Faishal Noor Rahman berpose dengan istri, ia Mantan Karyawan Garuda Indonesia yang Banting Setir Jadi Guru Penghafal Alquran

Buku-buku berjajar rapi dalam lemari yang ada di ruang tamu rumah Ustad Faishal di Jalan Kumis Kucing Dalam 46 Kota Malang. Di dalam lemari tersebut tidak hanya ada buku bertemakan Islam, tapi juga berbagai buku pengetahuan lainnya. Ada pula deretan Alquran di bagian paling atas lemari tersebut.

Setelah mempersilakan koran ini dan bertegur sapa, sejenak kemudian obrolan mengarah pada liku-liku perjalanan hidup Faishal hingga menjadi guru ngaji (menghafal Alquran) seperti saat ini. Dia menyatakan, setelah lulus dari MAN Banyuwangi pada 1989 silam, dia memulai karirnya sebagai guru bahasa Inggris pada 1990. Lalu, pada 1991–1992, dia mencoba menjadi pegawai di sebuah pabrik pengalengan ikan di Banyuwangi.



Setelah setahun bekerja di sana, dia keluar karena merasa tidak puas. Lalu pada akhir 1992, dia mencoba peruntungan di maskapai penerbangan nasional Garuda Indonesia. Karena pekerjaan di sana cukup nyaman, maka dia bertahan hingga 2002.

Selama berkarir di Garuda Indonesia, Faishal bekerja mulai dari staf ticketing, lalu naik menjadi supervisor, dan sales officer marketing. Bahkan karena kinerjanya yang bagus, dia juga sudah diangkat sebagai karyawan tetap dengan gaji yang sangat layak.

Kemudian pada 1994, Faishal ditempatkan di Kota Malang. ”Karena sudah mapan, pada 1995, saya berani menikahi Yeni Laela Zumrotin, putri seorang guru ngaji asal Banyuwangi,” ungkapnya.

Ketika di Garuda Indonesia, Faishal mengaku hidupnya berkecukupan. Banyak fasilitas yang dia terima dari perusahaan tersebut. Seperti mendapatkan tiket pesawat gratis hingga perjalanan gratis ke mana-mana. Selain itu, gajinya juga besar. Pada 2002, ketika mau resign gajinya Rp 3,5 juta per bulan. Waktu itu jumlah uang tersebut sudah banyak.

Namun, selama kerja di sana, dia merasa belum bisa memberikan manfaat kepada banyak orang. Faishal pun memilih resign dan merintis usaha sendiri.

Saat itu keputusannya menuai pertentangan dari pihak keluarga. Keluarganya mengaku eman (sayang) jika pekerjaan yang telah dianggap mapan itu ditinggalkan begitu saja.

Namun, keputusan Faishal pun sudah bulat. Pada akhir 2002, dia memutuskan untuk mengakhiri karirnya sebagai pegawai tetap di Garuda Indonesia serta memutuskan untuk berwiraswasta. ”Saya mulai membuka usaha dari nol di bidang biro perjalanan wisata,” kata pria kelahiran 13 Januari 1970 ini. Dia mengaku di awal membuka usaha, kadang untung kadang rugi. Namun, tetap dia jalani hingga sekarang.

Selain membuka usaha sendiri, dia ingin mengisi hidupnya dengan hal-hal yang lekat dengan agama. Faishal memutuskan untuk menjadi penghafal Alquran (hafiz). Selama satu tahun dia mencoba menghafalkan banyak surat dalam Alquran. Dia mengakui, pada 1987 silam pernah menghafal Alquran. Akhirnya dia mencoba mengulang perlahan surat demi surat. Berbekal tekad untuk membaca Alquran dengan mengetahui arti dan maknanya, dia semakin bersemangat untuk terus mencoba.

Selama menghafal Alquran, dia mengakui sering menemui keajaiban. Banyak kejadian yang dia temukan sama persis dengan ayat Alquran yang sedang dia hafalkan. ”Dulu waktu saya dari Banyuwangi membeli oleh-oleh belalang, ternyata saya sedang menghafal ayat tentang belalang. Lalu, waktu Gunung Kelud meletus pada 2014, ternyata saya sedang hafalkan ayat tentang bencana, dan masih banyak kejadian lainnya,” ungkap ayah empat anak ini.

Dari berbagai kejadian yang dialami, dia semakin percaya bahwa Alquran memberikan pembuktian yang benar adanya. Dia semakin yakin untuk giat menghafal Alquran. Faishal pun semakin tekun menghafal Alquran, apalagi orang terdekatnya juga mendukung. Dan dalam jangka sekitar 3 tahun (2014–2016), dia sudah dapat menghafal Alquran 6 juz bolak-balik (menghafal baik dari awal ayat hingga akhir ayat dalam sebuah surat, begitu sebaliknya).

Lalu pada 2015, secara perlahan dia mulai mempraktikkan dan berbagi metode menghafal Alquran di Taman Pendidikan Alquran (TPA), sekolah, dan beberapa majelis taklim. Dia mulai mengenalkan metode Menghafal Alquran Semudah Tersenyum (Master) yang dia dapatkan saat belajar di Banyuwangi, tentunya setahap demi setahap.

Menurut dia, metode Master adalah metode yang berasal dari Kairo yang dibawa oleh Ustad Bobby Herwibowo ke Jakarta. Lalu pada 2013, dia pernah ikut pelatihan selama 1 jam dengan Ustad Bobby di Masjid Ahmad Yani Malang. Lalu, Faishal belajar secara otodidak hingga mulai memperkenalkannya pada orang lain sejak 2014.

Menurut dia, metode Master adalah metode menghafalkan Alquran dengan cepat beserta artinya dan bisa bolak-balik (membaca dari akhir ayat ke ayat sebelumnya). Metode ini berupa teori dan praktik yang dilengkapi dengan gerakan-gerakan dan bercerita. Waktu yang diperlukan pun cukup singkat.

Bahkan, penulis sempat mencoba mempraktikkan untuk menghafalkan nama-nama surat dan sejumlah surat. Dengan metode tersebut, selama 10 menit penulis pun sudah bisa menghafal nama-nama surat dengan urut. Selain itu, bisa menghafal beberapa surat beserta artinya. Memang benar metode tersebut sangat membantu dalam menghafal Alquran dengan cepat.

Selain menerapkan metode Master-nya di lembaga yang dia naungi, yakni Kauny Quranic School Malang, dia mencoba di berbagai tempat, baik dengan anak-anak, remaja, dewasa, hingga lansia. Perlahan pria yang juga hobi traveling dan membaca ini mulai mengaplikasikan ke metodenya ke tempat lainnya. ”Ya alhamdulillah, setiap habis mengajar di satu tempat selalu ada undangan untuk mengajar di tempat lain,” ujarnya.

Lalu, Faishal bercerita tentang pengalaman beberapa santrinya. Dia mengungkapkan, banyak orang yang tidak mau menghafal Alquran karena faktor usia yang dianggap sudah tua. ”Contohnya ada Letkol Purn. Ngadiran dari Pusdik Arhanud Karangploso yang hafal 114 nama surat dalam 5 kali pertemuan. Padahal usianya sudah 74 tahun. Dulu beliau awalnya tidak mau. Selain itu, banyak anak-anak yang awalnya juga gak mau mempelajarinya, tapi akhirnya mau,” ujarya.

Kini, upayanya dia dalam mengajak orang lain untuk menghafal Alquran tidaklah sia-sia. Kini Faishal rutin mendapatkan undangan, baik secara personal maupun dari majelis taklim. Ada pula instansi swasta, pemerintahan, dan institusi pendidikan.

Undangan mengajar tidak hanya di Kota Malang, tapi hingga ke luar kota. ”Sekarang jadwal ngajar saya sangat padat setiap hari. Bahkan, setiap bulan saya harus berangkat ke luar kota,” ujar Ustad Faishal. Luar biasanya, saat ini selain Kauny Quranic School, dia juga membina 9 majelis taklim di Kota Malang. (*/c2/lid)

Penyunting: Kholid Amrullah
Copy editor: Dwi Lindawati