CINTA memang bukan segala-galanya dalam membina rumah tangga. Tapi, tanpa cinta, rumah tangga gampang goyah. Itulah yang dialami Markucel, 39, warga Kecamatan Sukun, Kota Malang. Belum genap setahun mengarungi bahtera rumah tangga bersama Markonah, 34, warga Kecamatan Kedungkandang, keduanya sering bertengkar.

Tentu Markucel bukan ABG (anak baru gede) yang mengelu-elukan cinta. Pria yang kesehariannya sebagai karyawan swasta itu berkeyakinan, ada kebutuhan lain yang lebih penting di luar urusan cinta. Yakni, perekonomian. Barangkali dia beranggapan, jika uang melimpah, semuanya menjadi mudah.

Prinsip itulah yang membuat dia nekat menikahi Markonah meski tanpa didasari rasa cinta. Berbagai upaya pun dia lakukan untuk menumbuhkan rasa cinta. Misalnya setelah melangsungkan pernikahan pada 9 April 2017, mereka langsung bulan madu. Menyadari tugas suami adalah memuaskan istrinya, Markucel menyiapkan jurus KPK (kenikmatan penuh kepuasan).

Selain mengajak Markonah ke BNS (bobok nang Songgoriti), Markucel juga berbulan madu ke Bandung. Kebetulan, Markonah mempunyai saudara di Bandung sehingga mereka tidak membuang uang untuk menyewa kamar hotel. Tapi, mereka cukup menginap di rumah saudara Markonah. Dipilih Kota Bandung karena hawanya dingin sehingga Markucel bisa berlama-lama menikmati kemolekan tubuh Markonah.

Mungkin Markucel bisa menikmati pergumulan itu. Apalagi dalam urusan ranjang, Markonah tergabung dalam istri BPS (barisan pelayan suami). Dengan demikian, gaya apa saja yang diinginkan Markucel, Markonah selalu siap.

Meski Markucel selalu puas dan bisa menikmati permainan di ranjang, tapi tidak tumbuh perasaan cinta di hatinya. Lama-lama dia merasa jenuh dan kerap berselisih.

Pertengkaran itu terus berlanjut hingga akhirnya dia memutuskan menjatuhkan talak kepada istrinya. Pada Oktober 2017 lalu, Markucel resmi melayangkan permohonan cerai talak ke kantor Pengadilan Agama (PA) Kota Malang.

”Cinta memang tidak bisa dipaksakan,” ujar Markucel saat ditemui usai mengurus perceraiannya di kantor PA Kota Malang beberapa waktu lalu.

Pewarta: Fajrus Shiddiq
Penyunting: Mahmudan
Copy Editor: Dwi Lindawati
Ilustrasi: Andhi Wira