KEPANJEN – Mendengar ada kabar bayi dibuang, rentetan pertanyaan tentu terbesit dalam benak kita: orang tuanya kok tega ya? Kondisi bayinya bagai mana? Dibuang di mana? Itu hasil hubungan di luar nikah dan orang tuanya tidak bertanggung jawab ya? Beberapa pertanyaan itu mungkin bisa mewakili.

Di Kabupaten Malang, kabar tentang bayi dibuang memang banyak terdengar. Yang terakhir, 1 Desember lalu kabar tersebut mencuat dari Desa Jabung, Kecamatan Jabung. Bayi laki-laki yang diperkirakan baru lahir dalam hitungan jam ditemukan warga di sebuah ladang. Beruntung, bayi malang tersebut berhasil diselamatkan warga dan petugas.

Bila ditotal, sepanjang tahun ini ada 10 kasus pembuangan bayi. Itu tersebar di beberapa kecamatan. Jumlah itu juga meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun lalu.

”Meski belum tutup buku, kasus pembuangan bayi tahun ini memang mengalami peningkatan jika dibandingan tahun sebe lumnya,” terang Kasatreskrim Polres Malang AKP Azi Pratas Guspitu.

Lebih lanjut, dijelaskan Azi, 5 bayi yang ditemukan tahun ini berada dalam kondisi tak bernyawa. Sementara lima bayi lainnya masih  bisa diselamatkan nyawanya.

Dari pengamatan polisi, modus yang digunakan pelaku pun bervariasi. Ada yang membuang buah hatinya di jurang, di pinggir jalan, di selokan, dan juga di depan ru mah warga. Biasa nya, bayi-bayi malang itu dibungkus dengan kardus mau pun tas kresek. Usaha untuk mengungkap pelaku pembuangan sudah dilakukan polisi. Sayangnya, pada tahun ini masih belum membuahkan hasil.

”Peran dari masyarakat sangat berpengaruh dalam mengurangi jumlah kasus pembuangan bayi. Itu juga sangat membantu pengusutan siapa pelaku yang tega membuang bayi,” sambung Azi. Meski dalang di balik pembuanga n bayi sulit diketahui, tanda-tanda di la pangan bisa memberikan sedikit petunjuk.

Seperti kasus pembuangan bayi yang terjadi di Kecamatan Wagir 8 Agustus 2016 lalu. Bayi per empuan yang ditemukan sudah tak bernyawa itu diketahui terbungkus seragam sekolah. Diduga, pelakunya adalah okn um pelajar. Menanggapi fenomena meningkatnya kasus pembuangan bayi, Dekan Fakultas Psikologi dan Ilmu Pendidikan (FPIP) Universitas Islam Raden Rahmat (Unira) Evi Masyithah menjelaskan beberapa faktor yang jadi penyebabnya.

Menurut dia, ada tiga faktor yang melatarbelakangi kasus pembuangan bayi. Yang pertama dan paling utama adalah faktor keluarga. ”Faktor keluarga berp engar uh sekitar 90 persen,” kata Evi.

Penyebab berikutnya adalah faktor lingkungan. Poin ini tidak bisa dikesampingkan. Sebab, lingkungan pergaulan yang bebas bakal berimbas pada orang di dalamnya. Terlebih, mereka yang masuk usia remaja. Penyebab terakhir adalah faktor pendidikan.

”Pendidikan formal juga mengambil peran untuk menekan maraknya kasus pembuangan bayi,” sambung Evi. Dari pendidikan formal, ada banyak tingkat ke cerdasan seseorang yang bisa diasah. Selain IQ (intelligence quotient), bisa juga diimbangi dengan EQ (emotio nal quotient) dan SQ (spiritual quotient).

”Saya rasa, pengetahuan agama harus lebih sering disamp aikan di lingkungan pendidikan saat ini,” tambahnya.

Terkait penanganan bayi-bayi yang terbuang, Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Malang langsung mengambil peran. Kepala Dinsos Sri Wahjuni Pudji Lestari mengaku bila tahun ini sudah ada empat bayi yang telah diadopsi Dinsos.

”Bagi yang ingin mengadopsi anak harus mendaftar ke Dinsos Kabupaten Malang dulu. Nanti pengajuannya akan dilimpahkan ke Dinsos Provinsi Jawa Timur,” tutur Yayuk, sapaan akrabnya.

Prosedur itu tercantum dalam Peraturan Menteri Sosial (Permensos) Nomor 110 Tahun 2009 tentang Persyaratan Pengan gkatan Anak.

gDalam produk hukum itu, ada beberapa ketentuan yang diatur dengan melihat beberapa faktor. Seperti, kondisi kejiwaan dan kondisi kesehatan calon orang tua bayi. Biasanya, mereka yang tercatat belum pernah memiliki bayi bakal diutamakan. Usia juga masuk dalam bahan per timbangan. Minimal, calon orang tua bayi harus sudah berumur 30 hingga 55 tahun.

Pewarta: Ashaq Lupito
Penyunting: Bayu Mulya
Copy Editor: Arief Rohman