Visi khusnul khatimah, sudah pasti menjadi visi semua muslimin dan muslimah. Kita semua selalu berlomba-lomba dalam kebaikan untuk mencapai visi tersebut. Predikat khusnul khatimah hanya dapat diperoleh ketika kita sudah dipanggil untuk menghadap Allah Yang Maha Kuasa. Semoga kita semua khusnul khatimah, aamiin. Tulisan ini merupakan ungkapan rasa syukur dengan tujuan untuk memotivasi pembaca, tidak ada manusia yang sempurna, beberapa pengalaman baik disebarkan dengan harapan menjadi pelajaran yang memotivasi.

Locus of Control saya termasuk pada eksternal, saya punya keyakinan bahwa apa yang saya raih selama ini hanya karena kehendak Allah semata, yang telah mengabulkan doa orang tua. Saya percaya akan nasib dan takdir baik. Saya yakin dan optimistis, Allah akan selalu bersama orang-orang yang mempunyai niat baik dan selalu berprasangka baik.

Saya bersyukur pada akhirnya Allah telah menakdirkan saya berkarir sebagai guru. Semula ini bukan menjadi cita-cita saya, tapi lebih menjadi cita-cita orang tua saya. Sejak kecil cita-cita saya ingin menjadi dokter, tapi Allah telah menundanya. Oleh Allah, profesi dokter itu justru diberikan pada putri bungsu saya. Alhamdulillah, profesi mulia yang dapat secara langsung memberikan perhatian pada orang yang menderita sakit.

Perjalanan karir saya dimulai dari ketika lulus sarjana S-1, mulai bekerja menjadi dosen (guru). Sejak awal saya masuk, sudah berniat untuk selamanya akan mengabdikan diri di Unmer Malang, walau ketika saya baru lulus S-3 dari UGM (dengan predikat cum laude) banyak ditawari untuk pindah ke PTS/PTN lain (maupun sebagai praktisi akuntan). Karena saat 2001, di Indonesia masih jarang doktor akuntansi.

Pada tahun 2002–2006, saya sempat mondar-mandir Malang–Jakarta hampir setiap minggu, saat itu saya diberi amanah untuk terlibat dalam organisasi profesi Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) Pusat Jakarta, menjadi anggota Dewan Standar Akuntansi Keuangan. Pada saat itu saya mengoptimalkan waktu saya dengan menambah pekerjaan sebagai dosen tidak tetap di PTS yang cukup ternama di Jakarta dan sebagai independent consultant di STAR SDP PLMU, Asian Development Bank-Departemen Keuangan RI.

Walau hanya dalam waktu yang singkat, pengalaman menjadi praktisi sangat berarti dan melengkapi modal saya untuk sampai pada pengukuhan guru besar. Saya sangat bersyukur Allah telah memberi kesempatan saya untuk melihat betapa orang tua, terutama ayah saya, tampak sangat bahagia dan bangga ketika saya dikukuhkan menjadi guru besar. ”Alhamdulilah, putriku menjadi guru”…kata ayah lirih….profesi yang mulia dan menjadi ladang ibadah, jika kita dapat melakukannya dengan penuh rasa cinta dan ikhlas. Ikhlas memberikan ilmu yang bermanfaat dan mencintai anak didik dengan penuh rasa kasih sayang.

Bagi saya, kesuksesan karir bukan dari jabatan atau menjadi apa kita, tapi lebih pada bagaimana kita sudah berkontribusi dan bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungannya. Kesuksesan kita hari ini, sesungguhnya merupakan hasil dari kesuksesan orang tua kita yang dengan penuh perjuangan telah mendidik dengan penuh rasa cinta. Lantas, kapan kita dapat dikatakan sukses? Sukses kita ketika kita dapat mengantarkan putra-putri kita untuk menjadi mandiri, mampu bersyukur dengan apa pun kondisi yang telah dialaminya.

Perjalanan karir saya merupakan indikator kesuksesan yang terukur di bidang pendidikan, Alhamdulillah, saya mensyukuri semua tahapan, ada kalanya menyenangkan dan ada kalanya penuh perjuangan. Apa pun kondisinya, kita patut bersyukur karena Allah akan menambahnya dengan kesuksesan berikutnya. Semuanya sukses, tidak ada kata gagal, yang ada hanyalah kesuksesan yang tertunda ketika semua yang direncanakan tidak sesuai yang diharapkan. Keyakinan bahwa Tuhan akan selalu memberi yang terbaik, telah ditanamkan kedua orang tua saya. Sesungguhnya, semua bergantung pada bagaimana kita menyikapinya, maka selalulah berdoa dan berprasangka baik agar kebaikan akan terwujud. Terima kasih. (c2/abm)

Prof Dr Grahita Chandrarin MSi Ak CA, Direktur Program Pascasarjana Unmer Malang