Hope 313 oleh Kurniawan Muhammad.

Dalam dunia pendidikan di masa sekarang ini, jika kita jeli, sering kali terjadi peristiwa-peristiwa yang di zaman dulu tidak pernah ada. Atau sangat jarang terjadi.

Misalnya, murid melaporkan gurunya ke polisi, gara-gara si murid itu dihukum gurunya. Bahkan, ini yang kebangeten, murid menghajar gurunya sampai mati, gara-gara si murid dihukum oleh gurunya. Dan si murid sampai dihukum karena sangat bandel di kelas, sehingga mengganggu ketertiban di kelas.

Sekarang ini, kalau murid dihukum gurunya, orang tua si murid tidak terima. Bahkan ada orang tua murid yang melaporkan guru anaknya ke polisi. Bahkan ada pula orang tua murid yang menghajar guru anaknya sampai babak belur.

Peristiwa-peristiwa ini, hampir tidak pernah terjadi di zaman dulu. Di zaman dulu, ketika orang tua tahu kalau anaknya dihukum gurunya karena bandel, maka di rumah, si orang tua malah berterima kasih kepada guru yang menghukum anaknya. Bahkan, ada juga si orang tua yang malah menambahi hukuman kepada anaknya yang nakal itu. Jadi, dapat hukuman dua kali. Di sekolah dihukum gurunya, di rumah dihukum orang tuanya.

Dulu, setidaknya ketika zaman saya masih SD–SMA, tidak pernah mendapati murid-murid di sekolah negeri, berunjuk rasa, menuntut kepala sekolahnya mundur. Dulu, sebagai murid, ketika mendapati kepala sekolah yang kurang bagus sikapnya (misalnya arogan, sewenang-wenang, berkata kasar, dan lain-lain), kami hanya membatin saja. Atau beraninya hanya sebatas ngrasani. Untuk menyampaikan protes atau ketidaksenangan secara terang-terangan, kami tidak akan berani. Ke-tidak berani-an kami pada saat itu lebih pada alasan etika. Atau lebih pada alasan kepantasan. Rasanya kok nggak pantas, murid melawan gurunya. Betapa pun ”salahnya” seorang guru.

Apalagi sampai rame-rame berunjuk rasa, dan jelas-jelas menuntut mundur kepala sekolah. Seperti yang terjadi di SMAN 2 Kota Malang.
Zaman memang sudah berubah. Kita mungkin tidak tahu, apakah perubahan yang sedang terjadi ini, mengarah pada yang baik atau sebaliknya.

Di satu sisi, rasa hormat murid terhadap para guru, disadari atau tidak, mengalami dekadensi. Pada sisi lain, jiwa mendidik secara holistik guru terhadap murid-muridnya, bisa jadi juga mengalami dekadensi.

Mendidik secara holistik dalam hal ini mengandung makna, seorang guru tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan dan terbatas hanya di kelas saja. Tapi, seorang guru punya tanggung jawab untuk mendidik ”jiwa” muridnya, mendidik ”hati” muridnya, dan juga mendidik ”karakter” muridnya. Ketika seorang guru mampu mendidik secara holistik, maka dia akan berada di ”maqom” yang mulia. Makanya, dulu, saya masih ingat, di desa asal Bapak-Ibu saya di Lamongan, profesi guru, mulai dari guru SD, sangat dihormati. Orang yang menjadi guru, di kampungnya dipanggil ”Pak Guru” sebelum menyebut namanya. Jadi, gelar ”Pak Guru” begitu melekat pada nama, sama halnya dengan gelar ”haji”. Ini menunjukkan, betapa seorang guru begitu dihargai di masyarakat pedesaan.

Saya juga masih ingat, di masa lalu, para orang tua (termasuk bapak-ibu saya) setiap lebaran selalu ngobraki anak-anaknya untuk berkunjung silaturahmi ke rumah guru. Saya masih ingat kata-kata orang tua saya, ”Ayo silaturahmi ke rumah gurumu…agar ilmumu berkah dan bermanfaat”.

Nah, di zaman now, tradisi seperti ini, apakah masih ada? Dan ketika di zaman now, kalaupun ada murid-murid mendatangi rumah gurunya, apakah sang guru akan se-respek zaman dulu ketika guru didatangi murid-murid di rumahnya? Saya masih ingat, ketika mendatangi rumah guru saya, dia begitu senangnya. Rasa senangnya ditunjukkan dengan mengajak kami makan bersama keluarganya. Apakah guru-guru zaman now masih sangat senang ketika murid-murid datang ke rumahnya?

Walakhir, hubungan antara murid dan guru, menurut saya, sangat resiprokal. Seberapa murid punya rasa hormat terhadap gurunya, sangatlah bergantung dari seberapa holistik dia dalam mendidik murid-muridnya. Dalam bahasa awam, untuk memahami secara lebih mudah bagaimana pendidikan yang holistik itu, bisa juga dikatakan, bahwa pendidikan holistik adalah pendidikan yang lahir-batin. Di mana ”ikhlas” dan ”mengabdi” menjadi kata kuncinya. Guru identik dengan ”ikhlas” dan ”mengabdi”.

(kritik dan saran: ibnuisrofam@gmail.com/IG: kum_jp)

Oleh: Kurniawan Muhammad – Magister Ilmu Politik FISIP Unair.