Rektor Unisma Prof Dr Masykuri Bakri (empat dari kanan) membuka deklarasi Asosiasi Dosen Aswaja Nusantara (Asdanu) di Unisma kemarin (17/5).

MALANG KOTA – Satu lagi organisasi pergerakan tingkat nasional lahir di Kota Malang. Setelah ada Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) pada 1990 dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) pada 1998, para civitas academica mendeklarasikan Asosiasi Dosen Aswaja Nusantara (Asdanu).

Sebanyak 107 perguruan tinggi dari Sabang hingga Merauke sepakat membangun masyarakat kampus yang moderat di tengah maraknya gerakan radikalisme. Deklarasi tersebut ditandai dengan sembilan kali dentang gong dan pembacaan ikrar bersama di Universitas Islam Malang (Unisma), kemarin (17/5).

Ikrar dibacakan perwakilan dari tujuh kampus yakni Unisma; Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Sidoarjo; Universitas Islam Raden Rahmat (Unira) Malang; Universitas Sunan Giri Surabaya; Universitas KH Wahab Hasbullah (Unwaha) Jombang; Universitas Hasyim Asy’ari, Tebuireng Jombang; dan Institut KH Abdul Chalim Pacet Mojokerto.

Ketua sekaligus penggagas Asdanu Ali Ashari mengungkapkan bahwa organisasi tersebut bertujuan mengampanyekan nilai-nilai keislaman yang moderat dan ramah sebagai tulang punggung pengetahuan agama di kampus-kampus.

”Awalnya hanya perbincangan akan kegelisahan yang muncul akibat maraknya pergerakan paham radikalisme di kampus. Lalu kami membuka ruang diskusi melalui grup WhatsApp (WA),” ujar Ali di tengah deklarasi.

Dari perbincangan tersebut, disepakati pembentukan Asdanu oleh 107 perguruan tinggi. Meski demikian, yang hadir dalam seminar dan deklarasi tersebut baru perwakilan dari 47 perguruan tinggi, termasuk perwakilan dari Aceh, Mamuju, serta kampus-kampus lain di luar Jawa.

Menurut Ali, yang bergabung bukan hanya kampus di bawah bimbingan Nahdlatul Ulama (NU) saja, melainkan kampus-kampus yang mengusung semangat moderat dan plurarisme.

”Ada kampus-kampus seperti Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama) dan juga kampus-kampus negeri yang mendukung,” urai ketua Lembaga Pengkajian Islam dan Keaswajaan (LPIK) Unisma itu.

Ali menuturkan, target Asdanu adalah menjadi pintu kolaborasi atau wadah untuk menguatkan gerakan deradikalisasi dan independensi warga kampus. Termasuk melakukan kajian-kajian bersama secara rutin.

”Seperti dalam kegiatan kali ini, bukan hanya deklarasi tetapi juga paparan dan kajian bersama 75 makalah ilmiah dari anggota Asdanu,” terangnya.

Dalam deklarasi tersebut, juga disertai seminar nasional dengan tema Membangun Masyarakat Kampus yang Berwawasan Ahlussunnah wal Jamaah. Seminar tersebut menghadirkan sejumlah pembicara. Di antaranya Ketua Dewan Pembina Unisma KH Tholchah Hasan, Rektor Unisma Prof Dr Masykuri Bakri, dan Pemimpin Redaksi (Pemred) Jawa Pos Marsudi Nurwahid.

Dalam sambutannya, Masykuri mengungkapkan bahwa kehadiran Asdanu diharapkan dapat menjadi pemicu perubahan.

”Asdanu ini semoga memicu pada perubahan yang lebih baik. Dari statis menjadi kreatif serta dinamis,” tuturnya.

Dia berharap, deklarasi tersebut tidak sekadar perayaan semata. ”Semoga tidak cuma euforia. Banyak wacana yang digagas, tapi harus konkret dan diaktualisasikan di dunia nyata,” tegasnya.

Pewarta: Nurlayla Ratri
Penyunting: Abdul Muntholib
Foto: Darmono