanfaatkan Idi dan Sehrin untuk mengasah banyak perbendaharaan kosakata selain melatih kemampuan berbicara, menulis, membaca, dan mendengar dalam bahasa Jerman. Disamping belajar lewat buku, mereka juga intens menjalin hubungan pertemanan dengan asli orang Jerman.

”Sama seperti bahasa Indonesia, dalam kosakata bahasa Jerman juga ada kata-kata tidak baku yang sering mereka gunakan. Nah, supaya saya bisa memahami maksud mereka, saya juga harus belajar kosakata tersebut,” beber putri pasangan Slamet Sugiono dan Liswatin ini.

Sebelum menginjakkan kaki ke Negeri Hitler, dalam waktu dekat rencananya Idi akan mengikuti ujian kompetensi kesetaraan program B1 di salah satu lembaga mediator bahasa dan budaya Jerman di Indonesia Timur. Dengan mengikuti program kesetaraan tersebut, kemampuan Idi untuk casciscus dalam bahasa Jerman sudah tersertifikasi secara resmi dan bisa dia jadikan bekal untuk melanjutkan program pembelajaran ataupun pendidikan kebahasaan di tingkat selanjutnya.

Pewarta: Farik Fajarwati
Penyunting: Achmad Yani
Copy editor: Dwi Lindawati
Foto: Darmono