Malam itu, tepat di awal bulan puasa, orang-orang desaku kehilangan selera bersantap sahur. Masjid desa kami meledak tiba-tiba di tengah siaran sahur. Warga berbondong-bondong membawa ember air. Anak istri menyelamatkan harta benda semampunya. Sementara mobil pemadam kebakaran terjebak di jalanan desa?kebingungan mencari akses menuju lokasi.

Di tengah kobaran itu, aku menatap jilatan api, juga biri-biri hitam yang pekatnya mengalahkan malam tanpa rembulan. Tiba-tiba wejangan Ibu terlintas di benakku.

Wejangan yang kudengar dua kali. Pertama, saat beliau marah besar kepadaku untuk pertama kalinya dalam hidupku. Terakhir, sebelum tubuhnya menjadi arang di depan masjid.

”Doa seorang ibu yang paling diijabahi Gusti Allah adalah kutukannya.”

***

Ibuku mungkin titisan malaikat. Beliau tak cantik, tapi perilakunya menggambarkan berlian. Dibandingkan Bapak yang lulusan SMA di Pondok Pesantren Tebu Ireng, keimanan Ibuku jauh lebih baik. Beliau dilahirkan dalam lingkup pondok pesantren di Pasuruan.

Banyak saudaranya bergelar gus, kiai, maupun nyai. Meski begitu, Ibu tak dibesarkan untuk menikmati gelar dunia semacam itu. Ibu adalah hasil didikan orang tua yang luar biasa.

Kakekku tak mau mewarisi pondok pesantren milik keluarga. Beliau lebih memilih menjadi kuli bangunan dan berkebun seadanya di samping rumah. Meski begitu, orang-orang memanggilnya Kang Mas. Semacam gelar untuk orang-orang terhormat pada masa itu.

Ibu dididik dengan ilmu agama dan tradisi Jawa yang begitu kental. Beliau perwujudan keimanan Kakek, sekaligus kesantunan Nenek.

Ibuku sekolah hanya sebatas SMP. Ilmu agama hanya sebatas mengaji di langgar sepulang sekolah. Dapat kupastikan sekolah dan langgar hanya tempat selingan mencari ilmu. Ilmu yang beliau peroleh sepenuhnya berasal dari Kakek dan Nenek.

Pada usianya yang kelima belas tahun, beliau dipinang Bapak dan merantau ke Malang. Di sini, tak ada rumah berhalaman luas. Itu yang dia ceritakan padaku. Hanya orang-orang dengan uang berlebih yang mampu memiliki rumah berhalaman rumput. Jelas suasana yang berbeda dengan rumah Kakek di Pasuruan.

Rumah Bapak mungkin lebih besar dari rumah tetangga, juga berlantai dua, dengan tambahan atap beton sebagai tempat menjemur pakaian. Tapi, rumah Bapak mirip dengan rumah seluruh tetangga, tak ada lahan di depan pintu rumah. Hanya ada pagar sebagai pembatas antara halaman rumah sebesar satu meter dengan jalanan berpaving.

Rumah Bapak adalah produk urbanisasi manusia yang berkumpul di pusat kota. Berkumpul di tempat pundi-pundi uang diperkirakan lebih berlimpah. Pemandangan desaku adalah hal yang biasa sejak awal. Kota-kota besar di seluruh penjuru negeri, bahkan luar negeri, pasti memiliki desa seperti desaku. Desa dengan tembok-tembok rumah yang saling menempel. Desa yang tak mungkin dapat memperluas rumah selain membuatnya menjulang tinggi. Semacam kebanggaan tersendiri jika mampu membangun rumah hingga bersusun tiga.

Desaku luas dan dipimpin beberapa orang kepala RT. Dekat dengan berbagai akses layanan masyarakat. Stasiun Kotalama, masjid, hotel, pasar, apa pun itu yang menurut orang-orang menyejahterahkan kehidupan mereka. Tentu saja bukan berarti desaku ini luar biasa. Kami bisa saja mengakses segala hal di luar sana, tapi orang luar sulit mengakses desaku ini.

Jalanannya yang berpaving dan mungil hanya bisa dilalui motor. Tak akan ada di antara kami yang membeli mobil meski mampu. Toh, mobil tak akan bisa sampai di depan rumah dan terparkir di dekat jalan besar.

Pada akhirnya, pemandangan desaku yang biasa ini menjadi kekurangan dan aib bagi pemerintah daerah. Hal ini terkait penataan kota yang tidak rapi. Desa kami termasuk dalam daftar ribuan desa kumuh di kota-kota besar Indonesia. Sebersih apa pun desaku, tanpa sampah yang berceceran di jalan dan irigasi yang lancar. Kumuh tetaplah kumuh.

Anggapan kumuh desa tak sebatas tata letaknya yang kacau balau, tapi merambat hingga ke penghuninya. Tembok-tembok yang saling berdempetan memudahkan kami bertukar aib. Tak ada hari tanpa menggosip di antara para tetangga.

Kalian bisa bayangkan betapa sulitnya ibuku bersosialisasi di awal pernikahannya. Aku bisa membayangkan ibuku itu tersenyum dengan tidak ikhlas sementara hatinya membaca istighfar di hadapan para tetangga. Ya, sikap yang tidak sepenuhnya dia pertahankan. Hanya menumpuk dosa saja, begitu kata ibuku.

Bapak mengajar di madrasah aliyah dari pagi dan baru pulang menjelang magrib. Itu pun dilanjutkan dengan mengaji di masjid hingga waktu salat Isya. Beliau baru benar-benar berada di rumah pukul delapan malam ke atas. Aku dan Kakak sibuk di sekolah dan mengaji, mengikuti kegiatan bapak sepenuhnya. Sementara ibu akan berdiam diri di rumah.

Aku katakan berdiam diri dalam arti yang sesungguhnya. Beliau tak seperti ibu-ibu tetangga. Ibuku keluar untuk belanja bebarengan dengan kami yang berangkat ke sekolah. Itu pun belanjanya di depan pagar rumah. Beliau akan menyapa ibu-ibu lain seadanya untuk bertukar kabar dan segera masuk ke dalam rumah.

Ibuku itu tak pernah membiarkan pintu rumah terbuka. ”Para Ibu akan berkumpul ketika pintu rumah ini terbuka. Mereka akan mulai bercerita dan akhirnya menyebarkan berita tak benar ke telinga masing-masing. Toh, ibu tetap membukakan pintu jika mereka mengetuk dan memang memerlukan sesuatu.” Itu jawaban beliau ketika aku bertanya perihal sikapnya yang kurang membaur ke tetangga. Kakak hanya tersenyum, sementara Bapak tak merespons apa-apa.

Sikap Ibu ini terkadang membuatku khawatir. Dalam bayanganku, ibu tak terlalu dekat dengan tetangga dan dijauhi. Dunianya hanya sebatas rumah dan depan pagar. Tapi kekhawatiranku tampaknya tak beralasan. Ibuku bahkan populer di kalangan para ibu-ibu tetangga. Mereka berpikir bahwa Ibuku adalah tempat terbaik untuk berkeluh kesah perihal apa pun tanpa takut kisah mereka tersebar di antara yang lain.

Ibuku, membangun temboknya sendiri di antara tembok-tembok rumah yang tipis berdempetan dan rawan berita tak benar. Pernah suatu hari, ketika sekolahku memulangkan para siswa lebih awal sebab istri pak kepala sekolah mati mendadak, aku dan Kakak memergoki Ibu bercengkerama dengan seorang tetangga beda RT.

Ibu-ibu tetangga itu bercerita perihal perilaku KDRT suaminya. Ibuku lebih sering mendengarkan dan memberikan nasihat seadanya. Meminta wanita itu untuk bersabar sementara waktu. Hebatnya lagi, Ibuku menawarkan diri untuk membantu seandainya ibu-ibu tetangga itu sudah tidak tahan dan ingin mengajukan gugatan cerai. Tentu saja Ibuku tak menyarankan perceraian. Dia lebih banyak berceramah, meminta ibu-ibu tetangga itu untuk berhijrah dengan harapan suaminya menjadi sadar.

Aku tak memperoleh kisah ibu-ibu tetangga itu dengan utuh. Kakakku tiba-tiba muncul dan memukulku berkata bahwa perbuatan mengupingku tak baik dan mengatakan telingaku akan ditusuk tombak saat mati nanti. Aku hanya tertawa mendengar peringatannya itu.

Seminggu kemudian aku mendapati ibu-ibu tetangga itu telah berhijab serupa Ibuku dan diantar suaminya ke pasar.

Hal lain yang luar biasa dari Ibuku adalah diam-diam dia meminjam uang riba. Cukup mengejutkan memang dan Bapak tahu ulahnya ini. Kata meminjam sebenarnya kurang tepat, sebab uang yang beliau pinjam akan dipakai orang lain. Bapak mungkin tak akan setuju jika meminjamkan uang ke tetangga dalam jumlah besar. Mengatasi hal itu, Ibuku akan meminjam uang riba dari tetangga yang mampu. Uang yang akan ia pinjamkan lagi ke tetangga yang membutuhkan tanpa beranak. Ibuku sendiri yang melunasi anakan uang riba itu dari tabungan uang belanjanya.

”Biarkan saja. Hanya Gusti Allah yang tahu sikap Ibumu ini benar atau salah.” Itu jawaban Bapak saat kutanyakan Ibu akan masuk neraka atau tidak karena uang riba yang dia pinjam. Semua hal yang kuceritakan tadi hanyalah kisah kecil dari keunikan Ibu.

Masih banyak kisah-kisah lain yang mungkin jika kukumpulkan akan menjadi versi modern dari kisah seribu satu malam.

***

Kebaikan Ibuku mungkin tak bercela di mata para tetangga. Bapak bisa setiap saat membanggakan Ibuku di keluarga besarnya. Satu-satunya cela Ibu ada padaku. Fakta yang cukup menyedihkan memang. Aku, putri keduanya adalah sebuah aib yang dia tutupi.

Dalam sejarah keluarga kami, tak ada yang namanya berpacaran. Cukup menggelikan ketika tahu ada keluarga yang melarang anak turunnya berpacaran untuk mencari pasangan. Tapi kenyataan memang seperti itu. Ibuku sendiri, bibiku, bahkan kakakku.

Mereka menikah karena dijodohkan. Kakak adalah sosok yang paling aku kenal dan tidak berpacaran. Tetangga beda RT melamarnya seminggu usai hari Raya Idul Adha dan dia menerima lamaran itu dengan anggukan malu-malu.

Aku tak bisa membayangkan diriku berada di posisi Kakak. Suaminya bahkan tak lebih tampan dari anak tetangga sebelah yang autis! Aku tak mau seperti itu. Aku ingin suamiku kelak tampan dan sesuai seleraku. Tak perlu mirip bintang drama Korea yang biasa kutonton bersama kawan-kawan sepulang sekolah.

Pikiran seperti itu yang mendasariku untuk mulai berpacaran. Tentu saja tanpa sepengetahuan Bapak dan Ibu. Aku tak pernah membawa kekasihku itu di depan gang desa apalagi depan pagar rumah. Kami berkencan hanya saat sekolah dipulangkan lebih awal, atau saat libur sekolah, saat aku bisa keluar rumah dengan alasan kerja kelompok. Aku sangat berhati-hati dengan kisah cintaku ini.

Tapi Ibuku itu tahu. Ibuku yang tidak pernah bergosip dengan para tetangga itu tahu bahwa aku diam-diam pergi berkencan. Aku mengetahui sumber informasi Ibu berasal dari beberapa orang tetangga yang tak sengaja mendapatiku berkencan. Para tetangga biadab itu selalu haus gosip. Mereka bahkan dengan sengaja mengawasi keluarga Ibu, mengawasi anak-anaknya.

Suatu malam Bapak memanggilku dan menanyakan kebenaran berita itu. Dia mengungkapkan kekecewaannya. Bapakku itu tak pernah membentak anaknya, apalagi Ibuku. Tapi malam itu Ibuku yang paling kecewa. Beliau merasa telah gagal membesarkan putri bungsunya.

”Kau tahu? Ibu lebih baik melihat putri Ibu mati tertabrak mobil daripada tahu bahwa putrinya berboncengan dengan mesra bersama yang bukan mukhrimnya.

”Aku menangis mendengar peringatannya itu. ”Doa seorang Ibu yang paling diijabahi Gusti Allah adalah kutukannya. Jika kau meminta doa baik, mintalah ke Bapakmu!”

Kakak dipanggil pulang selama seminggu untuk menemani sekaligus mengawasiku. Ibu tak menyapaku selama seminggu penuh. Bapak turut serta dalam kebisuan Ibu terhadapku.

Pada masa-masa itu aku mendapati fakta bahwa Ibuku lebih mengerikan dari Bapakku. Keimanannya sangat mengerikan. Semengerikan kutukan yang dia lontarkan padaku.

Seminggu masa pengawasan itu aku memutuskan ikatanku dengan kekasihku. Aku tak mau ucapan Ibu untuk melihatku mati tertabrak mobil di jalan menjadi kenyataan. Ternyata cukup sulit melepas ikatan dengan orang yang mengaku mencintaimu dari lubuk hati terdalam.

***

Aku mendapati kutukan Ibu terkabul pada saat sahur di hari pertama puasa. Kutukan yang harus kusyukuri sebab tak ditujukan kepadaku. Mungkin kutukan Ibu kepadaku saat itu hanyalah gertak sambal. Tidak seperti kutukannya kepada orang-orang desa, kepada suami kakak dan kepada Bapakku.

Entah bagaimana cerita yang benar, Kakakku yang patuh dan alim itu tiba-tiba dituduh berzina. Suaminya sendiri yang menyeretnya ke halaman masjid sore itu dan meneriakkan kekecewaannya terhadap Kakakku di depan banyak orang. Bapakku di sana, di dekat kakak iparku dan membenarkan perzinahan Kakakku. Kata orang, Bapakku yang memergoki perzinahan itu. Aku datang sangat terlambat bersama Ibu, berusaha menerobos kerumunan orang di depan masjid.

Dalam ingatanku, Kakakku itu menangis dan mengatakan bahwa Bapakku telah salah paham. Dia tak pernah melakukan zina. Sementara suami dan beberapa orang warga mengguyurkan bensin ke tubuhnya. Tepat saat aku dan Ibu hampir berhasil menerobos barisan terdepan, api telah menyambar tubuh Kakak. Ibuku berteriak histeris, meronta seperti orang kesurupan.

Ibuku yang santun itu meneriakkan sumpah serapah pada orang-orang yang menghalangi kami. Beliau bahkan sempat menampar Bapakku begitu tiba di pusat kerumunan.

”Bagaimana mungkin kau tak memercayai penuturan putrimu, biadab! Bukankah Bapakku pernah berkata padamu bahwa aku akan menjadi Ibu, menjadi iketane kalbu1 bagi anak-anakmu!”

Di hadapan kerumunan Ibuku berteriak, ”Aku ibunya, aku yang paling tahu dirinya, dan aku yang paling memercayainya. Dengarkan kalian para penikmat kepalsuan, doa seorang Ibu yang paling diijabahi Gusti Allah adalah kutukannya. Masjid ini adalah saksi, akan tiba saatnya kalian menerima kemurkaan Gusti Allah atas fitnah yang kalian tujukan pada anakku!” itu ucapan terakhir Ibuku sebelum memeluk tubuh Kakak, berharap api yang menjalar menjadi padam. Sore itu, Ibu dan Kakakku mati terpanggang, menyisahkan kisah heroik sekaligus keunikan Ibu untuk terakhir kalinya dalam catatan seribu satu malamku. Makam mereka bahkan menebarkan aroma kembang selama seminggu penuh.

Tepat saat wangi di makam mereka menghilang, masjid desaku terbakar. Rumah Gusti Allah yang banyak dikisahkan selamat dan utuh dari terjangan bencana itu membakar dirinya sendiri. Api besar menjalar cepat, menghanguskan puluhan rumah di dekatnya.

Aku berdiri memandang kobaran api itu dari atap rumah dan menangis mengingat sosok ibuku. Esok paginya kudapati berita bahwa Bapak, kakak iparku dan beberapa orang warga mati tertimpa badan masjid saat membantu memadamkan api.

Keterangan:
1 Ikatan batin

Oleh Fatima Tuzzaroh -Mahasiswa Universitas Negeri Malang, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Aktif mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa Penulis Universitas Negeri Malang untuk mengembangkat minatnya di bidang kepenulisan.