Kapolrestabes Bandung Kombes Pol Hendro Pandowo

Berawal dari, penyebaran berita bohong atau hoax di media sosial salah satu netizen, yang meng-upload foto seorang jemaat Kristiani yang mengikuti prosesi Ibadah di GPIB Maranatha, Bandung pukul 17.00 WIB lalu. Seorang jemaat yang dituduh terduga teroris bernama Gian, warga domisili Sawangan, Depok.

Gian dicurigai pihak Gereja karena bukan jemaat yang biasa beribadah di sana. Kemudian, dirinya didatangi dan ditanya seorang pendeta. Namun, Gian mengaku dirinya seorang tunarungu.

Setelah ibadah, seorang jemaat mengirim foto Gian yang sedang beribadah kepada satu jemaat yang bertugas di wilayah Polrestabes Bandung, bernama Roger. Namun, tak disangka, jawaban Roger menyebut kalau Gian adalah salah satu terduga teroris. Dianggap meresahkan karena Gian telah mengikuti ibadah dari awal hingga akhir, akhirnya berita tersebut tersebar.

Kapolrestabes Bandung, Kombes Pol Hendro Pandowo mengatakan berita terkait adanya salah satu terduga teroris di wilayah hukum Polrestabes Bandung merupakan berita hoax. “Iya itu hoax, kemungkinan dia adalah jemaat baru,” kata Hendro kepada JawaPos.com, Selasa (15/5).

Berita tersebut merupakan hoax, sehingga jajaran Polrestabes Bandung terus mengimbau kepada masyarakat Bandung untuk lebih jeli lagi dalam menerima dan menyebar informasi. Maka dari itu, kata Hendro masyarakat harus diingatkan secara masif. “Masyarakat harus terus diingatkan agar anti hoax,” ujarnya.

Sebelumnya, Ketua Lembaga Pendidikan Art Therapy Center Widyatama, Anne Nurfarina, mengklarifikasi dan menjamin bahwa Gian adalah mahasiswa jurusan Desain Grafis angkatan 2015. Dia penyandang tunarungu, dan sejak sore ini (kemarin, red) dituduh sebagai penyusup di sebuah Gereja di Bandung dan dicurigai sebagai teroris.

Menurutnya, Gian salah satu jemaat penganut agama Kristen yang sedang beribadah. Namun, karena bukan anggota jemaat di Gereja tersebut lantas dicurigai seperti sebagai terduga teroris.

“Klarifikasi ini perlu saya sampaikan ke ruang publik karena baru saja tim pengajar kami mengidentifikasi bahwa berita ini sudah tersebar dan dishare oleh beberapa pihak baik melalui Facebook atau Instagram,” kata Anne.

Maka, lanjutnya, bagi siapa pun yang sudah terlanjur menge-share informasi hoax tersebut diharap untuk segera menghapusnya.


(ce1/ona/JPC)