Bagi penggemar seafood di Malang Raya, boleh jadi kelezatan menu di warung yang satu ini sudah tak asing lagi. Apalagi, keberadaannya sudah eksis di Malang sejak tahun 2001 dan sudah punya dua cabang. Namun siapa sangka, sebelum dikenal di Malang, sang pemilik justru cukup lama merintis usahanya di Jakarta.

Sutomo, dari nama seorang itulah nama warung Cak Tomo berasal. Pria itu sudah mulai membuka warung sejak tahun 1985. Saat itu, Sutomo mengadu peruntungan warung tempelnya di kawasan Kebun Jeruk, Jakarta Barat. Selama kurang lebih 15 tahun, dia berserta keluarganya membuka warung seafood. Baru, pada tahun 2001, Sutomo dan keluarganya memilih hijrah ke Kota Malang dan membuka warung tempelnya di Jalan Ijen, Kota Malang.

Hal tersebut diungkapkan Nopi Purwo Irawan, anak Cak Tomo yang menjaga warung di Jalan Tumenggung Suryo, salah satu cabang warung Cak Tomo. ”Setelah pindah ke Malang, pengunjung warung kami malah lebih ramai,” terangnya.

Sebagai orang asli Lamongan, keluarganya juga merasa nyaman membuka usaha di Malang. ”Dekat dengan tanah kelahiran,” sambungnya.

Berjulan di Malang bukan berarti tanpa hambatan. Sebab, warung yang di Jalan Ijen masuk area terlarang bagi pedagang kaki lima (PKL). Rasa waswas saat berjualan pun selalu muncul. ”Awalanya, ketika di sana (depan Gereja Ijen) sering kejar-kejaran dengan satpol PP,” ujar pria kelahiran 7 Juni 1984 itu lantas tersenyum.

Di tempat tersebut, warungnya sempat bertahan hingga 6 tahun. Tentu saja dengan berbagai catatan, seperti warungnya tidak menghalangi jalan dan mengganggu lalu lintas kendaraan yang berlalu lalang di kawasan perumahan elit tersebut. ”Akhirnya boleh, tapi harus menjorok ke dalam,” kenang pria berusia 33 tahun itu.

Irawan menceritakan, kala itu dia, ayah, dan ibunya sering kali mendorong gerobak jumbo berukuran 2 x 6 meter dari Jalan Raung. ”Saking besarnya, gerobak kami sering dikatakan kapal layar,” ucapnya.

Tahun 2008, Cak Tomo lantas memutuskan memindahkan warungnya ke Jalan Tumenggung Suryo. Berselang satu tahun, cabang kedua didirikan di Jalan Mayjen Panjaitan. Dan pada tahun 2011, mereka akhirnya membeli sebuah ruko di Jalan Brigjen Slamet Riadi. ”Akhirnya kami menetapkan warung di Jalan Slamet Riadi sebagai pusatnya,” tambahnya.

Dia berharap, ke depan warung Cak Tomo bisa jadi jujukan orang banyak. Tidak hanya bagi warga Malang, tapi juga warga luar Malang. ”Cak Tomo berharap bisa menjadi bagian dari daftar kuliner favorit warga Kota Malang,” pungkasnya.

Bagi pecinta seafood, warung ini pastinya layak dicoba. Terlebih, warung ini juga menyediakan berbagai macam menu lain dengan harga terjangkau.

Pewarta : Gigih Mazda
Penyunting : Ahmad Yani
Copy Editor : Arief Rohman
Foto : Rubianto