?????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????

Ketiga rumah yang saling berimpitan itu ludes terbakar hanya dalam waktu sekitar 30 menit. Bahkan, api juga merembet ke rumah Tohasyim, yang masih tetangga Zumroni. Dua kamar di rumah Tohasyim yang dilalap si jago merah.

Ratusan warga yang mengetahui ada kebakaran sudah berusaha memadamkan api. Namun, bangunan yang mayoritas dari kayu dan bambu itulah yang membuat api cepat membesar. Selain itu, angin kencang juga membuat api mudah merembet.

Dari cerita Zumroni, kejadian kebakaran itu berlangsung sekitar pukul 09.00. Saat itu dia bersama ketiga anaknya tengah mandi di sungai yang jaraknya dari rumah sekitar 500 meter.

”Saya mandi di sungai dengan anak-anak saya yang masih kecil. Saat di sungai, dia melihat asap yang membumbung tinggi,” katanya. Dia tidak tahu kalau awalnya itu adalah rumahnya yang terbakar. Saat kejadian tersebut hanya ada anaknya yang lain, Nur Safitri, 17.

”Anak saya itu melihat api keluar dari rumah neneknya, sudah coba disiram tapi api malah membesar,” kata pria yang sehari-hari bekerja sebagai mekanik di proyek bangunan ini. Tak kuasa memadamkan api, Nur Safitri langsung berlari ke depan rumah meminta pertolongan. ”Anak saya langsung minta tolong kepada warga yang ada di musala. Waktu itu di musala sedang ada kegiatan,” kata dia.

Warga pun langsung datang dan berusaha memadamkan api. Sementara Zumroni langsung bergegas pulang karena curiga melihat ada kebakaran. ”Saya langsung pulang, pas sudah sampai rumah, api sudah membesar.

Tiga puluh menitanlah sudah meludeskan semuanya. Ya, habis tiga rumah langsung,” cerita suami Siti Fatimah tersebut. Empat mobil pemadam kebakaran pun tidak bisa mengejar cepatnya api yang membakar rumah tersebut.

Menurut Zumroni, kebakaran tersebut terjadi dari rumah bapaknya, Mursidi. Saat itu di rumah orang tuanya memang sudah tidak ada orang. Mursidi sudah di sawah dan Musifah pergi menyusul ke sawah untuk membawakan makanan.

Nah, saat itulah kebakaran terjadi. Api bersumber dari tungku di dapur rumah orang tuanya. ”Apinya dari dapur. Sebenarnya pas ibu ke sawah, pawon (tungku) sudah dimatikan,” kata dia yang berusaha untuk tegar.

”Tapi kan namanya masih pakai kayu, masih ada sedikit api yang belum padam sehingga membesar,” kata dia. Api lalu merembet ke rumah adiknya, Abdul Wahab, lalu ke rumah Zumroni.

Bangunan rumah Zumroni dengan luas 10 meter x 5 meter itu pun ludes, termasuk milik adiknya dengan luas yang hampir sama. Sedangkan rumah orang tua mereka dengan luas kurang lebih 4 meter x 10 meter juga ludes terbakar.

Saat ini, mereka pun terpaksa menumpang di tetangga. ”Besok pagi (hari ini) mau nyari material yang tersisa untuk dibangun lagi,” ungkap Zumroni. Kebakaran itu pun menghabiskan tempat usaha milik adiknya hingga tak tersisa.  ”Adik saya kan usaha fotokopian, jadi ya mesin fotokopi, laptop, dan komputer, semuanya terbakar,” ujar dia.

Sementara itu, Kepala Seksi (Kasi) Penanggulangan Kebakaran, Bidang Pencegahan Penanggulangan Bahaya Kebakaran (PPBK) Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Malang Nurul Kusaini menyatakan, kebakaran terjadi sekitar pukul 09.00 dan petugas pemadam kebakaran datang sekitar pukul 09.20.

”Api sudah membesar, karena material bangunan banyak dari kayu dan bambu,” kata dia. Dari PPBK Satpol PP Kabupaten Malang pun menurunkan dua unit mobil pemadam kebakaran.

”Kami juga dibantu dari teman-teman dari Batu yang menurunkan dua unit mobil,” kata dia. ”Dari kejadian ini, kami prediksi kerugiannya mencapai Rp 250 jutaan,” tandas Nurul. (adk/c2/lid)