TAK banyak perempuan yang bekerja sebagai barber (tukang cukur). Yusria Dewi Eprieni Monding adalah satu di antara segelintir perempuan tersebut. Berbekal kepiawaiannya memangkas rambut, Ria dipercaya sebagai barber di Richdjoe Barbershop yang berlokasi di Jalan Sigura-gura 2, Kelurahan Sumbersari, Kecamatan Lowokwaru.

Saat Jawa Pos Radar Malang menghampirinya di Richdjoe Barbershop, Ria tampak serius melayani pelanggannya. Bungsu dari dua bersaudara itu menunjukkan gambar yang menampilkan beberapa model rambut pria kepada pelanggannya. Itu dilakukan terhadap setiap pelanggannya yang mayoritas laki-laki. Tujuannya, untuk mengetahui model rambut yang diinginkan pelanggannya.

Dalam satu hari, biasanya Ria melayani 5–6 pelanggan. ”Pernah ada pemain bola datang ke sini (memangkas rambut). Dia datang pake kaus tanpa lengan. (Dia) tinggi, besar, wangi, dan ganteng. Saya kira pemain basket,” tutur Ria.

Bila dihitung, kini perempuan 20 tahun itu sudah menjadi barber selama 1 tahun lebih 6 bulan. Banyak model rambut yang sudah dia hasilkan. Namun, bekerja di bidang jasa itu membuatnya menyadari satu hal, bahwa memuaskan pengguna jasa itu penting.

Ria bercerita, dia pernah melakukan kesalahan fatal. Saat itu, salah memangkas rambut. Namun, dengan keahliannya, Ria mengubahnya menjadi bagus.

”Saya ubah menjadi model hight fade (bagian belakang dan samping dipangkas habis, sementara bagian atasnya dibiarkan tebal),” kata putri pasangan Yus Bernard Monding dan Sri Handayani itu.

Pengalamannya menjadi barber membuat Ria menemukan filosofi hidup. ”Kalau bisa, menjadi perempuan itu tidak boleh bergantung kepada laki-laki,” kata alumnus SMPN 16 Malang itu.

Pewarta: NR4
Penyunting: Mahmudan
Copy editor: Arief Rohman
Foto: Yusria Dewi